
Eza kembali dengan membawa kantong kresek yang berisi testpack, dirinya menyodorkan kantong plastik itu kepada Airin dan Airin segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeceknya.
Beberapa menit kemudian.
Airin keluar dengan raut wajah yang sulit di tebak.
"Bagaimana sayang? Gimana dengan hasilnya?'' Eza pun bertanya dengan tidak sabar.
Airin mengeluarkan testpack dan memberikan kepada Eza.
Eza menatap testpack itu dengan dahi mengerut, pasalnya dia tidak tahu jika positif hamil atau tidak garis merahnya ada berapa.
"Ini?"
"Aku hamil." ucap Airin dengan senyum bahagia.
"Kamu hamil? Alhamdulillah ya Allah, terima kasih." Eza bersujud karena sangat bahagia dan bersyukur.
Airin menitikkan air mata haru.
Mereka berdua berpelukan.
"Sayang, kamu harus jaga kandungan kamu baik-baik. Aku akan bekerja keras mencari uang agar bisa membelikan vitamin dan susu untuk kamu agar pertumbuhan bayi kita sehat."
Pelukan terlerai.
"Gak perlu, Mas. Sebaiknya kamu bekerja untuk menabung serta untuk kebutuhan sehari-hari, masalah vitamin dan susu kamu gak perlu khawatir. Aku masih punya tabungan di ATM Mama dan aku akan membeli beberapa susu dan vitamin untuk stok."
__ADS_1
Eza kembali memeluk Airin. "Baiklah, aku akan bekerja keras untuk menghidupi kamu dan anak kita nanti. Aku tidak ingin anak kita kekurangan materi seperti aku dulu."
Airin kembali meneteskan air mata. 'Aku harusnya bisa bersyukur karena hidupku dulu sangat bergelimang harta dan tidak ada kekurangan. Sekarang aku baru sadar jika tidak boleh menghina seseorang yang hidupnya di bawah kita, aku baru merasakan betapa sulitnya hidup tanpa harta dari orang tua.' ucapnya dalam hati.
πΊπΊπΊ
Yani menatap Rosa dengan sendu.
"Maafkan saya, Rosa."
Rosa mengerutkan dahi. "Kenapa Ibu harus meminta maaf?" wanita berusia lima puluh tahun itu heran dengan sikap Yani.
"Dulu, sebenarnya kamu melahirkan dua orang putra dan mereka Kembar."
Deg!
Jantung Rosa seakan sulit untuk berdetak, nafasnya tercekat hingga Rosa seperti tidak mampu bernafas.
Yani menarik nafas dalam-dalam, dia mulai menceritakan tentang masa lalu.
"Dulu ada seorang pria yang mengancam saya agar membuang anak kamu yang pertama."
"Jadi?"
"Benar, Ezra adalah anak kedua kamu sementara bayi yang meninggal itu bukan anak kamu. Pria itu menggertak ingin membunuh anak dan keluarga saya jika saya tidak menuruti kemauannya, bahkan dia tidak peduli masuk dalam penjara karena sudah menjadi pembunuh." jelas Yani dengan menunduk. "Saya yang takut akhirnya mengikuti permintaan pria itu dan membuang anak kamu ke panti asuhan yang berada di luar kota."
"Kenapa Anda tidak bicara dengan saya, Bu Yani? Jika anda bicara pada saya pasti suami saya akan mencarikan jalan untuk Bu Yani." Rosa tidak tahan membendung kesedihan hingga tak terasa air mata menetes di pipinya.
__ADS_1
"Maafkan saya sekali lagi, Rosa. Saat itu pikiran saya down dan saya bingung harus bagaimana di tambah saya mendapatkan video karena anak saya di sekap dan berniat untuk dibunuh."
"Beritahu saya apa nama panti asuhan itu."
"Panti asuhan Muara Kasih." jawab Bu Yani dengan rasa malu.
Rosa ingin membalikan badan tetapi Bu Yani mencegahnya.
"Rosa, tunggu! Saya mohon maafkan kesalahan fatal saya ini, saya rela jika kamu ingin melaporkan saya ke kantor polisi karena saya memang bersalah."
Rosa memejamkan mata sejenak dan dia mengelus pundak ibu Yani. "Semuanya sudah terjadi dan itu bukan atas kemauan ibu Yani sendiri, saya sudah memaafkan Ibu Yani dan Bu Yani tidak perlu merasa dibebani oleh rasa bersalah."
"Terima kasih Rosa."
Rosa hanya tersenyum tipis dan dia berpamitan untuk pergi ke panti asuhan itu, Rosa tidak sabar untuk mencari keberadaan anaknya yang ternyata masih hidup. Rosa merasa semangat hidupnya kembali lagi ketika mengetahui jika salah satu Putranya masih ada.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
YUK TINGGALKAN KOMEN KALIAN π€ JANGAN LUPA LIKE DAN RATE π 5, TERIMA KASIH π
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YA π₯°**