
Tubuh Airin masuk ke dalam pelukan pria yang tadi terus mengikutinya.
"Cantik sekali wanita ini." sang pria menyelipkan anak rambut Airin di telinga.
"Aku ingin mati, aku ingin bunuh diri." rancau Airin dengan suara lirih.
Pria tersebut tersenyum smirk, dirinya menuntun Airin agar masuk ke dalam mobil miliknya.
Saat pria itu berhasil membuka pintu mobil, dirinya tiba-tiba terhuyung karena ada seseorang dari belakang yang memberikan tendangan di punggungnya.
Tubuh Airin jatuh ke tanah.
"Dasar! Hei, berani sekali anda menendangku!' teriak sang pria dengan amarah.
Seseorang tadi hanya menatap Airin.
"Aku hanya ingin menolong temanku dari laki-laki hidung belang seperti anda!"
"Tidak usah kita campur!"
Pria itu tidak. terima dan terjadilah perkelahian antara mereka berdua.
Brugh!
Pria tersebut kalah dalam perkelahian, dia kabur dan kembali masuk ke dalam klub.
Setelah melihat lawannya menjauh, Eza segera menghampiri Airin yang terus merancau dengan mata setengah terpejam.
"Ternyata dia wanita yang sangat nakal." gumam Eza seraya menggendong tubuh Airin. "Aku harus membawa wanita ini kemana?'' lanjutnya bingung.
Eza akhirnya memiliki ide, dia memapah tubuh Airin dan mencari kunci mobil di dalam tas Airin.
Setelah menemukan kuncinya, Eza lansung memencet tombol kunci dan mobil Airin pun ditemukan. Dengan segera Eza membawa Airin masuk ke dalam mobil, lalu mereka akan pergi ke hotel yang tak jauh dari klub.
*
Lima belas menit kemudian.
Eza menggendong kembali tubuh Airin untuk masuk ke dalam hotel.
__ADS_1
"Permisi, saya mau pesan kamar untuk Nona ini. Sepertinya dia sedang mabuk berat." ucap Eza kepada resepsionis.
Resepsionis mengatakan nominal harga yang harus Eza bayar untuk satu malam menginap.
"Saya akan membayarnya nanti setelah keluar dari hotel."
Resepsionis mengangguk lalu memberikan satu kunci kamar kepada Eza.
Eza pun bergegas menuju ke kamar yang resepsionis itu tunjukkan.
Ceklek!
Eza masuk ke dalam kamar dan dia langsung merebahkan tubuh Airin di atas ranjang dengan perlahan.
"Aku ingin mati, aku ingin bunuh diri.'' kata itulah yang terus keluar dari bibir mungil milik Airin.
Eza menatap wanita itu dengan rasa iba. "Seberat itukah hidup yang anda jalani, Nona?"
Eza melirik jam yang menempel di dinding. "Pukul dua belas, aku yakin ibu pasti khawatir karena aku pulang terlalu larut." ucap Eza sambil beranjak pergi.
Grep.
Airin dengan cepat menarik tangan Eza.
"Sepertinya dia benar-benar mabuk berat dan menganggap aku sebagai almarhum suaminya." gumam Eza berusaha melepaskan tangan Airin.
Begitu kuat sekali cekalan Airin hingga Eza sulit untuk melepaskannya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Mas." ucap Airin kembali.
Eza menghela nafas dan duduk di sebelah Airin, dia akan pulang jika Airin sudah terlelap.
Satu jam kemudian.
Mata Eza sangat berat dan rasa kantuk mendera dengan hebat.
"Hoam."
Dirinya berulang kali menguap, ingin pulang tetapi Airin masih betah memeluk tangannya dan wanita itu juga masih merancau tidak jelas.
__ADS_1
"Astaga, sudah pukul satu. Aku ngantuk sekali, mataku rasanya sangat berat dan sulit untuk dibuka." gumam Eza dengan memejamkan mata.
Tanpa sadar, Eza tertidur di samping Airin dengan posisi Airin yang memeluk tangannya.
Drtt Drtt
Ponsel Airin yang ada di dalam tas bergetar.
"Kemana sih Airin? Udah pukul satu kok belum juga pulang?" Okta menjadi khawatir.
Dari tadi dirinya tidak bisa tidur karena terus memikirkan Airin.
"Gue juga bodoh banget, kenapa tadi gak ikut aja." Okta kembali menghubungi ponsel Airin tetapi tetap tidak ada jawaban.
Okta terdiam sejenak lalu dia teringat sesuatu.
"GPS!" ucapnya melacak keberadaan Airin.
"Jalan xxxxx? Bukannya ini hotel ya?" gumam Okta ketika menemukan lokasi ponsel Airin. "Ya ampun, jangan-jangan Airin?" lanjutnya menebak.
Okta bimbang, dia sebenarnya ingin pergi tetapi hari sudah larut dan Okta sangat takut jika terjadi sesuatu dijalan nanti. Tetapi jika dia tidak pergi, dirinya juga sangat khawatir memikirkan keadaan Airin.
"Apa yang harus gue lakukan? Untung aja GPS Airin hidup jadi bisa mempermudah gue melacak keberadaannya." Okta terus berpikir apa yang akan dia lakukan.
"Okey, besok sehabis subuh gue akan menjemput Airin ke hotel itu." Okta membaringkan tubuhnya di atas ranjang masih dengan memikirkan Airin.
Dirinya terus berdoa semoga tidak terjadi hal apapun kepada sang sahabat.
•
•
**VISUAL AIRIN
•
TBC
__ADS_1
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**