CINTAKU TERLARANG AKU MENCINTAIMU FRATER

CINTAKU TERLARANG AKU MENCINTAIMU FRATER
Bab 14


__ADS_3

"Kak Devan," gumam Hellena.


Devan adalah kakak senior Hellena dikampus dan juga satu jurusan.


Dulu saat pertama kali melakukan pendaftaran dikampus sebagai mahasiswa baru, Devan merupakan senior pertama yang Hellena jumpai dan ia ajak berkenalan. Saat itu Hellena pikir Devan adalah salah satu mahasiswa baru yang akan melakukan pendaftaran dikampus. Sebab Devan juga sedang mengantri diloket pendaftaran. Setelah perkenalan itu Devan tak pernah bercerita kalau ia bukan mahasiswa baru, hingga saat kegiatan OSPEK berlangsung barulah Hellena tahu dan kaget ternyata Devan merupakan kakak seniornya.


Hellena sangat mengagumi Devan sejak pertemuan pertama mereka diloket pendaftaran. Bahkan Ia selalu berusaha menarik perhatian Devan dan menunjukkan perasaannya. Devan selalu menanggapi tingkah Hellena dengan senyum ramah. Bahkan Devan selalu menyapa Hellena setiap kali mereka bertemu sehingga Hellena sering baper terhadap Devan. Hingga saat mereka mengikuti kegiatan Dies Natalis jurusannya, saat itulah baru Hellena tahu kalau kak Devan ternyata telah memiliki kekasih. Bahkan mereka mengisi acara bersama dan terlihat sangat serasi. Hellena langsung patah hati dan merasa sangat malu karena selama ini ia berpikir kak Devan tidak memiliki kekasih sehingga ia selalu mencari perhatian dan menunjukan perasaannya pada kak Devan. Sejak hari itu Hellena mulai menjauh dari Devan.


"Lagi cari buku apa?" tanya Devan


"Hmm itu kak buku tulisannya Pak Hiskia Ahmad," lirih Hellena dengan perasaan yang mulai berdebar lagi. Perasaannya yang selama ini ia tutupi dan pendam kini kembali berdebar.


"Oh yang ini?" tunjuk Devan pada Hellena. Saat itu memang Devan sedang memegang buku tulisan Pak Hiskia Ahmad. Ia juga sedang ingin membaca buku tersebut.


"Iya kak. Tapi bukunya sudah di kak Devan biar Hellena cari buku yang lain saja," ucap Hellena yang sedang menghindar dari Devan.


"Yah tidak apa-apa. Biar kamu yang baca duluan saja. Kakak masih punya 2 buku ini untuk kakak baca," ucap Devan sambil menunjukan ketiga buku yang ada ditangannya.


"Benaran tidak apa-apa kak?" tanya Hellena memastikan.


"Iya." jawab Devan. Hellena langsung menerima buku yang diberikan Devan dan segera berlalu menuju tempat duduknya.


"Aduh kenapa perasaanku bergetar lagi sih pas ketemu kak Devan. Pesonanya masih tetap sama." batin Hellena sambil tersenyum.


"Kenapa loe?" tegur Lidwina yang saat kembali dari rak buku ia mendapati Hellena sedang bengong dan tersenyum sendiri.


"Tidak."jawab Hellena yang mulai mode seriusnya membaca buku.


"Untung Lidwina tidak tau. Bisa bahaya kalau sampai dia tau. Bisa-bisa saya diceramahinya dari A sampai Z. Ahh berdosa tidak yah saya terhadap Gio," gumam Hellena.


"Ahh tidaklah. Kan cuman masa lalu doang. Lagi pula tidak punya hubungan apa-apa juga. Hanya sekedar mengagumi saja." batin Hellena lagi


Hellena malah tidak fokus lagi untuk baca. Pikirannya sudah berlari kesana-kemari.


"Ahhh sialan. Kenapa jadi begini sih!" gumam Hellena sambil menghempaskan buku yang ia pegang dan memijit kepalanya. Lalu ia tarik napas dengan kuat dan menghembuskannya agar merasa legah.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Lidwina yang merasa ada yang tidak beres dengan Hellena dilihat dari tingkahnya yang tidak seperti biasa.


"Tidak kenapa-kenapa." jawab Hellena.


"Kalau punya masalah tuh jangan dipendam sendiri, tidak baik. Cerita saja kalau kamu sudah siap buat cerita." ucap Lidwina yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Hellena.


