
Setelah membawaku keluar dari toilet, pak Sendy langsung mendudukkan aku di kursi ruangannya dan memberiku minum serta sedikit cemilan.
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanya pak Sendy
“Sudah mendingan, pak. Eh salah, mas.” Ucapku yang bingung mau panggil pak Sendy ini dengan sebutan apa
“Ish, kamu ini. Ya sudah, tidak apa-apa.” Sambil mengelus-elus rambutku
Sementara orang yang ada di ruangan ini pun hanya bisa senyum melihat kami.
“Eh iya, Sen. Aku masih belum paham nih. Kenapa kunci toilet bisa ada di kamu?” tanya pak Rio
“Oh, masalah itu. Sebenarnya kunci ini aku dapat dari kakek.” Ucap pak Sendy
“Dari kakek?! Kok bisa?” tanya pak Rio
“Iya bisa. Masalahnya kunci tersebut kakek dapat dari Fia saat dia kecelakaan.” Jelas pak Sendy
“Apa, mas? Fia kecelakaan? Terus keadaannya bagaimana sekarang?” tanyaku yang spontan saja mengeluarkan kalimat itu
“Iya, pak. Bagaimana keadaan Fia sekarang?” tanya Rika
“Tidak tahu.” Sahut pak Sendy singkat
“Kok tidak tahu?” tanyaku bingung
“Ya, tidak tahu. Masalahnya tadi dia masih ada di ruangan UGD saat aku tinggal pergi.” Sahut pak Sendy
“Oh, begitu. Jadi terus sekarang yang menjaga Fia di Rumah Sakit itu, kakek?” tanyaku memastikan
“Hmm.. Tapi bukan hanya kakek saja yang ada di sana, paman juga ada.” Jelas pak Sendy
“Sukurin kamu, Fia. Orang seperti kamu itu memang pantasnya dapat ganjarannya seperti ini.” Umpat Rika
“Hus.. Rik. Kamu tidak boleh bicara seperti itu.” Ucapku
“Habisnya dia itu kan sudah membuat kamu seperti ini.” Sahut Rika kesal
“Tapi tetap saja, Rik. Kamu tidak boleh seperti ini. Coba kamu pikir, apa yang terjadi padaku itu tidaklah seberapa jika di bandingkan dengan yang terjadi padanya saat ini.” Ucapku dan Rikapun terdiam
Beberapa saat kemudian, telepon pak Sendy berbunyi..
“Halo, kek.” Ucap pak Sendy saat mengangkat telepon dari kakek
“Halo, Sen. Kamu bisa ke Rumah Sakit sekarang?” ucap kakek dari seberang telepon
“Baik, kek. Sekarang aku ke sana.” Ucap pak Sendy yang kemudian menutup teleponnya
“Kenapa, mas?” tanyaku
“Aku di suruh ke Rumah Sakit sekarang.” Sahut pak Sendy
“Apa boleh aku ikut, mas?” tanyaku dan pak Sendy pun mengangguk
“Sen, aku dan Rika boleh ikut juga, tidak?” tanya pak Rio dan pak Sendy pun mengangguk lalu kami pun segera pergi ke Rumah Sakit
Sesampainya di Rumah Sakit, kakek hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kami datang
“Mas, maksudnya apa kakek hanya menggelengkan kepalanya?” tanyaku yang tiba-tiba punya perasaan tidak enak
“Entahlah. Aku sendiri tidak tahu.” Ucap pak Sendy
“Kek, bagaimana keadaan Fia?” tanya pak Sendy
“Fia selamat, Sen. Hanya saja..” kakek tidak meneruskan ucapannya
“Hanya saja kenapa, kek?” tanya pak Sendy
“Hmm.. Hanya saja dia mengalami kelumpuhan permanen di ke dua kakinya.” Jelas kakek
Kami yang ada di sana pun seketika syok mendengar jawaban kakek.
“Terus Fianya sendiri sudah tahu, kek?” tanya pak Sendy
“Dia masih belum tahu. Karena dia sekarang masih belum sadarkan diri dan sekarang pamanmu sedang menemaninya di dalam.” Ucap kakek
“Oh, begitu.” Ucap pak Sendy singkat
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar suara ribut-ribut dari kamar perawatan tempat Fia di pindahkan
Kami pun sontak langsung melihatnya dan ternyata Fia sedang dalam keadaan histeris menerima keadaannya yang seperti itu.
