
Pagi hari.
Airin mengatakan ingin pergi ke kantor dan dia hari ini memutuskan untuk menyetir mobil sendiri. Ya, itu semua adalah alasannya karena Airin berniat untuk menemui Nur dan menanyakan ucapan Nur yang kemarin dia sampaikan pada sang Mama Marina.
"Sayang, aku pergi dulu ya? Nanti sore aku akan menemuimu di cafe yang kamu katakan tadi malam." ucap Airin sebelum masuk ke dalam mobil.
"Baiklah, hati-hati." Eza mengecup dahi Airin.
Airin pun langsung masuk ke dalam mobil dan dia melambaikan tangan setelah mobil melaju pergi.
Setelah mobil Airin menjauh, Eza pun langsung pergi dengan menaiki taksi online.
Sementara Marina, dia hanya menatap kepergian anak dan menantunya dengan harapan yang besar.
"Mama berharap dan selalu berdoa agar pernikahan kalian langgeng tanpa ada yang berniat merusaknya, nak. Mama tidak ingin Airin menjadi dingin seperti dulu." gumam Marina memanjatkan doanya.
Di dalam mobil.
Airin terus saja menggerutu karena mengingat ucapan Nur yang sangat membuatnya kesal.
"Perkataan gadis itu sangat sulit untuk aku lupakan, jika dibiarkan lama-lama dia semakin ngelunjak. Aku akan memberikan pelajaran padanya, jangan harap aku lemah hanya karena selama ini aku diam saja." geram Airin dengan mencengkram stir kemudi.
Airin menancap gas agar cepat sampai di kontrakan milik Nur, untungnya dia sudah berbasi-basi menanyakan tempat tinggal Nur kepada Eza. Eza yang tidak memiliki kecurigaan sedikit pun langsung menceritakan kepada Airin dimana tempat tinggal Nur selama di kota ini.
Dua puluh lima menit kemudian.
Mobil Airin telah sampai di kontrakan kecil nan sederhana milik Nur, dia turun dan segera berjalan ke teras rumah.
Tok tok tok.
Airin mengetuk pintu tanpa mengucapkan salam.
Tidak ada sahutan ataupun reaksi lainnya.
__ADS_1
Tok tok tok.
Airin kembali mengetuk pintu.
Ceklek.
Akhirnya pintu terbuka dan terlihat Nur yang telah selesai bersiap untuk pergi ke cafe.
"Tumben pagi-pagi begini Nyonya besar Syarief sudah berada di kontrakan kecil milik saya?"
Plak!
Tanpa berkata apapun lagi, Airin langsung menampar pipi Nur.
"Tidak perlu basa-basi ataupun sok sopan di depanku! Apa Anda masih ingat dengan ucapan yang Anda katakan pada Mama saya kemarin? Hm!" Airin berkata dengan nada marah.
Nur memegangi pipinya yang terasa perih. "Dasar perempuan gila! Apa ada yang salah dengan ucapanku? Semua yang saya katakan adalah benar dan Anda ingin penjelasan apa lagi?"
"Apa Anda tidak malu mempunyai niat untuk merebut suami saya?" ucap Airin dengan nada tinggi.
"Benarkah? Eza hanya menganggap Anda sebagai adik! Apa Anda lupa dengan itu?" Airin melipat kedua tangan di dada.
Nur yang sudah kehabisan kata-kata hanya mampu diam.
Airin berbalik dan menepuk kedua tangannya.
Prok prok prok.
"Hei semua warga kampung, ayo berkumpul!" teriak Airin dengan licik.
Sementara Nur hanya mengerutkan dahi karena bingung dengan apa yang ingin Airin lakukan.
Beberapa ibu-ibu berkumpul di halaman rumah milik Nur.
__ADS_1
"Ibu-ibu! Saya mau bertanya, jika ada seorang pelakor maka enaknya harus diapakan?" teriak Airin seperti memberi komando.
"Di Jambak!" teriak Ibu-ibu itu dengan kompak.
"Saya ingin mengatakan jika Ibu-ibu harus menjaga suami Ibu-ibu sekalian karena di sekeliling kita ada seorang pelakor." Airin melirik Nur.
Para Ibu-ibu berbisik ria.
"Siapa pelakornya?" ucap salah satu Ibu-ibu kepada teman disebelahnya.
"Entahlah, kita akan mengetahuinya sekarang juga." sahut ibu sebelahnya.
"Nah, ibu-ibu semua pasti bertanya siapa pelakor yang saya maksud." Airin tersenyum tipis dan itu membuat Nur menjadi gelisah.
"Pelakornya ada di belakang saya! Dia!" Airin menunjuk Nur. "Dia adalah perempuan yang ingin mencoba merebut suami saya bahkan tidak tanggung-tanggung, perempuan itu juga nekad datang ke rumah saya dan mengatakan kepada Mama saya jika ingin mendapatkan cinta suami saya maka harus bersaing dengan cara sehat." Airin tersenyum puas karena akhirnya dia bisa memberikan pelajaran kepada Nur.
"Oh, jadi selama ini perempuan itu adalah pelakor. Hei, sebaiknya kamu pergi dari kampung kami sebelum kami menghajar massa kamu sekarang juga!" teriak ibu itu dengan sangat galak.
Nur bingung harus bagaimana, Airin sudah menjatuhkan image nya di depan para ibu-ibu kampung itu.
Airin menghampiri Nur dan dia tersenyum sinis. "Diam bukan berarti takut tetapi aku sengaja karena ingin melihat sampai mana batas kewarasanmu. Aku sekarang puas dan selamat menikmati hujatan dari ibu-ibu galak itu."
Airin pergi berlalu dari hadapan Nur dan tidak memperdulikan teriakan Ibu-ibu yang terus meminta Nur pergi dari kampung tersebut.
Nur yang sudah malu akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah, dia ingin segera mengemasi pakaiannya dan pergi dari kampung itu.
"Keterlaluan kamu Airin, dendamku semakin mendalam karena perbuatanmu ini. Aku tidak akan merasa kalah begitu saja." Nur mencengkeram tas dengan sangat kuat.
•
•
**TBC
__ADS_1
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**