
Dua jam kemudian.
Airin mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan kencang hingga dia sampai di kediaman milik Eza tepat waktu.
Dari kejauhan dapat Airin lihat sangat ramai warga yang berada di rumah Eza, tenda biru juga terlihat berdiri tegak di halaman rumah. Airin turun dari mobil dan berjalan menuju rumah sang suami.
"Assalamualaikum." ucap Airin ketika dia sudah berada di bagian warga yang sedang melayat.
"Waalaikumsalam." sahut semua warga dengan serempak, mereka semua menatap Airin dan membatin jika Eza sangat beruntung karena menikah dengan wanita seperti Airin.
"Apa Mas Eza ada didalam?" Airin bertanya dengan sopan kepada salah satu Ibu-ibu yang menjadi tetangga Eza di kampung.
"Ada, Neng. Silahkan masuk." Ibu itu mempersilahkan Airin masuk ke dalam rumah.
Airin masuk ke dalam rumah dan dia mendengar suara Isak tangis yang keluar dari mulut sanak saudara Eza. Dirinya melihat Eza yang sedang mengaji di samping mayat sang Ibu.
"Assalamualaikum." Airin mengucapkan salam ketika berada di dalam rumah.
"Waalaikumsalam." jawab semuanya yang sedang mengaji.
Airin berjalan menghampiri Eza yang sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari Yasin yang dipegang.
"Mas," Airin memanggil Eza dengan lembut dan dia juga memegang pundak Eza.
Eza mendongak, dia segera menghapus air matanya. "Ai, kamu datang kesini?"
Airin mengangguk dan tersenyum tipis. "Biar bagaimanapun, Ibu adalah orang tua saya juga."
Eza meneteskan air mata tanpa rasa malu.
Airin pun bersedih karena melihat Eza yang pasti sangat terpuruk, meskipun dia benci dengan Eza tetapi dia juga masih memiliki hati.
__ADS_1
"Kamu harus sabar, Mas."
Eza mengangguk, dengan sekuat tenaga dia akan mencoba mengikhlaskan kepergian sang Ibunda.
"Apa yang terjadi hingga Ibu bisa seperti ini?"
"Ibu terkena angin duduk."
Airin menunduk sedih. "Ini semua salah saya."
Eza dengan cepat menggelengkan kepala. "Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Saya tidak mengajak Ibu untuk tinggal bersama dengan kita, saya benar-benar merasa bersalah."
"Sudahlah, Ai. Semuanya sudah kehendak Allah, saya sudah mengikhlaskan kepergian Ibu." ucap Eza dengan rasa sesak didalam dada.
Airin sangat cantik ketika dia mengenakan hijab seperti sekarang, Eza tersenyum tipis karena melihat tampilan Airin yang sedikit berbeda.
Satu jam kemudian.
Eza masih setia berjongkok di samping pusara sang Ibu, dia tidak menyangka jika Ibunya bisa secepat ini pergi menghadap illahi.
"Mas, sepertinya akan turun hujan. Kita pulang sekarang ya?'' Airin memegang pundak Eza.
Eza mendongak menatap ke atas langit, ini adalah hari yang paling menyedihkan baginya.
Eza menegakkan tubuh dan segera berjalan didampingi oleh Airin, jarak antara TPU dan rumah Eza hanyalah sekitar 700meter jadi mereka memutuskan berjalan kaki.
Sesampainya di rumah.
Eza melihat ke sekeliling, baru saja sang Ibu dimakamkan tetapi dirinya sudah sangat merindukan beliau.
__ADS_1
Airin pergi ke dapur dan dia menyiapkan teh hangat untuk Eza.
Beberapa detik kemudian, Airin kembali dari dapur dengan membawa segelas teh hangat.
"Mas, ini teh untuk kamu." Airin menyodorkan nampan yang berisi satu gelas teh.
"Terima kasih." sahut Eza sambil menerima nampan dari Airin.
"Apa kamu akan menginap disini?"
Eza mengangguk. "Ya, saya akan pulang setelah empat hari."
"Baiklah, terserah kamu saja." Airin melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Saya harus pergi ke kantor, insyaallah nanti sepulang dari kantor saya datang lagi kesini."
Eza hanya mengangguk menjawab ucapan Airin. "Terima kasih karena kamu sudah menyempatkan diri untuk datang."
Airin tersenyum dan dia beranjak dari kursi.
Setelah mengucapkan salam, Airin langsung pergi dari rumah Ibu Eza.
•
•
**TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA DI BAB BESOK 🤗
MOHON DUKUNGAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**
__ADS_1