Cintai Aku, Istriku!

Cintai Aku, Istriku!
Bab 11 CINTAI AKU, ISTRIKU!


__ADS_3

Pagi harinya.


Eza telah bersiap untuk pergi bekerja, dirinya bersyukur karena ada job di salah satu cafe yang ada di kota tempatnya tinggal. Dirinya menuruni anak tangga dengan melirik ke sana kemari.


"Kok sepi? Apa Airin udah pergi ke kantor?"


Sesampainya dilantai bawah, Eza langsung menuju meja makan untuk sarapan.


Ketika sampai di meja makan, dahi Eza mengerut sebab tidak mendapati makanan apapun.


"Huft! Airin keterlaluan sekali, dia tega tidak membuatkan sarapan untukku." Eza pergi ke dapur dan mencari sesuatu yang sekiranya bisa dimasak.


Eza membuka kulkas tetapi tidak ada bahan makanan apapun, dia kembali membuka satu persatu lemari khusus penyimpanan sembako tetapi juga tidak ada apapun di dalam disana.


"Semuanya kosong, sebaiknya aku sarapan bubur ayam saja di gang depan. Setelah pulang bekerja, aku akan membeli telur dan bahan sembako lainnya." ucap Eza sambil beralih pergi dari dapur.


Sepuluh menit kemudian.


Eza telah sampai di gerobak penjual bubur ayam.


"Mas! Bubur nya satu, makan disini aja." ujar Eza kepada sang pedagang.


"Siap masseh, tunggu sebentar ya." sahut sang pedagang.


Setelah menunggu akhirnya bubur pesanan Eza telah jadi. Eza pun memakannya dengan santai sambil sesekali mengobrol dengan sang pedagang.


***


Di kantor.


Airin menyandarkan tubuh di kursi kebesaran miliknya, dia memegang ponsel dan menatap foto Ezra juga dirinya yang saat itu tengah berlibur ke luar negeri.


"Aku kangen dengan masa-masa ini, Mas. Aku ingin mengulangnya kembali, aku tidak menyangka jika kamu dengan cepat pergi meninggalkan aku sendirian untuk selama-lamanya." lirih Airin dengan memejamkan mata.


'Cintailah dia seperti kamu mencintaiku, jangan pernah kamu sia-siakan pria yang saat ini bersamamu dan sabar menghadapi dirimu. Hargailah seluruh perjuangannya untuk bisa mendapatkan cintamu.'


Airin membuka mata dan mengedarkan pandangan.


"Mas Ezra! Kenapa aku mendengar suara Mas Ezra? Dan, dia mengatakan jika aku tidak boleh menyia-nyiakan pria yang saat ini bersamaku. Apa itu berarti—?" Airin mencoba menebak bisikan yang sangat jelas dia dengar.


***


Sore harinya.


Airin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karena Dio meminta untuk makan malam bersama di salah satu cafe yang baru saja buka.


Ting!


[Aku sudah menunggumu dibawah, cepat keluar] pesan dari Dio.


Airin tidak membalas pesan dari Dio, dia langsung bergegas keluar dari ruangan dan pergi menemui Dio.


Sesampainya di lobi kantor.

__ADS_1


"Sorry gue sedikit terlambat." ucap Airin ketika berada di dekat Dio.


"Gak pa-pa, apa kita bisa pergi sekarang?"


Airin mengangguk dan Dio langsung membuka pintu mobil untuk Airin.


"Bagaimana dengan mobilmu nanti?" Dio bertanya ketika mobil sudah mulai melaju.


"Gue akan meminta tolong ke Okta untuk mengambilnya ke kantor."


Dio mengangguk paham.


"Oh ya, Rin. Apa suami kamu tidak marah jika kamu jalan bareng dengan pria lain seperti ini?"


"Apa peduliku? Aku tidak peduli dengan dirinya, mau dia marah ataupun tidak itu semua terserah nya." Airin tersenyum tipis.


"Bukankah dia sangat mirip dengan Almarhum Ezra?"


Airin melirik Dio sejenak. "Dia memang sangat mirip dengan Mas Ezra, tetapi sikap dan wataknya sangat jauh berbeda."


Beberapa menit kemudian.


Mobil Dio telah sampai di cafe tersebut, dirinya langsung turun dan membukakan pintu untuk Airin.


Mereka berdua masuk ke dalam cafe bersama-sama.


