
Zian menatap pria yang kini sedang menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. Bocah berusia delapan tahun itu mencibir ke arah sang kakak yang dulu pernah dipanggil ayah olehnya itu.
"Heh, Bocil! Lu ngapain di sini?" Raditya beranjak dari duduknya kemudian mendekati Zian yang terlihat begitu menyebalkan.
Zian memang masih berusia delapan tahun. Akan tetapi, gayanya seperti anak yang sudah dewasa.
Saat Kinara memberikan Zian pada Galang, bocah kecil itu menangis setiap hari karena kehilangan sang mama. Galang sampai kewalahan menghadapi Zian saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, Zian yang saat itu masih berusia empat tahun akhirnya mengerti jika ibunya sudah meninggalkannya dan tidak menginginkannya yang lagi.
Semenjak itu, Zian tumbuh menjadi anak yang pendiam. Dia memang menurut, apapun yang dikatakan oleh Galang, Zian akan mematuhinya.
Seiring perjalanan waktu Zian tumbuh menjadi pribadi yang tertutup pada orang lain, termasuk pada Raditya. Akan tetapi, tidak dengan sang papa. Zian akan mengatakan apapun yang ada dalam hatinya pada Galang.
Lelaki itu adalah orang yang merawatnya setelah sang Ibu membuangnya. Oleh karena itu, Zian sangat menyayangi Galang. Anak itu tidak akan membiarkan Galang pergi seperti saat Kinara meninggalkannya.
Zian pernah kehilangan ibunya dan dia tidak ingin kembali kehilangan ayahnya. Oke karena itu, Zian sebisa mungkin menuruti semua keinginan Galang agar lelaki yang menjadi ayahnya itu menyayanginya dan tidak meninggalkannya seperti apa yang dilakukan oleh ibunya dulu.
"Gue nyusul elu lah!" jawab Zian tengil.
Beberapa waktu belakangan ini, mereka memang sudah tidak terlihat canggung lagi. Raditya sudah menerima Zian sebagai adiknya, begitupun Zian yang juga sudah mengakui Raditya sebagai kakek kandungnya. Bocah kecil itu tidak lagi memanggilnya dengan sebutan ayah seperti yang dulu pernah dia lakukan saat Raditya masih menjadi suami ibunya alias suami dari Kinara.
__ADS_1
Hanya saja, kelakuan mereka seperti kucing dan anjing. Mereka tidak pernah akur. Saat bertemu, pasti ada saja yang diperdebatkan. Kalau mereka sudah bertemu, Raditya sampai lupa jika dia sudah berusia hampir tiga puluh tahun sementara adiknya baru akan menjelang sembilan tahun.
Kelakuan Zian yang terkadang menjengkelkan membuat Raditya menjadi pria tidak tahu malu saat sedang berdebat dengan Zian.
"Kenapa lu nggak ikut sama nyokap lu?" Raditya berkacak pinggang di depan Zian.
"Nyokap? Mantan istri lu maksudnya? Kenapa bukan lu aja yang ikut sama dia?" Zian masih dengan wajah datarnya melirik sebal ke arah Raditya. Sedangkan Raditya melotot mendengar ucapan bocah tengil di hadapannya itu.
Raditya melirik Lauren yang tersenyum tipis melihat perdebatan mereka.
"Gue udah punya istri yang cantik, ngapain gue ikut sama Mak lampir?"
Zian mencibir dengan wajah menyebalkan.
"Dasar brengsek, Lu! Mak lampir itu juga nyokap lu kalo lu lupa!"
"Dih! Bodo amat! Gue cuma punya papa Galang sama Papa Raditya."
"Gue bukan bokap lu, Bege! Sekali lagi lu nyebut gue papa lu, gue robek mulut lu!" Raditya benar-benar kesal sekarang.
__ADS_1
Sungguh! Dia sangat benci saat mendengar Zian memanggilnya dengan sebutan papa. Panggilan itu mengingatkan dia pada kebodohannya di masa lalu.
Raditya masih ingat bagaimana bahagianya dia saat menyambut kelahiran Zian ke dunia. Namun, tak disangka jika anak yang dia anggap sebagai darah dagingnya itu ternyata adalah adiknya. Adik lain ibu.
Lauren tertawa kecil melihat Raditya yang berhasil terpancing emosi oleh ucapan adiknya. Sementara itu, sang adik justru dengan gaya tengilnya duduk di kursi kebesaran Raditya sambil memutar-mutar kursi itu.
"Lu sebaiknya siap-siap, Bang. Dua puluh tahun lagi, gue bakal gantiin lu duduk di kursi kebesaran lu ini!" Zian menatap Raditya yang masih terlihat kesal.
"Lu tenang aja, dua puluh tahun lagi, perusahaan ini bakalan jadi perusahaan hebat. Bukan hanya perusahaan ini yang bakal jadi milik lu, tapi perusahaan papa yang lain juga akan jatuh ke tangan lu!"
"Tapi, lu harus jadi orang pinter dulu sebelum gue kasih perusahaan ini ke lu! Jangan sampai perusahaan yang sudah papa dan gue perjuangin tiba-tiba hancur di tangan lu!"
"Gue bakal tunjukin sama lu kalau dua puluh tahun lagi gue bakal jadi orang yang lebih hebat dari lu!"
***
Kinara keluar dari kantor Raditya dengan kesal sekaligus sedih. Melihat Zian yang tidak mau bertemu dengannya, membuat Kinara sedih.
Memang benar, dia bersalah karena telah menyerahkan Zian pada Galang. Demi kebebasan hidup yang ingin dinikmatinya, Kinara memberikan Zian pada Galang dan menukar bocah kecil itu dengan sejumlah uang yang diberikan Galang.
__ADS_1
"Maafkan Mama, Zian."
BERSAMBUNG ....