Mereka kembali fokus membaca. Saking asyiknya tidak disadari sudah 2 jam mereka duduk diperpustakaan. Beberapa pengunjung perpustakaan yang tadi masuk bersamaan dengan mereka banyak yang sudah pulang dan tersisa pengunjung yang baru datang. Hellena sudah lelah dan jenuh. Ia ingin segera pulang dan beristirahat.


"Lidwina, balik yuk?" ajak Hellena.


"Ok." jawab Lidwina.


Mereka segera bangun dan meletakan kembali buku yang mereka baca tadi dirak buku tempat mereka mengambilnya. Setelah itu mereka keluar dari perpustakaan.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Lidwina pada Hellena.


"Iya. Mengantuk bangat nih mau langsung tidur kalo sampe kosan." jawab Hellena.


"Boleh tidak saya main dikosan kamu?" tanya Lidwina.


Mereka pulang dengan menumpang angkot. Sebenarnya jarak dari perpustakaan ke kosan Hellena tidak begitu jauh. Biasanya Hellena berjalan kaki saja. Namun karena badannya sudah lelah dan mata yang sudah sangat berat maka Hellena memutuskan ia dan Lidwina menumpang angkot biar cepat sampai dan segera beristirahat.


10 menit saja mereka sudah sampai. Tadi saat turun dari angkot Hellena dan Lidwina sempat membeli makan siang mereka diwarung mba Hanum. Hellena membuka pintu kamarnya, membuka sepatu dan meletakan tas lalu menghempaskan tubuhnya diranjang.


"Lidwina...Kalau kamu lapar makan duluan saja yah. Saya mau tidur. Kalau mau ngemil itu ada cemilan dilemari dapur," ucap Hellena yang sudah nyaman memeluk guling dan mulai terlelap.


"Lidwina yang memang sedang lapar langsung memakan makanannya. Setelah itu ia segera bergabung bersama Hellena dan terlelap.


Apalagi siang itu hujan turun dengan deras setelah mereka tertidur. Hellena dan Lidwina semakin pulas tidurnya. Hellena terbangun karena perutnya sudah keroncongan. Dilihatnya Lidwina masih pulas. Ia turun dari ranjang menuju dapur mengambil makan siangnya yang tadi tidak sempat ia makan lalu melahapnya. Bunyi dentingan sendok dan piring dari Hellena membangunkan Lidwina.


Lidwina turun dari ranjang dan menghampiri Hellena yang sedang makan.


"Mau makan lagi? Tuh ada cemilan didapur. ambil sendiri," ucap Hellena.


"Entar dulu, masih malas." ucap Lidwina yang memang masih malas karena baru bangun tidur. Hellena yang sudah selesai makan kembali ke dapur mencuci piring dan sendok yang ia makan lalu mengambil beberapa cemilan untuknya dan Lidwina. Tidak lupa ia membuat 2 cangkir teh untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Nih saya bawain buat kamu," ucap Hellena sambil meletakan Napan yang berisi beberapa cemilan dan cangkir teh.


"Thanks," lirih Lidwina.


Diluar hujan masih turun dengan deras membasahi bumi.


"Kapan hujannya redah ni. Keburu malam nanti tidak dapat angkot." Ucap Lidwina yang memandang hujan dari balik jendela kamar.


"Nanti pakai payung punya saya saja," jawab Hellena.


Jam 5 sore hujan baru mulai redah. Namun masih tetap rintik-rintik kecil.


"Saya pulang yah, hujan sudah redah nih" ucap Lidwina.


"Ok. Ini pakai payung. Diluar masih rintik-rintik nanti kamu sakit," ucap Hellena sambil menyerahkan payung.


"Pinjam jaket dong. Dingin nih. Nanti besok saya balikin," pintah Lidwina. Hellena mengambil jaketnya yang diikuti Lidwina dari belakang.


"Ini," sodor Hellena.


"Ahh kekecilan," ucap Lidwina setelah mencoba jaket tersebut.


Lidwina memang memiliki tubuh yang lebih tinggi dan gemuk dari Hellena.


"Yang ini saja,"ucap Lidwina sambil menarik jaket yang digantung Hellena digantung lemari.


"Ihh jangan yang itu. Lihat jaket punya saya yang lain saja." ucap Hellena


"Loh terus ini jaket punya siapa, kalau bukan punya kamu?" tanya Lidwina.


Bersambung.........


🌹🌹🌹🌹


Bagus tidak ya ceritanya.....

__ADS_1


Mohon dukungannya dong. Setelah dibaca jangan lupa tinggalin jejak buat Author yah🙏 biar semangat.


__ADS_2