
"Kenapa kau ingin tahu tentang Raditya?" Suara seorang lelaki yang kini sedang bermain di atas tubuh Kinara terdengar terengah-engah.
"Aku hanya merasa penasaran. Aku baru pertama kali melihat dia." Kinara tidak bisa menahan desa*han*nya saat lelaki itu bergerak semakin cepat dan akhirnya ambruk di atas tubuhnya.
"Memangnya uang dariku tidak cukup sampai-sampai kau ingin mencari tahu tentang Raditya?" Lelaki berperut buncit itu menatap wajah cantik Kinara dengan napas naik turun.
"Aku hanya penasaran, Sayang." Kinara tersenyum sambil mengusap wajah penuh keringat lelaki paruh baya itu.
"Penasaran ingin menidurinya?" Lelaki itu menatap Kinara tak suka.
"Sayang, apa kamu sedang cemburu?" Kinara berbicara dengan genit.
"Kamu tahu siapa aku 'kan, Sayang?" Tangan Kinara bergerak liar, kembali merayu lelaki yang belum sampai sepuluh menit itu memuaskannya.
Lelaki paruh baya itu tidak kuasa jika Kinara sudah mulai bermain. Dia akan bertekuk lutut pada wanita itu.
__ADS_1
"Aku ini wanita bebas, Sayang. Aku berhak bermain dengan lelaki manapun yang aku suka. Termasuk bermain dengan dirimu." Bibir seksi Kinara langsung membungkam mulut pria itu sebelum dia mengeluarkan kata-katanya.
****
Kinara tersenyum cantik. Perempuan itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju kantor Raditya.
Penampilannya yang begitu menarik membuat resepsionis membiarkan wanita itu masuk karena Kinara mengatakan kalau dirinya ingin bertemu dengan Raditya dan sudah membuat janji.
Kinara melenggang dengan cantik setelah menanyakan di mana ruangan Raditya. Bibirnya menyunggingkan senyum saat dengan begitu mudahnya orang percaya padanya. Hanya dengan menunjukkan foto lamanya bersama dengan Raditya, sang resepsionis dengan begitu mudah membiarkannya masuk.
Raditya baru saja selesai meeting saat mendengar suara ketukan pintu. Lelaki itu kemudian menyuruh masuk tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop.
Raditya tidak tenang meninggalkan Lauren sendirian di rumah. Meskipun ada asisten rumah tangga yang menemaninya, tetap saja, Raditya tidak merasa tenang.
Apalagi, usia kehamilan Lauren sudah delapan bulan lebih. Mereka saat ini hanya tinggal menunggu hari kelahiran anak mereka.
__ADS_1
"Halo, Sayang, aku tidak menyangka jika kamu bisa menjadi sehebat ini setelah berpisah denganku." Suara Kinara membuat Raditya merasa terkejut.
"Kau! Bagaimana kau bisa sampai di sini?" Kedua mata Raditya melotot. Antara merasa kesal dan kaget karena melihat mantan istrinya itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
"Tentu saja aku bisa sampai ke sini. Aku hanya tinggal menunjukkan foto mesra kita pada resepsionis, beres!" ucap Kinara, wanita itu mendekati Raditya dengan tidak tahu malu.
Raditya yang mendengar pengakuan Kinara mengepalkan kedua tangannya. Resepsionis mana yang begitu bodoh mengizinkan orang seperti Kinara masuk ke dalam kantornya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku menggunakan kekerasan." Raditya mengancam Kinara. Namun, seperti biasanya, wanita itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Raditya.
"Aku tidak mau pergi dari sini setelah susah payah aku berhasil mendapatkan alamat tempat kamu bekerja." Kinara mendekati Raditya dengan senyum tersungging pada wajahnya.
Raditya bangkit kemudian menghindar dari Kinara. Lelaki itu dengan kesal meninggalkan kursi kebesarannya kemudian menyeret tangan Kinara dengan kasar.
Raditya membuka pintu, kemudian mendorong tubuh Kinara hingga terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Dasar, Wanita ******!"
BERSAMBUNG ....