
Lima tahun kemudian ....
"Sayang ...." Raditya mendekati Lauren yang baru saja selesai mandi.
Melihat istrinya terlihat segar dan cantik, Raditya langsung menempel seperti perangko.
"Mas!" pekik Lauren saat tangan Raditya bergerak nakal melepas handuk yang melekat pada tubuhnya.
Raditya tertawa pelan melihat wajah cemberut Lauren yang memerah. Raditya mengusap perut buncit Lauren yang terlihat seksi di matanya.
Ini adalah kehamilan Lauren yang ketiga selama lima tahun pernikahan mereka. Setelah Arsenio berusia dua tahun, Lauren kembali hamil anak kedua mereka.
Kini, anak kedua mereka sudah berusia dua tahun, Lauren kembali hamil anak ketiga. Raditya merasa sangat bangga karena dirinya berhasil membuat istrinya kembali hamil.
Rasa takut saat melihat istrinya melahirkan ternyata tidak membuat Raditya kapok menghamili Lauren. Apalagi, saat Lauren pun merasa senang dengan kehamilannya.
Perempuan itu memang berencana ingin mempunyai banyak anak. Keinginannya itu tentu saja disambut baik oleh Raditya. Namun, Raditya tentu saja tidak ingin mengambil resiko jika nantinya Lauren benar-benar mewujudkan impiannya menjadi ibu beranak banyak.
Kesehatan istrinya jauh lebih penting. Tiga anak sudah cukup buat Raditya. Namun, ternyata tidak bagi Lauren.
"Kamu seksi banget sih?" Raditya mulai melancarkan aksinya.
"Tadi 'kan udah Mas, masa mau lagi sih? Baru juga selesai mandi." Lauren mencebik kesal. Namun, tubuhnya justru merespon sentuhan-sentuhan liar suaminya.
"Salah sendiri begitu menggoda." Raditya membungkam mulut Lauren dengan bibirnya sebelum wanita hamil itu memprotes perbuatannya.
Raditya mengangkat tubuh polos istrinya ke atas ranjang. Mereka berdua akhirnya kembali bertarung, mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk mencapai kenikmatan surga dunia.
Raditya tersenyum puas melihat sang istri yang terkapar tidak berdaya. Wanita itu membaringkan tubuhnya setelah Raditya berhasil membuatnya menjerit nikmat berkali-kali.
__ADS_1
"Kau sungguh keterlaluan!" Lauren berucap kesal sambil menetralkan deru napasnya yang memburu. Wanita itu mengusap perutnya yang membuncit.
Raditya terkekeh melihat kekesalan Lauren. Wanita hamil itu terlihat begitu menggemaskan. Saat mereka sedang bermain, Raditya jelas-jelas melihat kalau perempuan itu sangat menikmati dan merasa sangat puas, tetapi, setelah permainan mereka berakhir, istrinya itu pura-pura merasa kesal.
Raditya tahu, Lauren pura-pura merasa kesal untuk menutupi rasa malunya. Kehamilan anak kedua dan ketiganya sungguh membawa keberuntungan untuk Raditya karena gairah Lauren bertambah saat hamil.
Perempuan itu sangat mudah terpancing. Bahkan tidak jarang, Lauren sendiri yang mulai merayunya dan meminta untuk dipuaskan. Sebagai suami siaga, Raditya jelas tidak akan melewatkan sesuatu yang menguntungkan jiwa dan raganya.
Raditya mendekap tubuh Lauren yang basah oleh keringat akibat perbuatannya. Lelaki itu mencium istrinya berkali-kali hingga membuat Lauren semakin kesal saat merasakan sesuatu yang mengeras menempel pada bagian tubuh bawahnya.
"Ih! Nyebelin banget sih, kamu, Mas."
"Nyebelin tapi kamu suka 'kan?" Raditya mulai melancarkan aksinya.
"Mas Radit!"
***
Raditya yang saat itu baru saja selesai mandi setelah berperang dengan Lauren mendekati putranya kemudian langsung menggendongnya.
Untung saja dirinya sudah memakai baju dan Lauren sudah masuk ke kamar mandi. Kalau tidak, bocah kecil itu pasti akan melihat apa yang telah dilakukannya pada sang istri.
Raditya membawa Aron keluar dari kamar. Lelaki itu menciumi wajah tampan putranya berkali-kali membuat bocah kecil berusia dua tahun itu tertawa karena merasa geli.
Raditya menurunkan Aron di atas sofa di ruang keluarga. Di sana, terlihat Arsenio sedang asyik bermain mobil-mobilan.
"Kenapa nggak main bareng sama Abang?" Raditya melirik ke arah putra pertamanya yang terlihat kesal.
"Males aku, Pa. Aron bisanya cuma berantakin mainan aku, abis itu ditinggal." Bibir Arsenio mengerucut membuat Raditya tertawa pelan.
__ADS_1
"Abang lagi marahan sama Aron?" Raditya mengusap kepala Aron. Bocah kecil itu kini asyik menyedot susu dari botol yang baru saja diberikan oleh pengasuhnya.
Sementara itu, Arsenio mencebik kesal mendengar pertanyaan sang ayah.
"Sini, Sayang." Raditya menepuk pahanya. Menyuruh bocah berusia empat tahun itu duduk di pangkuannya.
Arsenio menurut. Dia bangkit dari duduknya kemudian mendekat ke arah Raditya dan duduk di pangkuan sang ayah.
"Sayang, Aron itu masih kecil, belum ngerti. Jadi, untuk sementara kamu yang ngalah dulu ya," ucap Raditya lembut sambil mengusap kepala putranya.
Lelaki itu juga mencium gemas kedua pipi Arsenio.
"Papa!" Arsenio kembali cemberut. Putra pertamanya itu memang sangat mirip dengan Lauren. Suka ngambek dan terlihat menggemaskan saat sedang marah.
Tidak jauh dari mereka, Lauren menatap ketiga lelaki beda generasi yang sangat dia cintai. Lauren sungguh beruntung mempunyai suami yang sangat bertanggung jawab seperti Raditya.
Dia juga merasa bahagia karena mempunyai dua orang anak laki-laki yang begitu tampan. Lauren sungguh sangat bersyukur karena Tuhan memberikan begitu banyak kebaikan pada keluarga mereka.
"Terima kasih Tuhan, karena telah mengirimkan lelaki baik seperti Raditya," batin Lauren.
Meskipun hubungan mereka berawal dari kesalahan, tetapi, Lauren sungguh merasa beruntung bisa menjadi istri Raditya Pratama. Lelaki yang dulu sangat dibencinya karena telah merenggut paksa sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
"Sayang, kamu melamun?" Raditya mendekati sang istri yang terlihat tidak menyadari kedatangannya.
Lauren tersentak mendengar suara Raditya. Wanita itu tersenyum menatap suaminya. Lauren melingkarkan tangannya memeluk tubuh Raditya.
"Aku mencintaimu, Mas."
Raditya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Bibirnya bergerak mengecup lembut bibir Lauren.
__ADS_1
"Aku lebih-lebih mencintaimu, Sayang."
TAMAT