“Mas, aku prihatin melihat keadaan Fia sekarang.” Ucapku lirih di samping pak Sendy
Pak Sendy yang mendengar ucapanku pun hanya bisa mengangguk
“Fia.. Fia.. Coba kamu tenangkan diri kamu dulu. Jangan seperti ini.” Ucap kakek
“Bagaimana aku bisa tenang, kek. Aku sudah cacat. Aku sudah tidak punya harapan lagi untuk masa depan.” Ucap Fia sambil menangis
__ADS_1
“Kakek mengerti perasaan kamu. Tapi tolong jangan seperti ini.” Ucap kakek yang masih mencoba membujuk Fia
“Tidak, kek. Aku tidak bisa.” Ucap Fia
“Ini semua gara-gara kamu, Tia. Sekarang kamu senang kan melihatku seperti ini?” ucap Fia lagi saat melihat ke arahku
“Fia!! Cukup!! Apa kamu masih belum cukup jera juga merasakan balasan seperti ini? Kamu mau yang lebih parah lagi dari ini?” ucap pak Sendy dengan suara tinggi membuat semua orang yang sedang ada di situ menjadi diam termasuk Fia
“Sen, apa maksud ucapanmu barusan?” tanya kakek
“Asal kakek dan paman tahu, tadi Fia hampir saja mencelakai Tia di sekolah dengan mengunci Tia di toilet.” Ucap pak Sendy
“Apa? Fia apa benar tadi yang di katakan masmu?” ucap kakek
“Kalau iya, memangnya kenapa? Dia pantas kok terima itu.” Ucap Fia yang masih belum sadar diri juga
‘plak..’ pipi Fia di pukul oleh paman pak Sendy
“Kamu itu ya, Fia. Ayah benar-benar tidak tahu kalau kamu itu punya pikiran sejahat ini dan kamu juga masih belum sadar juga setelah apa yang menimpa kamu ini. Ayah sangat kecewa.” Ucap paman pak Sendy
“Kenapa, ayah? Ayah menyesal sudah mengangkat anak seperti aku? Hahaha... Aku memang seperti ini. Aku tidak akan berhenti sebelum aku dapatkan semua yang aku inginkan. Hahahaha....” ucap Fia dan Fia pun lepas kendali
Dokter pun langsung datang untuk memberikan suntikan obat penenang pada Fia.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya kakek
“Dia sudah tenang sekarang. Tapi kalau bisa jauhkan dia dari hal yang membuat dirinya emosi. Karena di saat-saat seperti ini, dia mengalami depresi akibat kelumpuhannya.” Jelas Dokter tersebut
“Baik, Dok.” Ucap Kakek
***
Setelah satu minggu dari kejadian tersebut, Fia pun sudah di perbolehkan untuk pulang. Saat itu, Fia langsung di bawa ke luar kota oleh ayah angkatnya yaitu pamannya pak Sendy. Kini sudah berjalan 3 hari, kami menjalani rutinitas tanpa kehadiran Fia
“Haaaaa.... “ ucap pak Rio dengan nafas panjang
“Kenapa kamu, Rio?” tanya pak Sendy
“Gara-gara kejadian Fia waktu itu, rencanaku ingin mengungkapkan perasaanku ke Rika jadi gagal.” Keluh pak Rio
“Apanya yang gagal, pak Rio?” tanya Rika yang tiba-tiba datang
“Eh, Rik. Ada apa kamu ke sini? Mana Tia?” ucap pak Sendy
“Tia sedang ada urusan ke wali kelas. Sebentar lagi juga menyusul.” Jelas Rika
“Oh, begitu.” Ucap pak Sendy
“Terus apa maksud kamu, Rika?” tanya pak Sendy
“Terus tadi yang pak Rio bilang gagal itu apa ya? Apanya yang gagal?” tanya Rika kepo
“Oh masalah itu. Kamu tanya langsung saja nih sama orangnya. Rio, kamu jelasin tuh. Aku mau ke Tia dulu.” Ucap pak Sendy yang langsung pergi tanpa menghiraukan pak Rio
“Lha dia malah pergi. Woi, Sen..!!” teriak pak Rio
“Pak Rio, tadi yang gagal apa, ya? Boleh tahu tidak.” Ucap Rika
“Hmm... Begini. Kamu ingat tidak beberapa waktu lalu aku pernah mengajak kamu main?” ucap pak Rio
“Oh yang waktu itu, ya?! Iya, aku ingat. Memang ada apa?” tanya Rika
“Sebenarnya saat itu aku mengajak kamu karena ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu, tapi gagal karena masalah Fia.” Ucap pak Rio
“Oh, begitu. Ya sudah bicara saja sekarang. Memangnya ada apa?” tanya Rika
“Hmm.. Saat itu aku sebenarnya mau bilang kalau aku suka sama kamu. Kamu mau tidak jadi pacarku?” tanya pak Rio dengan lirih
Mendengar ucapan pak Rio, Rika pun langsung spontan melihat ke arah pak Rio
“Ma.. Maksud bapak, bapak lagi nembak aku nih sekarang?” tanya Rika dan pak Rio pun mengangguk membuat Rika jadi menunduk karena malu
“Jadi gimana jawabannya, Rik?” tanya pak Rio
“Hmm... Iya.” Sahut Rika
“Ha? Jadi aku di terima nih?” tanya pak Rio dan Rika pun mengangguk sambil malu-malu.
