
Malam harinya.
Airin telah sampai di cafe yang menjadi tempat manggung Eza dan kawan-kawan, dirinya terus berjalan lalu duduk di kursi nomor empat. Airin juga memesan makanan serta minuman untuk menunggu penampilan dari Eza.
Beberapa menit kemudian, setelah waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya Eza dan team sudah berada di atas panggung.
"Halo, selamat malam semuanya." ucap Eza menyapa semua orang melalui mic.
Semua menjawab sapaan Eza dan tak sedikit para gadis yang tersenyum sendiri sambil memuji ketampanan seorang Fareza.
Lagu pun mulai dinyanyikan dengan Eza sendiri yang menjadi gitarisnya, mereka membawakan lagu berjudul cinta kita yang dipopulerkan oleh penyanyi Amy search dan Inka Cristie.
Airin menatap ke arah panggung dengan senyum mengembang, berbeda dengan Airin yaitu Nur menatap Airin dengan tatapan penuh dendam.
Setelah lima lagu selesai dinyanyikan, Eza langsung turun dari panggung dan berjalan ke arah Airin. Para gadis yang tidak tahu tujuan Eza kemana hanya tersipu sambil berbisik.
Eza berhenti tepat di meja Airin, dia tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Aku sudah selesai, bisa kita pulang sekarang?" ucapnya sambil terus mengulurkan tangan.
Airin menerima uluran tangan Eza dengan senyum mengembang. "Suara kamu sangat bagus, Mas." lanjutnya sambil menggandeng lengan Eza.
"Sudah banyak yang mengakuinya." jawab Eza dengan sangat percaya diri karena suara memang bagus.
"Benar, sampai semua para gadis menjadi salah tingkah karena mengira kamu menatap ke arah mereka." Airin menyindir gadis-gadis yang tadi duduk di belakangnya.
Eza hanya melirik para gadis itu sejenak dan dia tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Ternyata Airin cemburu dengan gadis-gadis itu." batin Eza senang.
__ADS_1
Sesampainya di parkiran, saat mereka ingin masuk ke dalam mobil ternyata Nur sudah menunggu mereka berdua disana.
"Tunggu!" sentak Nur dengan angkuh.
Suara itu membuat Eza dan Airin menoleh.
"Nur, kamu belum pulang?" Eza bertanya dengan nada biasa saja.
"Pulang? Pulang kemana setelah aku di usir dari kampung Bakti Makmur?"
Eza mengerutkan dahi karena bingung dengan ucapan Nur, sementara Airin hanya memasang wajah santai dan itu mampu membuat darah Nur semakin mendidih.
"Aku sudah tidak tinggal di kampung Bakti Makmur lagi karena istri kamu itu, kak!" Nur menunjuk wajah Airin.
Airin berpura-pura bingung. "Aku?'' menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa harus melibatkan aku?"
Eza menatap Nur dan Airin secara bergantian. "Ini sebenarnya ada apa?"
"Dia—" ucapan Nur terputus karena Airin dengan cepat menyelanya.
"Jadi begini, Mas. Kemarin sewaktu kita pergi jalan-jalan, Nur datang ke rumah dan dia berbicara dengan Mama tanpa rasa sopan sedikit pun." jelas Airin perlahan.
"Itu—" lagi-lagi ucapan Nur terputus.
"SST! Saya belum selesai bicara, jangan menyela dan tolong diam terlebih dahulu." Airin tersenyum tipis.
"Perempuan itu mengatakan jika ingin mendapatkan cintamu harus bersaing secara sehat. Tentu saja sebagai istri aku sangat marah karena suamiku dijadikan seperti taruhan. Aku mengatakan jika dia pelakor, apa itu salah? Kenyataannya memang seperti itu 'kan, dia ingin merebut kamu dari aku dan perempuan yang ingin merebut suami orang dikatakan sebagai pelakor.'' Airin berbicara dengan panjang lebar.
"Tapi harusnya Anda tidak perlu menjelekkan nama saya di depan warga kampung, jika Anda masih punya hati pasti Anda hanya akan bicara pada saya saja tanpa menghasut siapapun!" Nur tidak terima dan dia mendorong tubuh Airin hingga Airin terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Eza menangkap tubuh Airin jika tidak pasti tubuh Airin terbentur badan mobil.
"Apa-apaan kamu, Nur?'' teriak Eza dengan marah.
"Kakak sekarang berubah, semenjak kenal dengan wanita ini kakak tidak pernah seperti dulu lagi!" bentak Nur frustasi.
"CUKUP NUR, CUKUP!" Eza menaikkan suaranya hingga satu oktaf. "Apa yang menurutmu berubah? Ingat baik-baik Nur, kamu sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, jadi meskipun di dunia ini hanya tersisa satu wanita yaitu dirimu maka aku tetap tidak akan menikahi kamu! Kita tidak bisa bersama karena aku sama sekali tidak mencintai dirimu!" Eza berbicara dengan nada tinggi.
Nur kaget dengan ucapan Eza, dia juga baru kali ini melihat Eza yang sangat marah.
"Kak, kamu—"
Eza mengangkat sebelah tangannya dengan cepat.
"Sudah, Nur! Mulai sekarang aku berhenti dari cafe pamanmu dan aku keluar dari band Zan's." keputusan yang Eza yakini.
Nur menggeleng dan tidak percaya dengan reaksi Eza saat ini.
Eza mengajak Airin masuk ke dalam mobil tanpa mengindahkan panggilan Nur.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**
__ADS_1