
Keesokan paginya.
Eza terbangun lebih dulu dibandingkan dengan Airin, tadi malam dirinya tertidur di sofa ruang tamu karena kantuk yang melanda saat sedang menonton sepak bola.
Eza sudah bertekad akan membuat Airin jatuh cinta padanya, Eza yakin dengan kesabaran yang dia miliki pasti dirinya mampu meluluhkan hati sang istri.
Setelah fajar menjelang, Eza masuk ke dalam kamar dan mengambil dompet.
"Uang gaji kemarin cuma enam ratus ribu. Apa Airin mau menerimanya?" Eza menatap ke arah ranjang dan membuang pikiran jeleknya, dia akan berusaha membuat Airin mau menerima uang gaji yang dia dapat.
Eza turun ke lantai bawah, pagi ini dia akan membuat sarapan untuk dirinya dan juga Airin. Eza sangat bersyukur karena dia telah diterima di sebuah restauran sebagai waiters, meskipun gaji hanya sedikit tetapi Eza tetap mensyukuri itu semua karena dia setelah gajian dia pasti bisa memberikan uang kepada sang Ibu.
Airin terbangun pukul setengah tujuh, dia melihat ke sisi kirinya dan ternyata Eza sudah tidak ada di dalam kamar. Airin segera beranjak menuju kamar mandi, saat berada di dalam kamar mandi, Airin menatap dirinya dari pantulan cermin.
"Apa sikapku sudah keterlaluan? Tapi kenapa aku bisa sangat membencinya?" Airin memejamkan mata dan menghela nafas perlahan.
Dia segera mandi agar tidak telat pergi ke kantor.
Beberapa saat kemudian.
Airin yang telah bersiap dengan pakaian formalnya langsung turun dan berniat membuat sarapan roti bakar.
Sesampainya di lantai bawah, Airin mencium aroma wangi dari arah dapur.
"Aroma wangi apa ini? Sepertinya masakan, tapi siapa yang masak?" Airin bergegas menuju dapur dan dia terkejut karena Eza masih berkutat di depan kompor.
Airin bersembunyi di balik tembok masuk ke dapur, dia sesekali mengintip Eza dari balik tembok tersebut. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena sudah berani menolak ajakan sang suami, tetapi disisi lain Airin egois dan melawan rasa yang tulus dalam hati.
__ADS_1
Terlihat Eza sudah selesai memasak omelette dan ayam goreng crispy sambal tomat.
Airin segera berlari kecil pergi dari sekitar dapur agar tidak ketahuan oleh Eza.
"Eh, Ai! Kamu udah bangun?" Eza bertanya dengan nada biasa, dia ingin melupakan kejadian tadi malam karena itu dirinya bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa dengannya dan juga Airin.
Airin hanya mengangguk sejenak.
"Saya sudah memasak omelette, ayam goreng crispy dan juga ada sambal kecap. Hari ini saya masak karena saya pikir akan sangat boros jika terus membeli makanan diluar."
"Tidak masalah bagi saya, saya sudah terbiasa beli makanan diluar." jawab Airin dengan santai.
"Apa kamu mau sarapan sekarang?" Eza bertanya dengan lembut.
Airin melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya sejenak. "Sudah pukul tujuh, sepertinya saya harus segera pergi ke kantor. Saya juga takut jika di dalam makanan itu Anda mencampurkan sesuatu untuk balas dendam kepada saya."
"Ya, bisa jadi karena tadi malam saya menolak ajakan Anda untuk bercinta jadi Anda mencampurkan racun ke dalam makanan itu." Airin menatap Eza dengan remeh.
"Ya Allah Ai, apa yang ada di dalam benak kamu itu? Saya mana mungkin berniat jahat seperti itu kepada istri saya sendiri."
Airin yang jengah langsung memutarkan bola matanya. "Siapa yang tau?" lanjutnya sambil mengedikkan bahu.
Eza hanya mampu mengelus dada dengan sabar dan beristighfar dalam hati untuk meredam segala emosinya.
"Baiklah, Anda sarapan saja sendiri. Saya mau pergi ke kantor."
"Tunggu!" Eza menghentikan langkah Airin.
__ADS_1
Airin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Eza.
"Ini, gaji saya dari manggung tadi malam." Eza menyodorkan enam lembar uang berwarna merah kepada Airin.
Airin hanya melirik sekilas ke arah uang yang Eza berikan.
"Hanya segini?" ucapnya dengan senyum sombong.
"Ini adalah hak saya sebagai suami kamu, seorang kepala rumah tangga yang harus menafkahi istrinya."
Airin tersenyum miring. "Simpan saja uang Anda untuk jaga-jaga jika Anda nanti bercerai dari saya. Saya masih punya banyak uang dan uang yang Anda beri ini tidak ada apa-apanya dibandingkan uang yang saya punya. Bahkan uang Anda ini untuk beli skincare dan perawatan saya saja masih kurang banyak." Airin menggeleng lalu pergi dari hadapan Eza.
Eza hanya menatap punggung belakang Airin dengan terus beristighfar dalam hati. " Ya Allah, kuatkan-lah hamba untuk meluluhkan hati Airin, jika dia jodoh hamba maka hamba yakin pasti Engkau akan memberikan jalan."
Eza menatap uang lembaran merah yang berada di genggamannya.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**
__ADS_1