
Begitulah hari pertama di liburan Giordano. Sebagai anak Desa. Ia terlihat gagah mengenakan topi petani. Pemandangan anak desa yang sedang memanen kopi bersama keluarganya.
Giordano tidak mengabari Hellena hari ini. Biarlah nanti malam baru ia hubungi. Lagian Hellena pasti sedang sibuk dengan praktikum dan laporannya.
Iya tidak mau mengganggu atau mengalihkan perhatian Hellena.
Tahu saja Hellena, kalau sudah di beri kabar atau di telepon maunya berlanjut terus, tidak mau berhenti.
Terik matahari sangat panas, untungnya mereka memetik kopi dibawah naungan pohon kopi dan beberapa pohon lain yang berfungsi untuk menaungi tanaman kopi, sehingga panas terik matahari tidak terasa.
Udaranya sejuk, ditambah dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi di siang terik begini membuat mata Giordano terasa berat dan mulai menguap.
"Ditengah kebun pun menguap, ciri-ciri anak pemalas," tegur sang papa yang tak sengaja melihat Giordano menguap.
Giordano hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar nasihat sang papa.
Perut Giordano sudah lapar. Bahkan suara cacing-cacing yang berteriak nyaring minta segera diisi. Pantasen saja perutnya sudah lapar, ternyata jam sudah menunjukan pukul 12.00 siang. Jam makan siang.
__ADS_1
Giordano undur duluan menuju pondok kecil mereka. Ia duduk berselojoran diatas bale-bale kecil di samping pondok menunggu mama dan papa serta kedua adiknya mundur.
Maklum sudah setahun ia hidup di kota, hidup membiara yang tidak bekerja fisik seperti ini membuatnya cepat kelelahan.
Mama Gio yang melihat putranya sudah mundur langsung menyusul ke pondok untuk menyiapkan makan siang mereka.
Mama Gio mengisi air pada sebuah ember kecil untuk mencuci tangan mereka. Baru setelah itu ia mulai menata makanan di atas bale-bale kecil tersebut.
Giordano yang melihat mamanya mulai menata makanan, ia turun dari bale-bale tersebut lalu mencuci tangannya.
Livia dan Kikan juga berebutan mencuci tangan. Baru setelah itu mereka duduk makan bersama.
Makanan terasa nikmat karena penuh rasa kekeluargaan dan kasih di dalamnya.
Bila anak kota yang melihatnya pasti akan ada rasa iri.
Giordano malah sampai menambah porsi makannya melebihi porsi biasa ia makan selama di asrama biara.
__ADS_1
Mungkin karena makan di alam terbuka, bersama orang-orang terkasih, di dukung oleh tiupan angin yang segar membuat nafsu makannya bertambah.
Ia makan sangat lahap seperti orang yang kelaparan seminggu tidak makan. Mama Gio hanya tersenyum menatap sang putra.
Ia terharu melihat sang putra makan dengan lahap masakannya. Ya mama Gio sangat rindu akan moment ini, rindu akan putranya yang selama setahun ini harus hidup terpisah karena pilihannya sendiri ingin hidup membiara.
Kikan dan Livia pun tidak mau kalah. Takut tidak kebagian lauk pauk yang tersisa karena sang kakak yang sudah menambah makanannya, keduanya pun berebut lauk pauk serta nasi yang tersisa.
Sungguh suasana seperti inilah yang selalu dirindukan para orang tua. Livia malah sampai merebut lauk dari piring sang kakak saat Giordano lengah, karena ia tidak kebagian.
Sontak hal itu membuat Giordano teriak refleks pada sang adik yang membuat mereka semua tertawa bersama.
"Sudah-sudah... Nanti di rumah mama masakin lebih banyak lagi," ucap mama Gio setelah melihat ketiga anaknya yang saling berebut makanan.
Papa Gio dan mama Gio sudah selesai makan, sedangkan ketiga anaknya masih semangat melahap makanan yang ada di piring masing-masing.
Bersambung......
__ADS_1
Yuk dibaca....
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komentar untuk author ya biar author semangat dan rajin update ya🌹🙏🙏