Cintanya Guruku Padaku

Cintanya Guruku Padaku
Karena percaya


__ADS_3

Setelah pergi meninggalkan Fia sendiri, pak Sendy langsung masuk ke dalam mobil dan memelukku. Hal ini membuat aku bingung.


“Mas, ada apa?” tanyaku


“Biarkan aku memelukmu sebentar saja sebelum kita pulang.” Ucap pak Sendy


“Hmm.. Baiklah pak.” Ucapku sambil mengelus-ngelus punggungnya.


Setelah beberapa saat, pak Sendy pun perlahan-lahan melepaskan pelukannya dariku


“Bagaimana mas? Apa sudah jauh lebih baik?” tanyaku dan dia pun mengangguk


“Ya sudah. Apa kita sudah bisa pulang?” tanyaku dan lagi-lagi pak Sendy pun mengangguk


Entah apa yang sudah terjadi pada mereka berdua tapi tampaknya membuat suasana hati pak Sendy jadi muram seperti ini.


Melihat pak Sendy yang seperti ini, aku hanya bisa diam. Tidak mau banyak berkomentar. Sampai suatu saat, tiba-tiba ...


“Tia, malam ini, aku ingin sekali tidur denganmu.” Ucap pak Sendy


“Hah?” hanya itu yang keluar dari mulutku


“Tia, aku bilang, hari ini aku ingin tidur sama kamu. Apa boleh?” tanyanya


“E.. E.. Mas, bukan masalah boleh atau tidak. Tapi aku kan masih SMU dan itu juga baru kelas 1.” Ucapku


“Aku tahu itu.” Sahutnya


“Kalau mas tahu, kenapa mas ingin tidur sama aku? Apa mas tidak takut?” tanyaku


“Tidak apa-apa. Aku bisa menahannya kok.” Ucap pak Sendy meyakinkan aku

__ADS_1


“Benarkah itu mas?” tanyaku


“Iya sayang. Kamu tidak usah khawatir ya.” Ucapnya sambil tersenyum


“Baiklah mas kalau begitu.” Ucapku pada akhirnya


Sepenjang perjalanan, aku sangat gelisah sekaligus deg-degan. Tapi juga ada rasa penasaran. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya aneh sih kalau melihat pak Sendy seperti ini.


Sesampainya kami di rumah, aku pun langsung masuk dan ganti baju. Sedangkan pak Sendy masih duduk santai di depan televisi.


“Aih.. Kenapa jadi seperti ini sih?” gumamku


Lalu aku pun keluar menemuinya. Mencoba untuk ngobrol dengannya


“Mas, belum bersih-bersih?” tanyaku saat melihat pak Sendy belum terlihat mandi


Namun entah mengapa, pak Sendy hanya diam saja. Entah apa sebabnya sehingga merubahnya menjadi seperti ini. Tapi akhirnya aku putuskan untuk pergi saja dari sana.


Belum juga aku melangkahkan kaki, tiba-tiba...


Mendengar ucapannya, aku tiba-tiba kembali duduk di sampingnya


“Mas, kenapa aku tidak bertanya apa-apa masalah kalian itu karena aku percaya sama mas. Aku yakin, mas jauh lebih dewasa dari aku.” Ucapku


“O ya, satu lagi. Bagiku, tidaklah terlalu penting bagaimana perasaan Fia karena yang aku anggap penting itu adalah perasaan mas sendiri.” Jelasku


Pak Sendy yang mendengar jawaban aku pun tiba-tiba memelukku lagi dan aku lagi-lagi hanya bisa menepuk-nepuk punggung pak Sendy


“Sudah-sudah, mas. Lebih baik mas sekarang mandi dulu dan ganti baju. Badan mas bau asem..” ucapku


“Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu.” Ucap pak Sendy sambil mengacak-ngacak rambutku dan pergi

__ADS_1


“Ish ni orang. Lain di rumah, lain di sekolah. Sungguh orang yang membingungkan.” Gumamku saat ditinggal sendiri oleh pak Sendy


Daripada aku bosan sendirian, aku pun mencari-cari acara TV yang bagus. Beberapa saat kemudian, saat aku sedang asyik menonton TV, tiba-tiba...


“Tia..!!” ucap pak Sendy yang sangat membuatku terkejut


“Eh.. Copot.. Copot... Hadeuh, mas bisa tidak sih tidak buat orang jantungan. Kalau aku tahu-tahu pingsan gara-gara serangan jantung, gimana? Mas mau?” tanyaku sewot


“hehehe...” sahutnya yang selalu saja buat aku kesal


“Huh..😠” ucapku singkat sambil buang muka


***


Disaat kami sedang saling saut, tiba-tiba pintu rumah di ketuk..


“Mas, sepertinya kita kedatangan tamu deh.” Ucapku yang tiba-tiba melupakan kesalku pada pak Sendy


“Masa’ sih?” ucapnya


‘tok.. tok.. tok...’


“Tuh kan mas, ada yang mengetuk pintu.” Ucapku


“Ya sudah kalau begitu aku lihat dulu ya.” Ucap pak Sendy yang langsung berjalan ke arah pintu


Ketika pintu terbuka, tiba-tiba pak Sendy terlihat terkejut.


“Kamu?” ucapnya pada orang itu


Trus siapa sih orang itu? Hmm.. Bikin penasaran saja.

__ADS_1


Tunggu ya..


Next...😜


__ADS_2