Cintanya Guruku Padaku

Cintanya Guruku Padaku
Firasat


__ADS_3

Setelah beberapa saat, aku dan Rika sudah berada bersama pak Sendy dan juga pak Rio


“Tia, gimana keadaan kamu sekarang?” tanya pak Rio


“Aku sudah jauh lebih baik, pak.” Ucapku


“Oh, syukurlah.” Ucap pak Rio.


“Memangnya ada apa, pak?” tanyaku bingung


“Tidak ada apa-apa, Tia.” Sahut pak Rio


“Oh.” Sahutku singkat


# Flash back


“Gimana keadaannya Tia, Sen?” tanya pak Rio


“Dia sudah jauh lebih baik, Rio.” Sahut pak Sendy


“Oh.” Ucap pak Rio singkat


“Eh iya, Sen. Memangnya si Tia sampai seperti itu tuh alasannya apa?” tanya pak Rio kepo


“Aku sendiri juga kurang tahu, tapi yang pasti sepertinya sedang ada yang dia pikirkan.” Ucap pak Sendy


“Sedang ada yang dia pikirkan?! Hmm... Memangnya kira-kira dia sedang memikirkan apa, Sen?” tanya pak Rio bingung


“Kurang tahu pastinya, Rio. Tapi aku merasa kalau dia seperti ini, itu karena Fia.” Ucap pak Sendy


“Fia? Siapa memangnya Fia itu?” tanya pak Rio yang masih saja bingung


“Fia itu anak murid baru di sekolah kita, Rio. Dia juga teman baru Tia di kelas.” Jelas pak Sendy membuat pak Rio semakin bingung


“Lha, tunggu-tunggu. Aku jadi semakin tidak mengerti deh, kenapa Tia sampai segitunya sama murid baru. Mereka kan belum saling kenal?!” ucap pak Rio


“Memang sih. Kelihatannya mereka itu teman baru, tapi sebenarnya tidak.” Ucap pak Sendy yang selalu buat pak Rio menjadi super bingung


“Maksudnya?” tanya pak Rio


“Hmm... Jadi begini. Fia itu adalah sepupu angkatku dan...” ucapan pak Sendy terpotong karena bingung bagaimana menjelaskannya


“Dan apa, Sen?” tanya pak Rio


“Dan... Hmm... Dia juga menyukaiku.” Jelas pak Sendy pada akhirnya

__ADS_1


“Apa???” teriak pak Rio spontan


“Stststt... Jangan teriak. Nanti dia dengar.” Ucap pak Sendy


“Oh... Memangnya dia tidak tahu ya kalau Fia itu suka sama kamu?” ucap pak Rio


“Tidak juga. Dia sudah tahu kok.” Ucap pak Sendy santai


“Lha kalau dia sudah tahu, kenapa aku disuruh jangan teriak-teriak?!” ucap pak Rio


“Masalahnya ini masih belum pasti kalau itu alasannya.” Sanggah pak Sendy


“Hadeuh, Sendy.. Sendy...” ucap pak Rio


Tak selang berapa lama aku dan Rika pun datang.


# Flash back end


Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, pak Rio dan juga Rika pulang. Kini tinggallah aku berdua dengan pak Sendy


“Tia, apa benar kamu sudah jauh merasa baik?” tanya pak Sendy


“Sudah kok, mas. Sudah jauh lebih baik.” Sahutku


“O syukurlah kalau begitu. Sini duduk, kita ngobrol dulu sebentar.” Ucap pak Sendy dan aku pun duduk di samping pak Sendy


“Begini Tia, aku mau tanya sesuatu dan aku minta kamu jawab jujur.” Ucap pak Sendy


“Ya, baiklah. Mau tanya apa?” ucapku


“Sebenarnya kamu bisa sampai seperti ini, itu kenapa?” tanya pak Sendy pada akhirnya


Untuk sesaat aku hanya terdiam dan pak Sendy pun menjadi penasaran


“Apa karena Fia?” tanya pak Sendy lagi dan ini membuat aku sontak langsung melihat ke arahnya


“Jadi benar kalau ini semua karena kehadiran Fia.” Ucap pak Sendy menyimpulkan


“Hmm... Mas.” Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya tadi


“Apa?” sahutnya


“Mas, aku takut.” Ucapku


“Takut kenapa, Tia?” tanya pak Sendy

__ADS_1


“Aku punya firasat tidak enak, mas.” Ucapku


“Tidak enak, gimana?” tanya pak Sendy bingung


“Aku merasa kalau Fia datang ke sini itu karena ingin mencoba memisahkan kita, mas.” Jelasku


“Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?” ucap pak Sendy heran


“Entahlah, mas. Tapi aku merasa tidak enak sekali. Saat tadi aku bertemu dengannya, ekspresi yang dia perlihatkan itu seolah-olah akan melakukan sesuatu.” Jelasku


“Sudahlah. Jangan terlalu berfikir yang tidak-tidak. Yang penting sekarang kamu harus tahu satu hal. Aku, Sendy, tidak akan pernah berpaling pada siapapun. Karena hanya kamu yang selalu ada di hatiku.” Ucap pak Sendy sambil mengelus-elus rambutku


“Iya, mas.” Sahutku


Tapi entah mengapa, walau pak Sendy sendiri sudah mengatakan hal itu, tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku.


***


Keesokan paginya, ketika hendak berangkat ke sekolah, aku dan pak Sendy kedatangan seseorang


“Hai..” ucap orang yang baru datang itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Fia


“Fia?!” gumamku dalam hati sambil melihat pak Sendy


“Ada apa, Fia?” tanya pak Sendy


“Aku boleh berangkat bersama kalian, tidak?!” ucap Fia


“Hmm, ya sudah. Selama pak Sendy tidak keberatan, aku sih setuju-setuju saja.” Ucapku


“Makasih, Tia.” Ucap Fia sambil tersenyum


“Eits, tunggu dulu. Aku kan belum bilang kalau setuju.” Ucap pak Sendy


“Maksud mas, apa?” tanya Fia bingung


“Maksudku, kalau kamu memang mau ikut dengan kami, kamu harus penuhi syaratnya dulu.” Ucap pak Sendy


“Apa itu?” tanya Fia


“Pertama, di sekolah jangan panggil aku dengan sebutan mas. Ke dua, nanti kamu, aku turunkan jauh sebelum masuk gerbang sekolah. Ok?!” Ucap pak Sendy


“Hmm... Baiklah kalau begitu.” Ucap Fia


“Ok. Sekarang kita berangkat.” Ucap pak Sendy

__ADS_1


Lalu kami bertiga pun berangkat ke sekolah bersama-sama.


Lanjut..👇


__ADS_2