
"Yang penting kamu selalu doa buat saya juga," pintah Giordano.
"Iya sayang. Nama kamu selalu saya bawah dalam doa-doa saya," ucap Hellena.
Suasana hati Hellena sudah kembali membaik dan ia sudah ceria lagi. Hellena memeluk lengan Giordano dengan kepalanya yang tetap bersandar pada bahu Giordano sambil memandang jauh ke tengah lautan.
"Gio..." panggil Hellena tanpa mengalihkan pandangannya dari lautan.
"Ehmm..." jawab Giordano sambil memandang ke arah Hellena.
"Kamu liburan berapa lama?" lirih Hellena sendu
"2 Minggu sayang. Kenapa, mau ikut?" goda Giordano.
"Tidak. Cuman tanya doang," jawab Hellena datar. "Emang boleh kalau saya ikut?" tanya Hellena
"Boleh, tidak apa-apa," ucap Giordano masih menggombal Hellena.
"Nanti sampai sana orang tua kamu tanya, bagaimana?" tanya Hellena yang pikirnya serius.
"Ya tinggal bilang saja saya punya teman," jawab Giordano enteng.
"Masa bawa teman cewek pulang libur, nanti orang tua kamu curiga bagaimana?" tanya Hellena yang makin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
"Ya bilang saja kalau kamu pacarku," gombal Giordano sambil terkekeh.
"Itu yang ada saya di usir dari keluargamu dan di marahi dari A sampai Z, Kamu juga bakalan dapat Omelan," ucap Hellena yang sudah bergidik ngeri membayangkan ia di marahi dan diusir oleh orang tua dan keluarga Giordano karena ketahuan menggoda putra mereka. Belum lagi ia yang belum pernah tau daerah tempat asal Giordano, nanti bagaimana ia akan pulang, takutnya nyasar.
Giordano malah tertawa puas melihat ekspresi Hellena yang sudah berpikir jauh dan tidak-tidak bila di usir oleh orang tua dan keluarganya, padahal ia hanya menggodanya saja tadi.
"Ih kok malah tertawa!" kesal Hellena.
__ADS_1
"Habis kamu berpikirnya jauh amat sayang. Mana berani saya bawah kamu pulang libur bareng saya, yang ada saya pun di usir dari rumah. Kan kita masih kuliah belum punya kerjaan," ucap Giordano.
"Iya yah," kekeh Hellena.
"Tidak usah pikiran yang tidak-tidak. Saya tidak bakalan macam-macam disana, cuman liburan saja dengan keluarga." tutur Giordano yang menangkap kekhawatiran Hellena.
"Ihhh siapa yang pikir macam-macam coba," elak Hellena.
"Yah kamu lah Elle," ucap Giordano sambil mendorong kening Hellena dengan jari telunjuknya.
"Hahahhaha.......," kekeh Hellena karena tidak bisa berbohong lagi.
"Gio nanti dikampung pegang HP kan?" tanya Hellena memastikan apakah Giordano membawa handphone atau tidak saat pulang libur.
"Iya sayang. Kan liburan jadi saya bebas pegang handphone." jawab Giordano
"Yes... Saya boleh dong chat dan telepon kamu terus, kan rindu," ucap Hellena dengan ekspresi yang dibikin seimut mungkin.
"Boleh sayang. Kalau saya tidak sibuk pasti saya balas pesan chat kamu dan angkat telepon kamu, tapi kalau saya sibuk maka jangan marah yah saya tidak angkat atau balas pesan chat kamu," tutur Giordano.
"Lusa sayang," jawab Giordano datar.
"Ini hari Minggu, lusa berarti hari Selasa ini?" tanya Hellena dengan nada yang terkejut.
"Iya. Jangan rindu terus yah, nanti saya juga rindu kamu terus," ucap Giordano sambil mengelus-elus pucuk kepala Hellena.
"Kalau itu saya tidak bisa jamin sayang, urusan hati ini tidak bisa di kompromi," kekeh Hellena.
"Pulang yuk? sudah sore nih," ajak Giordano. Karena meskipun sudah libur, aturan waktu keluar dan masuk asrama Biara tetap seperti biasanya, tidak berubah.
