
Siang harinya.
Airin dan Okta sedang berada di salah satu cafe yang letaknya tak jauh dari kantor milik Airin, mereka berdua baru saja selesai makan siang bersama dan saat ini kedua wanita cantik itu sedang mengobrol dengan ditemani oleh Jus juga kentang goreng.
"Rin, gimana kabar Lo sama suami Lo?" Okta bertanya sambil menumpukan tangan di dagu.
"Bagaimana apanya?" Airin menjawab sembari menyeruput jus miliknya.
"Jangan pura-pura be*go deh, Rin. Lo dan Mas Eza 'kan udah menikah, jadi apa kalian udah? Ehem ehem?" Okta menyatukan jari telunjuk sebelah kanan dan kiri.
Airin tersenyum geli. "Jangankan begituan, ciuman aja belum pernah." sahutnya dengan santai dan memainkan sedotan yang berada di gelas miliknya.
"Seriusan? Astaga Rin, Airin. Kalian berdua udah hampir satu bulan menikah loh, masa gak mau memecahkan rekor?" Okta menatap sang sahabat dengan tidak percaya.
"Kalau Lo gak percaya ya udah." Airin mengedikkan bahu masa bodoh.
Okta melihat ke belakang tubuh Airin dan terlihat Eza berjalan ke arah meja mereka.
"Eh panjang umur, baru diceritain udah nongol aja."
Airin mengerutkan dahinya dan menoleh kebelakang. 'Eza, ngapain dia ada tempat ini?' batin Airin heran.
Eza telah sampai di meja milik Airin dan Okta.
"Airin? Kamu ada ditempat ini?"
Airin hanya diam saja sambil memalingkan wajah.
__ADS_1
"Rin, ditanyain juga malah diam aja." bisik Okta pelan agar tidak terdengar oleh Eza.
Airin masih setia dalam diam.
Okta tersenyum tipis ke arah Eza. "Selamat siang, Mas Eza."
Eza membalas senyuman Okta dengan ramah.
"Oh ya, Mas Eza tadi bertanya kenapa Airin ada disini ya? Kami berdua baru saja selesai makan siang."
"Jadi kalian sudah selesai makan?"
Okta mengangguk. "Mas Eza sendiri ngapain ada ditempat ini?"
"Saya bekerja di cafe ini, sebagai waiters."
Eza hanya menatap Airin dengan heran. "Apa ada yang salah?"
"Anda bekerja disini? Apa saya tidak salah dengar? Memalukan!" ejek Airin.
Eza menggeleng karena mendengar ucapan Airin.
"Rin, Lo ini ngomong apa sih?" Okta tidak terima karena sang sahabat berani menghina suaminya sendiri.
"Apa ada yang salah dengan pekerjaan saya?"
"Tentu saja! Anda tidak memiliki pekerjaan yang sedikit lebih baik dibandingkan menjadi penyanyi panggilan dan juga seorang pelayan."
__ADS_1
"Astaghfirullah, Ai. Kamu kok ngomongnya gitu? Apapun pekerjaan saya yang penting itu halal dan saya tidak memberi kamu uang haram." jelas Eza dengan perlahan agar Airin mengerti.
"Dan saya juga tidak akan menerima uang dari seorang pelayan seperti Anda!''
Eza terkejut dengan ucapan Airin, istrinya itu sangat keterlaluan karena telah menghina pekerjaannya, tanpa berkata apapun Eza langsung pergi dari meja Airin dengan membawa segala emosinya.
Setelah Eza pergi, Nur yang sedari tadi menguping pembicaraan Eza dan Airin segera bergegas menghampiri Airin.
"Lo kok keterlaluan gitu sih, Rin? Gak baik menghina pekerjaan orang lain apalagi itu suami Lo sendiri." Okta terlihat kesal.
"Ck! Kenapa sih Lo terlalu peduli banget sama tuh laki?"
"Bukan peduli, Rin. Gue cuma kasian dengan Mas Eza karena dia gak punya salah sama Lo dan—" ucapan Okta terpotong.
"Anda keterlaluan!" ucap Nur setelah baru sampai di meja milik Airin.
Kedatangan Nur yang secara tiba-tiba membuat Airin dan Okta terkejut.
•
•
**TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**