Setelah berada di dalam, Dio memilih meja nomor 4.


Sesaat kemudian.


Terdengar suara lantunan musik yang akustik dan suara seorang pria juga wanita sedang bernyanyi dengan sangat merdu dan meresapi.


Eza yang kala itu manggung di cafe Jean's langsung terkejut karena melihat sang istri sedang makan malam bersama dengan pria lain. Sebisa mungkin Eza menetralkan degup jantungnya dan dia terus bernyanyi dengan santai.


Airin sadar jika penyanyi itu adalah Eza, dia sengaja tidak memperdulikan dan terus asyik mengobrol dengan Dio bahkan sesekali mereka tertawa bersama seperti sangat bahagia dan tidak ada beban apapun.


Satu jam kemudian.


Eza telah selesai bernyanyi dan dia memantau keberadaan Airin, ternyata Airin sudah pergi karena kursi yang Airin gunakan tadi sudah kosong.


Eza dengan cepat turun dari panggung dan pergi ke belakang.


"Kak!" Nur kaget karena Eza pergi begitu saja tanpa menyampaikan satu patah kata pun untuk para pengunjung cafe.


Nur mewakili Eza menyampaikan kata-kata penutup untuk pengunjung, dirinya pun segera bergegas menyusul Eza kebelakang.


Eza mencari mobil Airin diparkiran.


"Kenapa mobilnya tidak ada? Apa mungkin dia sudah pergi?" gumam Eza sambil terus mencari Airin.


Ketika Eza hendak kembali ke dalam cafe, dirinya tidak sengaja melihat Airin yang ingin masuk ke dalam mobil bersama dengan seorang pria.


"AIRIN!" teriaknya marah dan berjalan cepat menghampiri Airin.

__ADS_1


Airin tidak jadi masuk ke dalam mobil, dia menatap Eza dengan santai.


Eza yang telah sampai didekat Airin hanya menatap pria yang bersama Airin dengan tenang, untuk saat ini Eza tidak boleh mengandalkan emosinya.


"Maaf, Tuan. Apa Anda tidak tahu jika wanita yang saat ini bersama dengan Anda adalah wanita yang sudah memiliki seorang suami?" Eza bertanya dengan nada sopan.


Dio hanya melirik Airin sekilas. "Aku sudah tau, tapi apa salahnya jika aku pergi bersama dengan wanita yang tidak pernah menganggap dirinya mempunyai seorang suami?''


Airin melirik Eza dan Dio secara bergantian.


"Tetapi biar bagaimanapun, Airin telah mempunyai suami dan itu semua sudah diakui dimata negara dan juga agama." sahut Eza.


Dio yang kehabisan kata-kata hanya mampu menutup mulut.


"Apa Anda sudah selesai berbicara? Dio, ayo kita pulang!".


"Tunggu!" Eza mencegah Airin yang kala itu ingin membuka pintu mobil.


Airin menghentikan aktivitasnya dan menatap Eza dengan malas.


"Kamu akan pulang bersama saya!" perintah yang Eza katakan.


"Jika saya tidak mau, apa yang ingin Anda lakukan?" Airin bersedekap.


"Jadilah seorang istri yang menurut dengan suami agar kamu dijauhkan dari api neraka."


Airin tersenyum miring. "Saya tidak peduli! Anda tidak perlu mencegah apapun yang ingin saya lakukan."


"Saya berhak mencegah ataupun melarang karena kamu adalah istri saya."


Airin menatap Eza dengan kesal.


Eza menghampiri Airin dan memegang pergelangan tangan Airin.


"Ibnu Katsir berkata: Nusyuz adalah meninggalkan perintah suami, menentangnya dan membencinya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 24).


"Surga diharamkan untuk seorang istri pembangkang dan tidak menuruti ucapan baik yang suaminya katakan." lanjut Eza dengan tatapan yang tidak beralih dari Airin.


Airin hanya bisa diam tanpa berniat menjawab ucapan dari Eza .




**TBC


ASSALAMUALAIKUM


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏


SEMOGA DIHARI JUM'AT INI KITA SEMUA DIBERIKAN BERKAH OLEH ALLAH, DI KARUNIAI SESUATU HAL YANG BAIK DAN SELALU DI MUDAHKAN REZEKINYA. AMIN 🤗**

__ADS_1


__ADS_2