
Keesokan harinya, rutinitas pun kembali seperti biasanya. Aku ke kelas dan pak Sendy pun menjadi guru BK
Namun, untuk kali ini, pak Sendy terihat jauh lebih tidak posesif lagi di banding sebelumnya.
“Tia, nanti saat pulang, kamu tunggu aku di mobil ya.” Ucap pak Sendy
“Tidak usah ke ruang BK lagi, mas?” tanyaku
“Iya.” Sahutnya
“Oh ya sudah kalau begitu. Aku tunggu di sana nanti pulang sekolah.” Ucapku dan dia pun mengangguk sambil tersenyum
Aku pun turun dari mobil dan meninggalkan pak Sendy.
Dalam perjalan ke kelas, aku bertemu dengan pak Rio
“Hai, Tia. Tunggu!!” panggilnya
“Eh, bapak. Ada apa?” tanyaku
“Nanti saat istirahat, kamu ke ruangan BK ya.” Pintanya
“Buat apa, pak?” tanyaku bingung
“Pokoknya kamu datang saja, ya. Aku tunggu. O ya, ajak teman kamu itu juga.” Ucap pak Rio
“Teman? Yang mana?” tanyaku
“Teman sekelas kamu yang perempuan.” Ucapnya
“Oh si Rika?! Oke lah kalau begitu. Tapi ada syaratnya.” Ucapku
“Apa itu, Tia?” tanya pak Rio
“Aku inginnya ada makanan. Kan itu waktunya aku istirahat. Gimana, pak?” tanyaku
“Hmm... Beres.” Sahut pak Rio
“Ok, siip. Nanti istirahat kami berdua datang ke ruangan BK. Bapak tunggu saja ya.” Ucapku dan pak Rio pun mengangguk
__ADS_1
Setelah mengobrol sebentar, kami pun berpisah.
Sesampainya di kelas, aku pun langsung duduk di bangkuku. Namun, tiba-tiba...
“Tia, waktu kemarin kamu kemana? Kok pulang duluan sih?” ucap Haris
“Kemarin?” ucapku yang sudah lupa dengan kejadian di taman bermain
“Iya, kemarin. Waktu ke taman bermain sepulang sekolah.” Ucap Haris
“Taman bermain?!” ucapku mencoba mengingat dan Haris pun mengangguk
“O iya.. iya.. taman bermain ya?! Hmm, waktu itu aku memdadak ada urusan, jadi aku pulang duluan.” Sahutku
“Urusan apa?” tanya Haris kepo
“Urusan ya urusan. Yang pasti urusannya itu tidak ada hubungannya sama kamu, Ris. Jadi tidak usah kepo deh.” Celetuk Rika yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingku
“Ah.. Kamu, Rik. Aku kan cuma tanya saja. Tidak ada maksud lain.” Jelas Haris
“Tanya saja apa ‘tanya saja’?! Kalau tanya saja kenapa kepo banget sih?” ucap Rika
“Biarkan saja, Bwek😝. Ya sudah, sana. Balik saja ke asalmu.” Celetuk Rika
“Hai, Rik. Kok kamu begitu sekali sama si Haris?” tanyaku
“Biarkan saja. Masalahnya aku kan harus jagain kamu, Tia.” Ucap Rika
“Jagain? Memangnya kenapa aku harus di jagain?” tanyaku bingung
“Hmm... Itu sih ada dua alasan.” Ucap Rika
“Dua alasan?! Apa saja itu?” tanyaku
“Pertama, Haris masih suka padamu dan yang ke dua, karena statusmu.” Sahut Rika
“Lha memangnya ada apa dengan statusku?” tanyaku
“Dasar kamu tuh ya. Sadar donk, sayang. Kamu kan sudah bukan lagi single, kamu seharusnya bisa menjaga jarak dengan cowo lain demi bisa menjaga perasaan pasanganmu.” Ucap Rika
__ADS_1
“Memang apa harus seperti itu? Aku sama sekali tidak boleh dekat dengan cowo lain?” tanyaku yang masih belum sadar akan apa yang harus di lakukan seorang istri
“Haizz, ni bocah. Bahaya banget sih kamu jadi istri. Nih ya dengarkan aku. Kamu, seorang istri, wajib menjaga perasaan suami kamu apapun yang terjadi. Kamu itu sudah tidak bisa lagi bebas seperti cewe’ single pada umumnya. Kamu boleh berteman, tapi kamu juga jangan terlalu dekat. Apalagi sampai memberi harapan palsu. Karena itu tidak bagus untuk banyak pihak. Baik itu suami kamu, cowo itu ataupun untuk diri kamu sendiri. Kamu mengerti, Tia?” ucap Rika
“Hmm... Begitu ya. Agak susah juga ya?!” ucapku
“Susah kenapa, Tia?” tanya Rika
“Ya susah saja. Masalahnya kamu kan tahu sendiri. Umur kita yang sekarang ini itu umur dimana taraf mengenal cinta. Jadi... Aku ragu kalau aku tidak akan dekat dengan cowo lain.” Ucapku yang benar-benar membuat orang sebal
“Huh... Terserah kamu saja. Tapi ada 2 pesanku untuk kamu. Jika kamu sampai berani bermain-main dengan perasaan maka yang pertama, jangan pernah kamu melibatkan aku dan yang ke dua, kamu jangan sekali-kali bilang kalau kamu menyesal. Itu saja.” Ucap Rika serius dan membuat aku merasa seperti sedang di beri peringatan
“Rik, kalau kamu di posisi aku, apa kamu bisa menjamin perasaan kamu sendiri?” tanyaku
“Bisa.” Sahutnya mantap
“Kamu tidak ragu?” tanyaku lagi
“Tidak. Karena kalau aku sampai ragu, berarti aku kejam.” Sahutnya
“Gimana caranya kamu bisa memastikan bahwa kamu bisa menjamin perasaan kamu itu?” tanyaku
“Kan kemarin aku sudah pernah bilang. Tanyakan pada dirimu sendiri, bagaimana perasaan kamu sendiri jika tiba-tiba orang yang kamu sayangi tiba-tiba mengkhianatimu dan pergi?! Pertanyaan itu saja cukup untuk bisa memastikan perasaanmu sendiri.” Sahut Rika dan aku pun terdiam
Di saat aku terdiam, tiba-tiba aku teringat pesan pak Rio
“O ya, Rik. Nanti saat istirahat, kita di suruh ke ruangan BK oleh pak Rio.” Ucapku
“Pak Rio atau pak Sendy?” tanya Rika memastikan
“Pak Rio, Rik.” Sahutku
“Pak Rio?! Lha buat apa kita di suruh ke sana?” tanya Rika
“Tidak tahu, Rika.” Sahutku
“Oh, ya sudahlah. Disuruh ke sana ya ke sana.” Ucap Rika santai
Bersambung...
__ADS_1