CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
JANGAN MENYENTUHKU!


__ADS_3

Raditya menggandeng tangan istrinya sambil sesekali mencium punggung tangannya. Lelaki itu terlihat sangat bucin pada istrinya.


Beberapa saat lalu, setelah mereka berdua menikmati surga dunia yang membuat mereka kelelahan, mereka tertidur hingga sampai jam makan siang.


Mereka berdua langsung menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Lauren.


Raditya sungguh sangat antusias saat melihat calon ayahnya yang terlihat pada monitor saat sang dokter melakukan USG pada istrinya.


"Bayinya sehat. Semuanya bagus. Ibu dan Bapak hanya tinggal menunggu kelahirannya saja," ucap dokter sambil tersenyum.


"Terima kasih, Dokter."


Raditya dan Lauren begitu senang mendengar ucapan dokter.


Selain USG, sepasang suami istri itu juga berkonsultasi pada dokter tentang persalinan. Raditya menginginkan operasi sesar karena tidak tega pada Lauren. Raditya tidak sanggup melihat istrinya itu kesakitan.


Namun, Lauren justru menginginkan melahirkan secara normal. Lauren mengatakan pada Raditya jika dia sanggup melahirkan secara normal. Apalagi, saat dokter mengatakan kalau kondisinya bayi mereka sangat sehat.


"Kamu yakin, Sayang?" Raditya menatap istrinya yang menganggukkan kepala.


"Baiklah, kalau itu mau kamu. Tapi, kalau kamu tidak sanggup, aku akan meminta dokter untuk melakukan operasi."


Lagi-lagi Lauren mengangguk mendengar ucapan suaminya. Sang dokter pun tersenyum melihat Raditya dan Lauren.


Mereka sungguh pasangan yang sangat serasi dan mengerti satu sama lain. Tidak ada drama ngotot-ngototan seperti yang biasanya terjadi pada pasiennya yang lain.

__ADS_1


"Jadi suami yang siaga ya, Pak. Kalian berdua hanya tinggal menunggu hari menanti kelahiran sang buah hati."


"Terima kasih, Dokter."


***


Raditya dan istrinya sampai di dalam pusat perbelanjaan. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju toko-toko yang menjual perlengkapan bayi.


Raditya dan Lauren, saat itu memang sepakat untuk membeli perlengkapan bayi untuk calon anak mereka saat usia kehamilan Lauren menginjak sembilan bulan.


Sebenarnya, Raditya tidak terlalu mempermasalahkan, dia hanya mengikuti keinginan sang istri, dan menurutnya, apa yang dikatakan oleh istrinya memang benar. Mereka akan mempersiapkan segala sesuatunya saat sang buah hati sudah menunggu hari H untuk segera lahir ke dunia.


Mereka berdua bahkan belum mempersiapkan kamar bayi untuk calon anak mereka. Lauren mengatakan pada Raditya jika dia ingin anaknya tinggal di kamar mereka.


Sepertinya, sepulang dari belanja, Raditya akan berdiskusi dengan istrinya untuk mulai mempersiapkan kamar juga untuk calon anak mereka.


Lauren begitu antusias saat memilih beberapa baju untuk calon anaknya. Berdasarkan hasil USG, anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Lauren sangat senang dan merasa bersyukur karena anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Meskipun sebenarnya, Lauren lebih menginginkan anak perempuan. Akan tetapi, bukankah laki-laki dan perempuan juga sama saja? Yang terpenting bayinya sehat dan normal.


"Ini lucu banget!" Lauren memperlihatkan sepasang sepatu bayi pada Raditya.


"Ambil saja. Bila perlu, kita borong saja semua yang ada di toko ini," jawab Raditya santai.


"Kita beli saja yang perlu dan bakal dipakai sama dia." Lauren mengusap perutnya sambil kembali melihat dan memilih-milih apa saja yang diperlukan oleh calon anaknya.


"Uangku tidak akan habis hanya untuk memborong semua barang yang ada di sini, Sayang." Raditya kembali berucap membuat Lauren mencubit pinggangnya.

__ADS_1


"Tidak usah sombong! Bayi yang baru lahir itu pertumbuhannya cepat. Kalau kita membeli terlalu banyak nanti mubazir, nggak bakalan terpakai," jelas Lauren dengan kesal.


Suaminya memang banyak uang, tetapi, dia tidak suka membeli barang yang akhirnya tidak terpakai.


Setelah beberapa saat lamanya mereka memilih beberapa perlengkapan bayi untuk calon anak mereka, sepasang suami istri itu keluar dari toko.


Raditya menyuruh orang untuk membawa barang belanjaannya ke mobil mereka. Kebetulan, saat menuju rumah sakit dan pusat perbelanjaan tadi, Raditya mengajak sopir pribadinya.


Sementara itu, dia dan istrinya mencari restoran yang masih berada dalam area pusat perbelanjaan. Sang istri merasa lapar karena waktu memang sudah menunjukkan lewat jam makan siang.


Untung saja, mereka sempat makan di kantin rumah sakit beberapa saat lalu. Kalau tidak, Lauren pasti sudah mengeluh kelaparan semenjak tadi.


Sepasang suami istri itu baru saja akan masuk ke dalam restoran saat seseorang tiba-tiba memanggil Raditya.


"Raditya!" Raditya dan Lauren menoleh bersamaan ke arah suara.


"Senang sekali aku bisa bertemu denganmu di sini." Seorang wanita berpakaian seksi mendekati Raditya. Perempuan itu bermaksud ingin memeluk Raditya. Namun, dengan sigap Raditya menghindar. Lelaki itu kemudian merangkul bahu istrinya.


"Jangan menyentuhku!"


BERSAMBUNG ....


Sambil nunggu Author update, baca dulu novel milik temen Author yuk! Keren lho ceritanya.


__ADS_1


__ADS_2