
Karena menunggu sedikit lama, akhirnya pak Sendy pun tidak sabaran lalu masuk menerobos kamar mandi.
“Pak, bapak ngapain di sini?” tanyaku
“Kamu lama sih?” protes pak Sendy
“Ya ampun, pak. Biarpun aku berlama-lama di dalam kamar mandi, tapi bukan berarti bapak bisa seenaknya saja masuk kaya begini kan?!” protesku
“Waduh, bisa-bisa gila ni aku lama-lama kalau pak Sendy jadi aneh kaya begini.” Gumamku dalam hati
“Kamu juga sih, suruh siapa tidak mengunci pintu kamar mandi.” Ucap pak Sendy balik menyalahkan aku
“Bapak... !!! Sudah sana keluar dulu. Aku mau ganti baju sedikit lagi nih.” Ucapku
“Tapi kamu jangan lama-lama ya.” Pintanya dengan nada manja
“Iya, pak.” Sahutku
Ketika dia sudah keluar dari kamar mandi...
***
“Hello... Ada yang bisa kasih tahu aku tidak sih, Itu guru satu kenapa jadi berubah gini? Kok aku jadi takut.😢” (Tia)
***
“Tia, kamu cepetan keluar donk, sayang.” Panggil pak Sendy
“Tuh kan apa tadi aku bilang.” (Tia)
__ADS_1
“Tia..!!” panggilnya lagi
“Iya.. Iya, pak. Ini sudah mau keluar.” Sahutku yang langsung membuka pintu kamar mandi
“Oh, Tia..” ucapnya yang langsung memelukku erat
“Aduduh pak. Aku tidak bisa nafas nih. Lepaskan aku, pak.” Pintaku
“Aku tidak mau lepasin kamu.” Ucapnya
“Pak, aku boleh jujur tidak?” ucapku
“Boleh. Mau jujur apa?” sahutnya yang masih belum juga melepaskanku dari pelukannya.
“Pak, jujur, kalau bapak seperti ini tuh malah buat aku jadi takut sama bapak. Bapak kenapa tidak kaya biasanya saja sih?” protesku
Aku yang mendengar ucapannya itu, seketika ada rasa iba sekaligus bersalah. Aku tidak tahu kalau cintanya ke aku itu sangatlah besar.
“Pak, ya sudah tidak apa-apa kalau memang itu yang bapak mau. Tapi ini tuh sumpah deh pak, aku engap. Susah mau nafas.” Ucapku
“Eh iya.. Iya maaf.” Ucapnya yang langsung melepaskan pelukannya
“Pak, tapi ada yang masih mengganjal ni dipikiranku.” Ucapku
“Apa?” tanyanya
“Aku kan masih kelas 1. Masih jauh dari kelulusan. Bapak tidak akan macam-macam kan sama aku?” tanyaku.
“Tidak sayang. Aku tahu kok apa yang kamu khawatirkan. Tapi..” pak Sendy tidak meneruskan ucapannya karena ragu
__ADS_1
“Tapi apa, pak?” tanyaku
“Hmm... Aku tidak bisa menahan ingin mencium kamu.” Sahutnya
Aku yang mendengar ucapannya itu, mendadak menjadi deg-degan dan mungkin saja wajahku ini memerah seperti tomat matang..
“Hadeuh.. Gila. Ini kenapa begini sih? Tidak. Pokoknya aku harus berusaha tenang.” Gumamku dalam hati
“Hmm... Pak, aku lapar. Hehehe...” ucapku mencoba agar bisa menjadi sebiasa mungkin
“Kamu mau makan?” tanyanya dan aku pun mengangguk
“Ayo sekarang kita makan saja di luar. Hari ini aku tidak mau masak. Aku maunya dekat terus sama kamu.” Ucap pak Sendy manja
“Lha kalau di luar, terus ada teman-temanku yang lihat bagaimana?” tanyaku
“Terus gimana donk?” ucap pak Sendy.
“Ya sudah, kalau begitu aku saja yang masak. Gimana?” ucapku.
“Kamu bisa masak?” tanyanya
"Tidak.” Sahutku santai
“Lha kalau tidak bisa masak, kenapa kamu ingin masak?” tanyanya bingung
“Kalau cuma sekedar masak mie saja, aku bisa pak. Aku lapar. Yuk pak. Ayolah. Kita masak mie.” Ucapku sambil membalikkan badannya dan mendorongnya ke luar dari kamarku.
Lanjut..👇
__ADS_1