
Lauren yang merasa kesal karena Raditya lama sekali masuk ke dalam mobil, akhirnya keluar.
Wanita hamil itu memang tahu jika ada Dara dan suaminya di luar. Lauren bahkan sedari tadi memperhatikan mereka. Namun, Lauren sengaja diam saja. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Raditya saat bertemu dengan mantan istrinya itu.
Akan tetapi, lama kelamaan Lauren merasa kesal sendiri. Melihat Dara yang begitu cantik, ada rasa panas yang membakar. Apalagi, saat Raditya dengan senyum mengembang menatap wanita yang pernah menjadi istrinya itu.
Dara dan Davin menatap ke arah Lauren secara bersamaan. Apalagi, saat melihat Lauren keluar dari mobil dan mendekati Raditya yang tampak sedikit cemas.
"Kakak, kenapa keluar?"
"Memangnya kenapa kalau aku keluar?" Lauren menatap Raditya dengan marah.
"Tidak apa-apa. Aku hanya–"
"Radit, kamu membohongiku? Kamu bilang, di mobil tadi ada istrimu kenapa–"
"Aku istrinya Raditya," tukas Lauren membuat kedua mata Dara membola. Begitupun Davin dan Raditya.
Raditya tidak menyangka Lauren akan mengakui kalau dia adalah istrinya di depan Dara dan Davin.
"Kamu tidak sedang bercanda bukan? Bukannya kamu adalah kakaknya Raditya?" Dara menatap Lauren dengan lekat.
Dara masih ingat dengan jelas kalau perempuan itu adalah kakaknya Raditya. Perempuan yang pernah hampir saja dibunuh oleh ibunya Raditya, tetapi, akhirnya salah sasaran.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana ceritanya kalian bisa menikah? Bukankah kalian ini bersaudara?" Dara masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lauren.
"Ceritanya panjang. Lain kali saja aku ceritakan. Aku lelah," ucap Lauren sambil mengusap perut buncitnya.
"Kamu bahkan sedang hamil besar. Apa itu–"
"Sayang, sebaiknya kita masuk ke dalam. Kita sudah terlalu lama di sini." Davin buru-buru mengajak istrinya masuk ke dalam. Semenjak hamil, Dara berubah menjadi orang yang berbeda. Wanita itu selain emosinya yang naik turun, dia juga selalu ingin tahu sesuatu.
Tidak peduli itu masalah keluarganya sendiri atau masalah orang lain.
"Aku penasaran, Davin."
"Sayang, dokter sudah menunggumu di dalam. Jangan sampai kita terlambat. Kamu nggak mau nunggu lama-lama 'kan?" Davin mencoba membujuk.
"Tapi–"
"Sayang, ayo!" Davin merangkul bahu istrinya.
"Radit, aku pamit dulu." Davin menatap Raditya dan Lauren bergantian kemudian memaksa Dara yang masih begitu penasaran dengan pernikahan Raditya pergi dari sana.
"Radit! Jangan lupa, kamu harus ceritakan padaku kenapa kamu bisa tiba-tiba menikah dengan kakakmu!" teriak Dara sebelum benar-benar pergi dari sana.
Lauren menatap kepergian Dara dan Davin dengan raut wajah kesal. Sementara itu, Raditya mengusap tengkuknya sambil tersenyum canggung.
__ADS_1
Lauren melirik sinis ke arah Raditya kemudian wanita hamil itu langsung masuk ke dalam mobil tanpa berbicara satu patah kata pun.
Wajah cantiknya cemberut. Lauren merasa kesal, tetapi, entah apa sebenarnya yang membuatnya kesal. Saat melihat Raditya ketemu dengan Dara, hatinya merasa kesal.
Sepertinya, wanita hamil itu tidak menyadari kalau sebenarnya dia itu sedang merasa cemburu. Dia kesal karena melihat Raditya begitu senang saat bertemu dengan Dara.
Lauren kesal saat Raditya justru seolah mengulur waktu saat berbicara dengan Dara. Padahal, kejadian yang sebenarnya tidaklah seperti itu.
Lauren sangat kesal karena Raditya terlihat sangat bahagia bertemu dengan mantan istrinya.
Sekelebat bayangan malam itu tiba-tiba terlintas di kepala Lauren. Wanita itu menyenderkan kepalanya di jok mobil. Sementara itu, Raditya sudah bersiap untuk menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.
"Apa kamu masih mencintainya?"
Setelah beberapa saat sama-sama terdiam, suara Lauren terdengar. Raditya hampir saja menghentikan mobilnya, tetapi, dengan cepat Lauren melarangnya.
"Apa kamu masih mencintainya?" ulang Lauren.
"Apa kamu masih mencintainya?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1