Saat itu, aku dan pak Sendy datang. Kami melihat sepasang kekasih sedang bertingkah malu-malu
“Ehm.” Ucap pak Sendy
“Eh kamu, Send.” Ucap pak Rio
“Bagaimana? Sekarang sudah tidak gagal lagi, kan?” sindir pak Sendy dan pak Rio pun hanya mengangguk
Saat sedang asik menggoda pak Rio, tiba-tiba telepon pak Sendy berdering
“Ya, halo.” Ucap pak Sendy
__ADS_1
“Halo, Sen. Fia ke sana, tidak?” tanya paman pak Sendy
“Tidak tuh, paman.” Ucap pak Sendy
“Memangnya ada apa, paman?” tanya pak Sendy
“Fia kabur, Sen. Dia tidak ada di mana pun. Sepertinya dia pergi ke tempatmu, Sen.” Ucap paman pak Sendy
“Tapi Fia tidak ada di sini, paman. Lagipula gimana caranya dia bisa kabur, paman?! Apa ada yang membantunya?” ucap pak Sendy bingung
“Iya, Sen. Dia rasanya di bantu oleh orang yang merawatnya.” Ucap paman
“Oh, begitu.” Ucap pak Sendy singkat
“Ya sudah, Sen. Aku tutup dulu teleponnya. Nanti kalau ada kabar, kamu kasih tahu paman ya.” Pinta paman pak Sendy.
“Iya, paman.” Sahut pak Sendy yang kemudian menutup teleponnya
“Kenapa, mas?” tanyaku
“Tadi paman memberitahuku kalau Fia tidak ada di sana.” Ucap pak Sendy
“Kok bisa?” tanyaku bingung
“Entahlah, Tia.” Sahut pak Sendy
“Ya sudah, ayo kita pulang.” Ajak pak Sendy. Sementara pak Rio dan Rika masih di mabuk cinta
Kami pun meninggalkan mereka berdua lalu pulang terlebih dulu. Dalam perjalanan, tiba-tiba saja pak Sendy menyadari kalau rem mobilnya blong.
“Mas, kenapa?” tanyaku
“Tia, sepertinya sudah ada yang mengutak-ngatik mobil ini deh.” Ucap pak Sendy dengan tenang
“Maksudnya?” tanyaku
“Rem mobil ini tidak berfungsi.” Sahut pak Sendy yang masih dengan keadaan tenang sambil perlahan-lahan meminggirkan mobilnya dan memasukkan gigi mobilnya lalu mematikan mobilnya paksa.
Untung kecapatan mobil kami saat itu terbilang tidak terlalu tinggi. Jadi risiko celakanya pun kecil
Catatan Author:
Maaf untuk masalah rem, author tidak tahu percis caranya. Ini hanya halunya author saja. Tolong di maafkan jika ini tidak sesuai dengan yang seharusnya di lakukan. Author sekali lagi minta maaf.
“Fiuh...” ucapku sambil menarik nafas panjang
“Kenapa, Tia?” tanya pak Sendy sambil senyam senyum tidak jelas
“Mas!!! Kok bisa-bisanya mas senyum gitu sih?” protesku
“Hehehe.. Tegangan mana sama naik jet coaster?” ledek pak Sendy
“Mas...!!! Tidak lucu tahu.” Ucapku sewot dan pak Sendy tertawa terbahak-bahak
“Huh...” ucapku sewot
“Sudah-sudah. Kalau begitu, aku telepon Rio dulu.” Ucap pak Sendy sambil mengeluarkan telepon genggamnya
“Halo, Rio. Kamu masih ada di sekolah, tidak?” tanya pak Sendy saat teleponnya di angkat oleh pak Rio
“Masih. Ada apa, Sen?” tanya pak Rio
“Bisa tolong cek CCTV yang ada di parkiran, tidak?” ucap pak Sendy
“Buat apa, Sen?” tanya pak Rio
“Rem mobilku tidak berfungsi. Kemungkinan besar ada yang sudah mengutak-ngatik mobilku.” Ucap pak Sendy
“Apa? Tapi kamu dan Tia tidak apa-apa, kan?” tanya pak Rio khawatir
“Kami tidak apa-apa.” Ucap pak Sendy
“Syukurlah kalau kalian selamat.” Ucap pak Rio
“Hmm.” Sahut pak Sendy
“Ya sudah, aku cek dulu CCTV nya.” Ucap pak Rio dan langsung menutup telponnya
“Mas, memangnya di parkiran ada CCTV nya, ya?” tanyaku yang memang tidak tahu
“Ada.” Sahutnya singkat sambil senyam-senyum
“Oh.. Jadi selama ini, aku ketahuan donk kalau suka bareng sama mas?” tanyaku dan pak Sendy mengangguk sambil tersenyum
“Hadih..” celetukku malu dan membuat pak Sendy tidak bisa menahan tawanya
Sementara di saat yang sama tapi di tempat yang berbeda, pak Rio langsung mengecek CCTV tersebut dan hasilnya benar-benar membuat emosi..
Hmm.. Kira-kira apa sih hasilnya? Di tunggu ya next..
__ADS_1