Hellena melepaskan pelukannya dari lengan Giordano dan beranjak berdiri membersihkan pasir-pasir yang melekat pada celananya, begitupun Giordano. Setelah itu mereka menuju parkiran dan meninggalkan pantai berboncengan dengan sepeda motor milik Giordano.
__ADS_1
Giordano mengantarkan Hellena kembali ke kosan terlebih dahulu dan mengambil barang belanjaannya yang tadi ia titipkan dikosan Hellena. Dan jangan lupa akan selalu ada drama yang dibuat Hellena setiap kali akan berpisah dengan Giordano.
"Elle, sudah dulu yah, nanti saya terlambat loh masuk Biaranya dan nanti saya dihukum sama Pater?" ucap Giordano mencoba mengakhiri drama dari Hellena. Pater adalah kaum klerus yang tingkatannya paling tinggi di biara dan telah kaul kekal.
Dengan berat hati Hellena melepaskan pelukannya dari Giordano dan membiarkan Giordano segera pulang, karena ia tidak ingin kalau kekasihnya itu dihukum karena terlambat masuk biara.
Giordano merasa legah Hellena mengakhiri drama pelukannya. "Saya pulang yah," pamit Giordano sambil memeluk dan mengecup kening Hellena dan segera berlalu meninggalkan Hellena dengan buru-buru karena waktunya tinggal beberapa menit lagi.
"Hati-hati Gio," teriak Hellena karena Giordano sudah melajukan sepeda motornya meninggalkan kosan Hellena.
Setelah Giordano pulang, Hellena mengangkat jemurannya yang pagi tadi ia cuci ditali jemuran untuk dibawah masuk dan dilipatnya. Baru setelah itu ia membersihkan kamar lalu membersihkan diri dan membeli makan malamnya di warung mba Hanum dengan Gaven sahabatnya.
Giordano melajukan motornya dengan sangat ngebut karena tidak ingin terlambat. Ia takut kalau dirinya terlambat, bisa-bisa jadwal keberangkatannya untuk liburan pada hari Selasa lusa nanti di tunda karena hukuman dari Pater. Belum lagi ia telah mengabari orang tua dan keluarganya di kampung kalau hari Selasa lusa ia akan pulang libur.
Syukurnya Giordano tiba di pintu gerbang asrama tepat saat pintu gerbang hendak di tutup oleh yang bertugas. Ia selamat. Giordano masuk ke asrama dimana teman-temannya sudah ada disana. Giordano langsung menuju kamarnya untuk meletakan barang-barang belanjaannya tadi untuk ole-ole buat keluarganya di kampung.
Setelah itu Giordano membersihkan diri lalu mengabari Hellena kalau ia sudah sampai dengan selamat dan hampir saja terlambat.
Mendengar handponenya berdering, Hellena langsung mengambil handphonenya yang ia letakan di kamar dan membaca pesan yang rupanya dari Giordano. Mendapat kabar dari Giordano, Hellena merasa legah karena Giordano tidak terlambat.
Hellena meletakan kembali handphonenya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 30 menit ia membersihkan diri, Hellena keluar dengan wajah yang segar mengenakan piyama mandi dan rambut yang dibungkus handuk. Ia memakai pakaian dan mengoles krim diwajahnya. Hellena membuka handuk yang membungkus rambutnya lalu mengerikan rambutnya.
Baru mulai mengeringkan rambut, Gaven sudah menghampirinya di kamar.
"Hellena,"panggil Gaven dari luar karena kamar Hellena masih di tutup dan dikunci dari dalam.
"Iya, sabar," ucap Hellena sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basa.
Karena tidak ingin membuat Gaven menunggu lama, setelah rambutnya disisir rapi, Hellena mengambil beberapa lembar uang di dompetnya lalu membuka pintu kamar. Mereka langsung menuju warung mba Hanum untuk membeli makan malam.
"Ven, kamu pulang libur?" tanya Hellena di tengah perjalanan mereka.
__ADS_1
"Tidak. Saya liburan di kos saja, cuaca lagi tidak bersahabat nih, gembong tinggi," tutur Gaven yang memang sering pulang libur menggunakan kapal, karena kampung halamannya berada di pulau seberang yang berbeda dengan kota yang mereka tinggal saat ini.
Bersambung.....