
Airin merasakan pedas di area matanya, dia berjalan dengan perlahan menuju panggung dimana Eza telah selesai menyanyikan lagu pertama.
Sesampainya di atas panggung, Airin berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Eza.
"Mas Ezra?" air mata menetes begitu saja di kedua pipi Airin.
Eza menatap manik mata Airin dan keningnya mengerut ketika Airin mengatakan Ezra.
"Maaf, Nona. Saya Eza, bukan Ezra." tolak Eza dengan halus ketika Airin memanggilnya dengan sebutan Ezra.
Airin tersadar dari kenyataan, dia lupa jika Ezra nya telah tiada, Ezra nya telah pergi dan tidak akan bisa kembali.
Airin segera menghapus air mata dan sebelum pergi dia sempat menatap manik mata Eza sehingga mata mereka berdua bersitubruk.
Airin bergegas turun dari panggung, dia berlari keluar cafe karena sesuatu hal yang sulit untuk dikatakan ataupun di eskpresi 'kan.
"Bu Airin, tunggu!" Dita terkejut karena melihat Airin yang berlari dengan bercucur air mata.
"Apa yang terjadi dengannya?" Roy bertanya kepada Dita.
Dita menatap ke arah panggung dan bibirnya sedikit terbuka ketika melihat seorang pria yang kala itu berdiri dengan memegang gitar.
'Pantas saja Bu Airin pergi tanpa berpamitan dan sikapnya juga aneh, ternyata pria itu penyebabnya.' batin Dita masih setia menatap Eza.
Eza pergi dari atas panggung menuju ruang istirahat.
__ADS_1
"Nona, apa Anda bisa menjawab pertanyaan saya?" Roy mengulangi pertanyaannya kembali.
"Karena seorang pria yang tadi bernyanyi di atas panggung."
Roy menyatukan kedua alisnya karena heran. "Apa Bu Airin punya masalah dengan pria itu?"
Dita sukses menggeleng cepat.
"Pria itu mengingatkan Bu Airin dengan mendiang suaminya. Anda pernah dengar isu tentang Bu Airin? Seorang wanita cantik yang memiliki nasib buruk karena baru menikah beberapa jam dan akhirnya langsung menjadi janda karena suaminya meninggal."
Roy terdiam sejenak sambil berpikir. "Ya, saya pernah mendengar itu dari rekan bisnis saya. Saya pikir itu hanya isu dan ternyata berita itu real?"
Dita mengangguk.
"Saya sudah menjelaskan kepada Anda, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu, permisi."
Roy pun memerintahkan kepada sekertaris nya agar pulang terlebih dahulu.
"Eza!" Roy berseru ketika berada di dalam ruang istirahat Eza dan teman-temannya.
Eza berdiri dari sofa dan berjalan menghampiri Roy.
"Saya sebenarnya kecewa karena acara makan malam ini tidak berjalan lancar. Tetapi saya juga tidak bisa menyalahkan kamu karena partner bisnis saya pergi begitu saja setelah melihat kamu."
"Memangnya ada yang salah dengan saya, Pak?"
__ADS_1
"Tidak, tetapi wajah kamu mengingatkan Bu Airin dengan seseorang yang sangat dia cintai."
Eza tidak paham dengan ucapan Roy.
"Saya tidak mengerti maksud Bapak bagaimana."
"Suami Bu Airin meninggal karena tragedi kecelakaan sewaktu mereka ingin mengadakan resepsi pernikahan. Padahal baru saja Bu Airin sah menjadi istrinya tetapi dia sudah menjanda hanya dalam jangka hitungan jam."
Eza diam mematung saat mendengar penuturan dari Roy.
"Ini bayaran kalian. Saya pamit kalau begitu." Roy menepuk pundak Eza pelan dan setelah Eza mengucapkan terima kasih, Roy langsung pergi dari ruangan itu.
'Pantas saja dia sampai menangis dan menyebutkan nama Ezra.' batin Eza.
Eza mengingat kembali air mata yang menetes di pipi Airin, ada rasa sedih di dalam hatinya ketika mengingat ucapan Roy tadi. Eza juga mengingat wajah cantik milik Airin yang sangat sulit untuk dilupakan, baru kali ini dirinya bertemu dengan sosok wanita seperti Airin dan sulit untuk melupakannya.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPAKAN DUKUNGAN, TERIMA KASIH 🥰
__ADS_1
BANTU LIKE, VOTE, KOMEN, DAN HADIAHNYA.
SEE YOU 🥰🥰🥰**