CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
KINARA MENJEMPUT ZIAN


__ADS_3

Kinara menatap bocah kecil yang saat ini sedang berdiri di depan gerbang sekolah menunggu jemputan sopir. Seharusnya, sang sopir yang bertugas menjemput Zian sudah datang.


Namun, dalam perjalanan sang sopir mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak oleh seseorang dari belakang sehingga mobil itu keluar jalur dan menabrak pembatas jalan.


Kinara mendekati Zian yang menatapnya dengan tajam. Bocah kecil itu menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Zian, Sayang, ini mama. Kamu masih ingat kalau aku ini mama kamu 'kan?" Kinara berniat memeluk Zian, tetapi bocah berusia delapan tahun lebih itu mundur, menghindari Kinara.


"Zian ...." Hati Kinara bergetar saat mendapat penolakan dari putranya.


"Sayang, Mama sudah izin sama papa kamu untuk menjemputmu hari ini. Sopir pribadi yang biasa menjemput kamu mengalami kecelakaan," ucap Kinara membuat Zian merasa terkejut.


"Kecelakaan?"


"Iya, Sayang. Mobilnya ditabrak orang. Sekarang pak sopirnya sudah dibawa ke rumah sakit. Kamu pulang sama mama ya, Sayang." Kinara mencoba membujuk Zian.


"Ayo! Mobil mama di sana." Kinara menunjuk mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

__ADS_1


Zian yang masih terkejut dengan kabar tentang sopir pribadi yang biasa mengantarkannya hanya terdiam. Anak lelaki itu menurut saja saat Kinara menuntunnya menuju mobil.


Zian ingin bertanya pada Kinara, tetapi, mulutnya merasa enggan. Bocah lelaki itu merasa bingung akan memanggil Kinara dengan sebutan apa. Dia ingin memanggil Mama, tetapi, hati kecilnya melarang. Zian takut Kinara menolak panggilannya.


Rasa trauma saat ditinggalkan Kinara masih membekas di kepalanya. Zian tidak ingin berdekatan dengan wanita yang merupakan ibu kandungnya itu karena dia takut setelah dirinya mulai menerima Kinara lagi sebagai ibunya, perempuan itu akan meninggalkannya lagi.


Kinara tersenyum setelah berhasil membawa Zian masuk ke dalam mobilnya.


Mobil itu meluncur meninggalkan area sekolah.


Sang ayah menelepon dan menyuruhnya menjemput Zian karena sopir pribadi yang biasa menjemputnya mengalami kecelakaan. Raditya yang saat itu memang sedang berada tidak jauh dari sekolah adiknya menyetujui perintah sang ayah.


Raditya turun dari mobil. Lelaki itu bertanya pada penjaga sekolah. Namun, saat Raditya bertanya tentang Zian, sang penjaga sekolah mengatakan kalau Zian baru saja dijemput oleh seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya.


Kinara memang sempat mengatakan pada penjaga sekolah kalau dia adalah ibunya Zian. Saat penjaga sekolah itu bertanya pada Zian, anak lelaki itu membenarkan jika Kinara adalah ibunya.


Mendengar penuturan penjaga sekolah itu, Raditya buru-buru menelepon sang ayah. Raditya ingin memastikan pada sang papa apa benar papanya itu mengijinkan Kinara menjemput Zian.

__ADS_1


"Ibu Kinara mengatakan kalau dia sudah mendapatkan ijin dari papanya Zian untuk menjemputnya karena sopir yang biasa menjemputnya mengalami kecelakaan," terang sang penjaga sekolah. Lelaki berusia sekitar empat puluh tahunan itu terlihat cemas karena merasa takut.


Dia takut kalau wanita itu hanya modus dan mengaku-ngaku sebagai ibunya Zian. Pak penjaga sekolah takut kalau wanita itu adalah seorang penculik yang berniat menculik Zian.


"Halo, Pa. Apa Papa menyuruh Kinara menjemput Zian?" ucap Raditya dengan nada khawatir. Pikirannya tidak tenang saat mendengar Kinara membawa Zian.


Raditya sangat tahu siapa Kinara. Wanita licik itu pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan semua keinginannya. Apalagi, selama ini Galang selalu menghalangi Kinara untuk bertemu dengan Zian.


"Kinara?"


"Iya, Pa. Aku udah sampai di depan sekolah Zian, tapi penjaga sekolah mengatakan kalau Zian sudah dijemput Kinara atas perintah Papa."


"Papa tidak pernah menyuruh Kinara untuk menjemput Zian, Radit! Papa hanya meneleponmu!" teriak Galang dari seberang telepon.


"Tapi dari mana Kinara tahu kalau sopir yang biasa menjemput Zian mengalami kecelakaan?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2