
Satu minggu kemudian.
Hari ini Marina berniat untuk pulang ke kotanya karena sudah satu minggu dia berada di kediaman sang anak dan menantunya.
Airin dan Eza ingin mengantarkan Marina pulang sampai ke rumah tanpa harus menaiki taksi online.
Sebenarnya Airin tidak memperbolehkan Marina pulang hari ini, tetapi Marina bersikeras ingin pulang karena tidak ingin menganggu Airin dan Eza.
"Ayo, Mama sudah siap." Marina menenteng tas nya.
Mereka bertiga menuju ke pintu utama, tetapi saat pintu dibuka ketiganya terkejut sebab ada dua orang pria memakai jas yang sudah berdiri di depan pintu.
"Maaf, cari siapa ya?'' Airin langsung bertanya.
"Apa benar ini kediaman Ibu Airin Kusuma?" salah satu pria itu bukannya menjawab tetapi malah melayangkan pertanyaan kepada Airin.
"Ya, saya Airin. Anda berdua siapa ya?" Airin menatap kedua pria di depannya dengan heran.
"Kami dari bank ingin mengatakan jika rumah serta aset-aset berharga ibu Airin akan kami sita semuanya." ucap pria itu.
"Apa!" pekik Airin dan perkataan pria itu barusan mampu membuat jantung Marina berdetak lemah.
"Apa maksudnya? Kalian berdua datang tanpa di undang dan ingin menyita rumah saya?" Airin berbicara dengan nada marah.
"Begini, Bu. Perusahaan ibu mengalami kebangkrutan dan ini surat-surat untuk menyita rumah ibu." pria tersebut memberikan map cokelat kepada Airin.
"Bangkrut? Sejak kapan perusahaan saya bangkrut?" Airin menjadi bingung sendiri.
Dirinya membuka map itu dan ternyata ada surat resmi dari bank yang mengatakan jika rumah serta aset-aset berharga milik Airin akan disita.
"Tidak mungkin! Bagaimana semua ini bisa terjadi?'' Airin menatap Eza. "Mas, bagaimana ini? Aku tidak mengerti apapun." lanjutnya mengadu.
Eza mengelus pundak Airin agar Airin bisa sedikit tenang.
__ADS_1
"Maaf, pak. Tapi kami tidak merasa jika perusahaan kami mengalami kebangkrutan, sementara istri saya setiap hari pergi ke kantor dan mengecek semua laporan." jelas Eza kepada dua orang pria itu.
"Kami berdua tidak tahu-menahu, Pak. Ini adalah perintah dan kamu hanya menjalankannya."
Mama Airin memenangi dadanya yang terasa sesak, jantungnya seperti sulit untuk diajak kerjasama.
Brugh!
Mama Airin terjatuh di lantai, dia tidak sanggup mendengar ucapan kedua pria itu mengatakan jika perusahaan yang sudah di bangun susah payah oleh Almarhum suaminya harus bangkrut dan lagi rumah serta aset-aset berharga milik Airin harus disita oleh bank.
Airin dan Eza terkejut lalu mereka langsung berjongkok dengan Airin yang memangku kepala sang Mama.
"Ma! Mama bangun, Ma!" Airin menepuk pipi Marina dengan perlahan.
Eza merasa jika jantung Marina tidak lagi berdetak, dia segera memeriksa denyut nadi Marina dan ternyata benar adanya jika Marina sudah tidak lagi bernyawa.
"Mas, ayo kita bawa Mama ke rumah sakit!'' ucap Airin dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Mamaku belum meninggal dan kamu sudah meletakkan kedua tangannya diatas perut?" Airin menatap Eza dengan rasa kesal.
"Inalillahi Wainailaihi Raji'un. Mama sudah tidak ada, Ai." Eza menunduk lemas.
Airin terperangah mendengar ucapan Eza. "APA MAKSUD KAMU, MAS! MAMAKU MASIH HIDUP, DIA HANYA PINGSAN! AKU MOHON JANGAN MENGADA-NGADA SEPERTI INI!" Airin membentak Eza dengan emosi.
"Ai, aku mohon tenangkan diri kamu Ai. Jika kamu tidak percaya, kita bisa bawa Mama ke rumah sakit sekarang." Eza mencoba untuk bersikap tenang.
"Hiks... Mama, Mama gak boleh ninggalin Arin." Airin menangis dengan memeluk tubuh sang Mama yang sudah terbujur kaku.
Eza menegakkan tubuh dan berbicara kepada dua orang pria tadi.
"Pak, saya minta tolong berikan waktu kepada kami untuk pergi dari rumah ini. Izinkan kami mengurus prosesi pemakaman Almarhumah ibu kami dulu barulah kami akan angkat kaki dari rumah ini." ucap Eza dengan sopan.
"Baik, kami akan menunggu. Dan satu lagi, mobil serta barang-barang berharga lainnya akan kami sita juga, termasuk rumah Kusuma yang berada di luar kota."
__ADS_1
Airin mendongak dan menatap pria itu dengan tajam, darahnya mendidih ketika pria tersebut mengatakan ingin menyita rumah yang ada di luar kota.
Airin menurunkan kepala sang Mama yang ada di pangkuannya, dia berdiri dan segera menghampiri kedua pria itu.
"Apa maksud kalian bicara seperti itu? Kalian tidak berhak menyita rumah milik Mama saya!" Airin berbicara dengan nada tinggi.
"Ai, Ai aku mohon sabar. Jangan gunakan emosi, aku mohon." Eza mencoba meredam kemarahan Airin.
"Gak bisa, Mas! Kedua pria ini sudah sangat keterlaluan, mereka membuat Mamaku meninggal dan sekarang mereka ingin menyita semuanya?" air mata masih mengucur deras di pipi Airin.
Eza memeluk tubuh Airin dengan erat sebelum Airin meneruskan ucapannya.
"SST! Ai, kita hanya bisa berdoa kepada Allah, mungkin ini adalah cobaan darinya untuk kita. Kamu tau 'kan jika roda itu berputar? Aku yakin akan ada hikmah yang bisa di ambil dari kejadian ini." Eza semakin erat memeluk tubuh Airin.
Airin hanya menangis tersedu-sedu.
"Kalau begitu kami permisi, Pak. Jangan lupa angkat kaki dari rumah ini setelah prosesi pemakaman selesai, kami tidak ingin berbuat kasar."
"Baik, mohon maaf atas kemarahan istri saya."
Kedua pria itu mengangguk dan pergi dari rumah Airin.
Airin menghampiri jenazah sang Mama kembali dan mereka akan melaksanakan prosesi pemakaman untuk Marina.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**
__ADS_1