
Keesokan harinya.
Ting tong.
Bel rumah Airin berbunyi dan Airin yang saat itu sedang menyiapkan sarapan langsung bergegas membuka pintu.
Ceklek.
"Mama?" ucap Airin dengan setengah terkejut karena sang Mama tiba-tiba sudah ada dirumahnya.
Marina hanya tersenyum tipis melihat raut wajah sang Putri.
"Sayang! Siapa yang datang?'' Eza berteriak sambil menuruni anak tangga.
Airin hanya tersipu ketika Marina mengerlingkan mata.
"Sayang sarapan—" ucapan Eza terpotong karena melihat ke arah pintu dan ternyata sang mertua sudah ada di sana.
"Mama!" Ucap Eza sambil berjalan menghampiri.
Eza mencium takzim punggung tangan Marina.
"Mama datang kesini kok gak kasih kabar? Harusnya 'kan tadi bisa saya jemput."
Eza, Airin dan Marina masuk ke dalam rumah.
"Maaf ya, jika kedatangan mama membuat kalian kaget." Marina tersenyum tipis ketika melihat kekompakan Eza dan Airin.
"Oh ya, aku tadi mau tanya sarapan udah siap 'kan?" Eza melirik Airin.
Airin hanya mengangguk.
Mereka bertiga duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Ini semua Airin yang masak?" tanya sang Mama ketika melihat banyaknya makanan di meja.
"Tidak, Ma. Tadi Arin pesan grab food."
"Airin sedang les memasak, Ma." Eza tersenyum tipis. "Dia tidak bisa masak bukan? Menggoreng telur saja sampai gosong."
Airin mencubit perut Eza dngan gemas. "Apaan sih, Mas! pakai buka kartu segala." Airin mengerucutkan bibir.
"Buka kartunya 'kan sama Mama, bukan orang lain. Jadi untuk apa malu ya 'kan, Ma?" Eza melirik sang mertua.
Marina hanya bisa mengangguk dan tersenyum bahagia melihat Airin yang sepertinya sudah bisa menerima pernikahan ini.
"Ayo kita sarapan, Ma. Hari ini Airin dan Mas Eza berniat untuk liburan, berhubung weekend."
"Kalian berdua mau liburan kemana? Wah, sepertinya Mama menganggu rencana liburan kalian berdua ya?"
"Mama ini ngomong apa, ya gak gitu dong Ma. Bahkan kami akan merasa senang jika Mama ikut pergi berlibur, benarkan sayang?"
Airin mengangguk.
Mereka mulai sarapan sambil mengobrol.
Tiga puluh menit kemudian.
Mobil Airin telah melaju pergi dari rumah, Mama melambaikan tangan dan dia berlalu masuk ke dalam rumah.
Tok tok.
Baru juga pintu ditutup, sudah ada yang mengetuknya.
Marina yang memang baru beberapa langkah dari pintu langsung membuka pintu tersebut.
Ceklek!
__ADS_1
Marina mengerutkan dahi ketika melihat seorang wanita muda di depannya.
"Maaf, cari siapa ya?" Marina bertanya dengan sopan
"Dimana Airin?" ucap Nur tanpa bersikap sopan.
"Airin baru saja pergi."
"Tolong katakan pada Airin berhenti menjelekkan saya di depan kak Eza! Saya tau Airin hanya terpaksa mencintai kak Eza 'kan? Dia itu hanyalah wanita yang tidak punya hati dan sombong!"
Marina hanya menggeleng.
"Punya masalah apa Anda dengan anak saya?"
Mata Nur membola sempurna. "M—mama? Jadi anda—?"
"Ya, saya Mamanya Airin." potong Marina sehingga Nur tidak bisa meneruskan ucapannya.
Nur hanya meneguk Saliva dengan kasar.
"Intinya Anda katakan saja kepada Airin jika ingin mendapatkan cinta kak Eza harus bersaing secara sehat, jangan bermain curang!''
Nur langsung pergi dari hadapan Marina.
Setelah kepergian Nur, Marina hanya menggeleng tidak percaya.
"Bicara tidak ada sopan nya, pergi juga tidak berpamitan.'' Marina langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
•
•
**TBC
__ADS_1
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**