
"Kinara!"
Kinara menoleh ke arah suara.
"Ma–Mas Galang?" Kedua mata Kinara membola melihat setelah melihat siapa orang yang memanggilnya.
Di sana, bukan hanya ada Galang, tetapi, juga sosok anak kecil yang baru saja ia perdebatkan dengan Raditya. Seorang wanita hamil juga berdiri di sana, di belakang Galang yang duduk menggunakan kursi roda.
Wanita itu adalah Lauren. Istri Raditya itu datang bersama dengan Zian dan Galang. Hari ini, Galang ada pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan. Oleh karena itu, dia datang ke kantor hari ini.
Lauren yang kebetulan juga akan berangkat ke kantor menyusul Raditya, terlebih dahulu menunggu sang bapak mertua menjemputnya. Setelah mendapatkan telepon dari Galang yang menanyakan tentang Raditya sedang di kantor atau tidak, Lauren yang berniat menemui Raditya mengatakan pada mertuanya agar mereka berangkat bersama.
Apalagi, Zian juga ikut. Mertuanya itu pasti akan kewalahan jika bocah kecil itu ikut.
"Ngapain kamu di sini? Kenapa kamu membuat keributan di kantor Raditya?" Suara Galang menggelegar.
"A–Aku ...." Kinara tergagap mendengar ucapan Galang.
__ADS_1
"Sepertinya aku terlalu berbaik hati padamu, sampai-sampai kamu masih berani berkeliaran di sekitar putraku."
"Apa? Pu–Putramu?" Kinara melotot mendengar ucapan Galang.
"Putramu? Raditya putramu?" ulang Kinara
menatap tak percaya pada pria paruh baya yang kini duduk di atas kursi roda.
Pria yang pernah dekat dengannya sekaligus pria yang merupakan ayah dari Zian itu tampak terlihat sangat marah. Sementara itu, Kinara justru merasa terkejut mengetahui kenyataan kalau Raditya ternyata adalah anak dari Galang, lelaki yang dulu pernah bersamanya hingga akhirnya dia
hamil.
"Tidak mungkin. Kamu pasti bohong! Raditya tidak mungkin anakmu. Raditya itu anaknya pak Pratama dan bu Mira, mantan mertuaku. Bagaimana bisa tiba-tiba dia menjadi anakmu?" Kinara masih tidak percaya dengan ucapan Galang.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas, Raditya adalah putraku, darah dagingku! Jika kamu berani mengganggunya, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu!"
Kinara menggeleng pelan.
__ADS_1
"Tidak mungkin, jika benar Raditya itu adalah anakmu, berarti dia dan Zian adalah kakak adik?" Kinara menatap bocah kecil yang saat ini sedang menatapnya tanpa berkedip.
Hatinya berdesir melihat wajah putranya yang sudah beberapa tahun ini tinggal bersama Galang. Kinara memberikan anak yang dulu dilahirkannya itu pada Galang karena dia merasa tidak sanggup jika hidup bersama Galang.
Kinara yang hidup sendirian tanpa penghasilan jelas tidak akan sanggup jika harus membawa anak itu bersamanya. Apalagi, Zian masih kecil.
Kinara tidak mau jika harus direpotkan oleh Zian. Wanita itu merasa, kalau Zian adalah beban untuknya. Dia tidak merasa bebas jika harus membawa Zian ikut bersamanya. Oleh karena itu, dulu, setelah berpisah dengan Raditya, Kinara langsung mencari Galang dan memberikan anak itu padanya.
"Jadi, sekarang kamu mengakui kalau Zian bukanlah anakku?" Raditya tersenyum sinis menatap Kinara.
"Dasar sampah! Otakmu itu penuh dengan kebohongan! Aku dan papaku sungguh sial karena pernah mengenal perempuan iblis sepertimu!"
"Raditya ...."
Kata-kata Raditya begitu tajam menusuk hati Kinara. Wanita itu menatap ke arah Raditya dengan tatapan tak percaya. Lelaki yang dulu sangat mencintainya itu memang telah berubah. Kinara bahkan bisa melihat pancaran kebencian dari mata Raditya yang tertuju padanya.
"Pergi dan jangan pernah menggangguku lagi!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....