
Sore harinya.
Airin dan Eza meninggalkan rumah mewah yang mereka tempati sekarang ini. Sebelum pergi dari rumah mewah itu, Airin menyempatkan diri untuk menatap ke sekeliling rumah.
Rasanya sangat berat meninggalkan rumah itu , banyak kenangan manis dan pahit yang dia lalui di sana.
"Ayo sayang, percaya pada Allah jika rumah ini akan kembali lagi pada kita." Eza merangkul pundak Airin.
"Tapi aku masih berat untuk menerima semua ini, Mas. Sepertinya aku memang perempuan pembawa sial, hiks." Airin kembali menangis.
"Sst! Kenapa kamu bicara seperti itu? Tidak ada namanya manusia pembawa sial, semua ini sudah takdir." Eza memeluk tubuh Airin dengan erat.
Airin hanya mampu menangis tersedu-sedu.
Mereka berdua pergi dari rumah tersebut dengan menaiki taksi online, tujuan keduanya saat ini adalah rumah milik Eza.
*
Dua jam kemudian.
Airin dan Eza telah sampai di kota B.
"Maaf, untuk sementara kita tinggal di rumah ini dulu ya?"
Airin memperhatikan rumah Eza dari luar. 'Mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin menolak karena saat ini tidak ada lagi rumah yang bisa untuk ditinggalin selain disini.' batin Airin pasrah.
__ADS_1
"Ayo kita masuk." Eza menuntun Airin masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Airin duduk di kursi yang berada di ruang tamu.
"Kamu tunggu disini, aku akan membereskan kamar untuk kita terlebih dahulu."
Airin mengangguk dan dia menunduk sedih ketika mengingat kepergian sang Mama ditambah perusahaannya yang tiba-tiba bangkrut.
"Kenapa semuanya harus terjadi padaku? Aku benar-benar pembawa sial, Mas Ezra tiada karena aku, Mama pergi ke hadapan Allah juga karena aku, perusahaan tiba-tiba bangkrut pasti juga karena aku." Airin menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Semua yang aku sayangi dan hidup bersamaku tiada karena kesialan yang ada dalam diriku. Aku takut Mas Eza juga terkena dampak dari kesialan ini." Airin bingung harus bagaimana.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Dio sedang duduk di meja dengan satu botol wine yang ada di genggaman tangannya.
"Haha... Akhirnya aku bisa membuat Airin bangkrut dan juga jatuh miskin." Dio meneguk wine dengan hati riang. "Setelah ini aku akan menjerat Airin dengan segala caraku agar dia jatuh ke dalam pelukanku." lanjutnya dengan menatap tajam lurus ke depan.
Dio beranjak dari sofa dan dia pergi keluar dari kantor untuk mencari Informasi tentang Airin.
Saat tiba di parkiran, Dio tidak sengaja menubruk seorang wanita.
"Hei! Apa Anda tidak punya mata? Jalan selebar ini bisa-bisanya Anda menabrak saya." bentak wanita itu marah karena tas nya jatuh akibat Dio.
Dio hanya diam saja tanpa membalas ucapan wanita itu.
__ADS_1
"Sekali lagi kalau jalan lihat pakai mata, jangan pakai dengkul!" sarkas sang wanita lalu pergi dari hadapan Dio.
Dio menggeleng, untung saja hatinya saat ini sedang bahagia jadi dia tidak terlalu memikirkan ucapan wanita itu.
"Masih baik moodku hari ini sangat bagus, jika tidak maka aku pasti akan menampar wajahnya." Dio melangkah pergi, tetapi baru juga beberapa langkah kakinya terhenti karena dia melihat sebuah kertas seperti pass foto.
Dio melihat ke sekeliling terlebih dahulu lalu setelah di rasa aman dirinya langsung mengambil kertas tersebut.
Dahinya mengerut saat melihat ternyata itu adalah sepotong foto, dan ternyata Dio sangat mengenal seseorang yang berada di dalam foto tersebut.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK ππ»**
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
SAMBIL MENUNGGU BANG EZA DAN NENG AI UPDATE, YUK MAMPIR DULU KE KARYA TEMEN OTHOR π€
__ADS_1