
Malam harinya.
Airin sampai di rumah tepat pukul sepuluh malam, dia sengaja berhenti terlebih dahulu di rumah Okta karena dirinya yakin jika sampai di rumah sebelum Eza tidur pasti dirinya akan mendapatkan berbagai macam pertanyaan dan ceramah dari Eza .
Ceklek!
Airin membuka pintu dan dia masuk ke dalam kamar dengan perlahan, setiba sampai di dalam kamar mata Airin langsung tertuju ke ranjang.
Dirinya terus berjalan masuk ke dalam kamar dan menatap Eza yang sudah terlelap di atas ranjang empuk tersebut. Entah dorongan dari mana Airin menghampiri Eza, dia berjongkok dan menatap wajah Eza dari jarak dekat.
Nafas wangi berbau mint milik Eza berhasil terhirup oleh hidung bangir milik Airin.
'Mata ini, bibir, hidung, semuanya sama persis seperti Mas Ezra. Tetapi mengapa aku membencinya? Aku tidak tau karena hatiku tidak suka jika orang lain berusaha mengikuti Mas Ezra. Dirinya sangat mirip dengan Mas Ezra, aku rasa itulah yang membuat aku membencinya. Aku merasa dia mencoba ingin menggantikan Mas Ezra di dalam hatiku.' batin Airin dengan rasa galau.
Eza menggeliat dan Airin segera berdiri.
"Apa sikapku kepada Mas Eza keterlaluan sekali?" Airin mengingat setiap ucapannya kepada Eza.
Airin menghembuskan nafas dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Airin memikirkan kembali ucapan Nur.
'Jika nanti Mas Eza mengatakan kata talak pada Anda, maka akulah yang akan berada di garda paling depan untuk menjadi tempat sandaran bagi Mas Eza.' itulah perkataan Nur yang hinggap di benak Airin.
Airin memejamkan mata karena rasa pusing yang melanda kepalanya, dia menyandarkan tubuh di bathtub dengan nyaman.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Pagi hari.
__ADS_1
"Apa!" pekik Eza terkejut ketika baru selesai keluar dari kamar mandi. "Baik, aku akan segera bergegas ke sana." lanjutnya seraya langsung meletakkan ponsel di atas meja dan segera memakai pakaian.
Setelah selesai berpakaian, Eza mengambil ponsel dan ingin pergi. Dia melirik sekilas ke ranjang, dimana Airin masih tidur pulas.
Eza melirik jam dinding, pukul setengah enam pagi. Dirinya mencari buku dan pulpen untuk menulis surat agar Airin nanti tidak mencarinya.
Sesudah menulis surat, Eza langsung keluar dari kamar.
Pukul 06.30 Wib.
Airin bangun dan melihat ke sekeliling.
"Ternyata dia sudah pergi bekerja." gumam Airin sambil mengucek mata.
Airin beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Lima belas menit.
Selesai berpakaian, Airin duduk di kursi meja rias untuk memoles wajahnya sedikit menggunakan bedak tipis dan make-up tipis.
"Perfek." ujarnya sambil beranjak dari kursi dan meraih tas jinjing branded miliknya.
Saat Airin ingin pergi keluar dari kamar, dia tidak sengaja melihat selembar kertas yang ada tergeletak di atas meja.
Airin mengambil kertas itu dan mulai membacanya, mulutnya terperangah ketika membaca surat dari Eza.
Airin pun terdiam sambil berpikir harus bagaimana, beberapa saat kemudian dia sudah memutuskan tekadnya dan pergi ke tempat tujuan.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Dio sudah selesai untuk pergi ke kantor, dia menghubungi ponsel Airin terlebih dahulu.
"Halo, Rin. Kamu udah pergi ke kantor belum?"
π²"Gue hari ini gak ke kantor, Di."
"Kenapa? Apa kamu sakit?" terdengar nada khawatir dari mulut Dio.
π²"Gue ada urusan penting dan sekarang sedang berada di jalan."
"Urusan apa? Apa ada yang bisa aku bantu?"
π²"Gak perlu, ini urusan pribadi. Ya udah, gue mau fokus nyetir dulu. Bye!"
Airin memutuskan sambungan secara sepihak.
"Urusan apa yang membuat Airin terlihat buru-buru seperti itu?" Dio menatap layar ponselnya yang sudah berubah menjadi gelap.
β’
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
MOHON BERIKAN** ***LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH DAN JUGA RATE π 5 .
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK π***