
Pagi hari.
Airin terbangun lebih dulu dan sepanjang malam ternyata dirinya tertidur di lengan Eza. Dia tersenyum ketika melihat wajah Eza yang masih terlelap.
"Aku yakin dia pasti sangat kelelahan." ucap Airin sambil mengusap rahang Eza sejenak.
Dirinya melihat jam dinding yang ada di dalam kamar.
"Masih pukul enam, apa yang harus aku lakukan?" Airin bingung harus berbuat apa sementara waktunya pergi ke kantor masih ada satu jam lagi.
Airin berpikiran ingin membersihkan diri terlebih dahulu baru membuat sarapan.
Grep.
Saat Airin ingin turun dari ranjang, dirinya terkejut karena Eza menarik pinggangnya.
Mata Eza terbuka sempurna dan dia menatap wajah Airin yang terlihat berbeda dari hari sebelumnya.
"Mas, sejak kapan kamu bangun?"
"Sejak kamu mengatakan jika aku kelelahan."
Airin menjadi tersipu. "Lepaskan aku, aku ingin membersihkan diri lalu membuat sarapan."
"Sarapan? Memangnya seorang Airin Kusuma bisa memasak?" ejek Eza dengan menyembunyikan wajah di perut Airin.
"Kamu meremehkan aku, Mas. Tentu saja aku bisa, karena memasak adalah tugas seorang wanita." Airin melepaskan paksa tangan Eza dari pinggangnya.
Eza hanya terkekeh melihat wajah imut sang istri.
"Aw." rintih Airin ketika dia hendak turun dari ranjang.
__ADS_1
"Ai! Kamu kenapa?" Eza mendekati Airin.
"Sakit, Mas." Airin melirik Eza dengan malu.
Eza tersenyum tipis dan dia segera beranjak dari ranjang. "Aku akan membantumu untuk ke kamar mandi."
Airin tersenyum manis karena senang dengan sikap Eza ini, Airin berdoa agar sikap Eza tidak berubah.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Airin duduk di closet.
"Jika masih terasa sakit, kamu panggil saja aku."
Airin hanya mengangguk.
Eza pun langsung keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintu.
Setelah Eza pergi, Airin tersenyum sendiri sambil memegangi wajahnya.
"Aw, astaga! Karena terlalu senang aku sampai lupa jika area sensitifku sangat perih dan sakit." akhirnya Airin berjalan dengan perlahan untuk mengunci pintu dan menyalakan shower.
Beberapa saat kemudian.
Airin telah selesai mandi, dia menatap dirinya di cermin terlebih dahulu. Bekas tanda kepemilikan yang Eza buat di melon Airin sangat jelas.
Airin hanya tersenyum tipis dan berjalan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama handuk.
Ceklek!
Eza melirik ke pintu kamar mandi. "Apa perlu aku bantu?" lanjutnya sambil ingin beranjak dari ranjang.
"Tidak-tidak, aku bisa berjalan sendiri. Sebaiknya kamu mandi dan kita sarapan bersama sebelum berangkat bekerja."
__ADS_1
Eza hanya mengedikkan bahu dan berjalan ke kamar mandi.
Cup!
Setiba di samping Airin, dia mengecup pipi Airin sejenak.
Airin pun hanya menggeleng melihat tingkah Eza yang selama ini tidak dia ketahui.
Setelah selesai berganti, Airin segera turun menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Airin melihat bahan makanan di dalam kulkas.
"Hanya ada telur, ayam dan sosis. Apa yang harus aku lakukan dengan bahan-bahan ini?" Airin terdiam sejenak untuk memikirkan masakan apa yang akan dia sediakan untuk Eza.
Airin mengambil telur dan sosis dari dalam kulkas, dia akan membuat omelette sosis untuk sarapan dan juga akan menyediakan roti bakar.
Airin berdiri di depan meja kompor, tangannya memegang telur.
"Bagaimana cara memecahkan telur ini?" Airin menatap telur yang dia pegang.
Selama ini Airin tidak pernah memasak sekalipun, bahkan masak Indomie, menggoreng telur atau lainnya dia tidak pernah.
"Selama ini aku selalu dilayani oleh pembantu, dan sekarang aku harus bekerja sendiri." gumamnya sambil memecahkan telur.
•
•
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
YUK BERIKAN HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA 🤗 JANGAN LUPA TAP FAV, LIKE, KOMEN DAN RATE 🌟 5 ❣️**