CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
MENCOBA MENERIMA


__ADS_3

Lauren menatap wajah tampan Raditya yang tertidur pulas di atas sofa. Semenjak pernikahannya dengan Raditya, pria itu memang selalu tidur di sofa, kecuali saat lelaki itu ketiduran di atas ranjang miliknya setelah memijat kaki dan mengusap perutnya.


Saat Lauren tidak bisa tidur, Raditya akan naik ke atas ranjang dan mengusap perut dan juga pinggangnya sampai akhirnya mereka berdua tertidur bersama sampai pagi.


"Aku ingin sekali mencoba menerimanya tetapi, selalu ada keraguan dalam hatiku aku takut dia mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukannya pada Dara.


Meskipun berulang kali dia menjelaskan dan meminta kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, tetap saja aku masih meragukannya.


Akan tetapi, aku tidak bisa memungkiri perasaanku padanya. Biar bagaimanapun, Raditya sudah melakukan banyak hal untukku. Apa aku harus mencoba menerimanya seperti yang selama ini dia inginkan?" batin Lauren.


Lauren menghela napas panjang. Wanita hamil itu kemudian memalingkan pandangannya dari wajah Raditya. Kedua matanya terpejam. Semua ucapan Raditya terngiang di telinganya.


"Jika suatu saat aku melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan yang aku lakukan pada Dara, Kakak boleh melakukan hal yang sama seperti yang pernah Dara lakukan padaku. Meninggalkan aku dalam keadaan terpuruk dan tidak punya apa-apa."


Lauren mengembuskan napas panjang, hatinya merasa galau antara mencoba menerima Raditya atau mempertahankan egonya, rasa ragu dan ketakutannya.


Raditya sudah dengan jelas mengakui perasaan cintanya pada Lauren. Akankah Lauren akan bertahan dengan kemarahan, kebencian, dan kekecewaan yang sampai sekarang masih Lauren rasakan? Apalagi, saat mengenang kejadian malam itu.


Akan tetapi, bukankah kejadian itu juga tidak sengaja Raditya lakukan? Seandainya saja pria itu tidak sedang dalam pengaruh alkohol, Raditya juga tidak akan melakukan hal yang menghancurkan hidupnya.


"Ah! Kenapa aku jadi pusing begini?" batin Lauren.


Bersama Raditya, dia merasa senang, merasa kesal, tetapi, juga merasakan kebahagiaan sekaligus. Apalagi, perlakuan Raditya yang begitu manis akhir-akhir ini.

__ADS_1


Lauren dibuat melayang oleh pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Akan tetapi, lagi-lagi keraguan dalam hatinya muncul.


"Apa Kakak tidak sedikitpun menyukaiku? Apa aku sebegitu buruk hingga Kakak tidak memberiku kesempatan untuk selalu bersamamu?


Aku mencintaimu, Kak. Aku mencintaimu. Saat ini, dan selamanya aku hanya ingin bersamamu."


Semua kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Raditya terus saja terngiang di telinganya. Lauren kembali membuka matanya. Wanita hamil itu terkejut saat melihat wajah tampan Raditya kini sudah berada di hadapannya.


"Kau mengagetkanku, Radit!" pekik Lauren.


Raditya tersenyum dengan wajah bantal yang sialnya justru terlihat sangat menarik di hadapan Lauren.


"Kenapa Kakak belum tidur?" Raditya berbaring di samping Lauren. Tanpa permisi, lelaki itu menarik tubuh Lauren ke dalam pelukannya.


"Kenapa kamu bangun?"


"Aku tidak tahu, tiba-tiba aku terbangun dan melihat Kakak sedang gelisah. Kenapa belum tidur? Apa ada yang mengganggu pikiran Kakak?" Raditya berkata dengan masih memejamkan mata.


"Kamu! Kamu yang menggangu pikiranku," batin Lauren kesal.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak bisa tidur saja."


"Kenapa tidak bisa tidur? Apa pinggangmu sakit? Atau perutmu sakit?" Raditya kembali khawatir. Lelaki itu mengulang-ngulang pertanyaannya. Merasa khawatir, Raditya menatap Lauren dengan seksama.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Tenanglah!"


"Beneran?" Lauren menganggukkan kepalanya.


Raditya bernapas lega mendengar ucapan wanita itu.


"Radit–"


"Kak, besok aku keluar kota. Kakak tidak apa-apa 'kan, jika aku tinggal selama beberapa hari di rumah?"


Lauren menatap Raditya dengan tatapan tak percaya. Semua ucapan yang akan dia keluarkan dari mulutnya tertelan kembali di tenggorokan.


"Berapa lama?"


"Paling cepat dua hari. Kakak tidak apa-apa 'kan aku tinggal? Aku akan menyuruh Monika tinggal di sini untuk menemani Kakak." Raditya merapikan rambut Lauren, kemudian mencium kening wanita itu.


"Pekerjaanku tidak bisa diwakilkan di sana, karena mereka memerlukan kehadiranku," jelas Raditya saat melihat wajah mendung istrinya.


Raditya sangat mengerti, Lauren pasti keberatan. Sebenarnya, Raditya sendiri pun merasa keberatan, tetapi, pekerjaan itu menuntutnya untuk datang, tidak bisa diwakilkan seperti biasanya.


"Kamu tidak apa-apa 'kan, aku tinggal sebentar?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1



__ADS_2