
Lauren menggeliat saat merasakan sensasi aneh yang menjalar pada tubuhnya. Bibirnya masih bertautan dengan bibir Raditya.
Beberapa saat kemudian, ciuman mereka terlepas. Raditya menatap Lauren yang langsung menyembunyikan wajahnya yang merona. Mereka berdua sama-sama mengatur napas mereka yang terengah.
Raditya memeluk Lauren. Menyembunyikan wajah malu istrinya pada dada bidangnya.
Raditya mengusap punggung hingga pinggang istrinya. "Apa selama aku pergi dia rewel?" Tangan Raditya beralih pada perut buncit Lauren.
"Dia tahu kalau kamu nggak ada, makanya dia nggak mau nyusahin ibunya."
"Syukurlah! Anak papa memang pintar." Raditya melepaskan pelukannya. Lelaki itu menyentuh perut Lauren kemudian menciumnya membuat bayi yang ada dalam perutnya itu bergerak-gerak.
Lelaki itu tersenyum, kemudian kembali mencium perut buncit itu berkali-kali. Raditya bahkan menyingkap baju tidur Lauren hingga memperlihatkan perut buncit itu secara langsung.
Bagai terhipnotis, Lauren yang biasanya marah jika Raditya menyentuhnya, kini hanya terdiam. Lauren bahkan tersenyum saat lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu mengusap dan mencium perutnya yang langsung bergerak-gerak.
Anak dalam kandungannya itu memberikan respon pada Raditya saat pria itu mengusap dan menciumi perutnya.
Raditya menatap perut buncit Lauren dengan gemas. Tidak menyangka kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
Pria itu kembali mencium perut Lauren yang putih mulus. Namun, setelahnya, Raditya merutuki dirinya sendiri saat hasrat lelakinya tiba-tiba naik.
__ADS_1
Raditya menutup perut Lauren, lelaki itu kemudian kembali memeluk wanita itu. Pandangan mata Raditya berkabut gairah. Lelaki itu kemudian melabuhkan bibirnya pada bibir merah istrinya.
Setelah ciuman itu berakhir, Raditya membalikkan tubuh Lauren agar membelakanginya. Wanita itu menurut. Lauren menyunggingkan senyum saat laki-laki yang diam-diam dirindukannya itu kembali memeluknya dari belakang kemudian mengusap perut buncitnya.
Namun, kali ini berbeda. Raditya biasanya hanya memeluknya saja sampai mereka tertidur. Sungguh sangat berbeda dengan sekarang.
Bibir Raditya bergerak menyusuri lehernya dengan napas memburu. Lelaki itu mengeratkan pelukannya, sehingga Lauren bisa dengan jelas merasakan tubuh bagian bawah Raditya yang menegang.
"Raditya, kamu–"
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud–"
"Lakukan apapun yang kamu mau, Radit."
"Hmm."
"Kakak yakin?"
"Hmm."
"Beneran? Kakak nggak bakal menyesal?"
__ADS_1
"Jangan sampai aku berubah pikiran, Raditya Pratama!"
****
Raditya mengatur napasnya yang memburu. Begitupun dengan Lauren. Wanita hamil itu bermandikan keringat. Bibirnya mendesis merasakan perih pada bagian tubuh bawahnya.
Setelah berbulan-bulan Lauren tidak mengizinkan Raditya menyentuhnya, dengan kesadaran penuh, Lauren akhirnya menyerahkan dirinya pada Raditya. Wanita itu dengan tanpa paksaan membiarkan Raditya merayu tubuhnya, Mereka berdua tenggelam dalam kenikmatan surga dunia.
Raditya bahkan masih tidak percaya jika dirinya baru saja memadu kasih dengan Lauren. Wanita itu, kakak tiri yang menikah dengannya karena terpaksa akibat kesalahannya, hari ini memberinya kenikmatan dunia yang sudah lama tidak pernah ia rasakan.
Wanita berperut buncit itu kini telah menjadi istri sepenuhnya.
Raditya menatap ke arah Lauren. Mengusap wajah cantik Lauren yang dipenuhi buliran keringat akibat aktivitas mereka beberapa saat lalu.
"Terima kasih, karena sudah memberikannya untukku."
Raditya menatap Lauren dengan perasaan bahagia.
"Aku mencintaimu, Kak. Aku janji, aku akan selalu menjagamu juga membahagiakanmu."
"Aku tidak butuh janji. Aku hanya perlu bukti. Buktikan padaku jika kamu memang benar-benar mencintaiku."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....