
Seperti yang tadi sudah di katakan pak Sendy, aku dan juga Fia di turunkan jauh sebelum pintu gerbang sekolah. Memang sih, sebelum ini, aku selalu turun di dalam gerbang sekolah. Tapi berhubung kali ini ada Fia, jadinya aku ikutan turun di luar gerbang sekolah demi menghindari rasa iri.
Saat kami sudah turun dan pak Sendy pun melajukan mobilnya untuk masuk terlebih dulu ke dalam sekolah, aku dan Fia pun berdua berjalan kaki. Saat perjalanan, tiba-tiba apa yang aku khawatirkan terjadi
“Tia, lebih baik kamu jangan berharap banyak dari mas Sendy. Karena kamu itu cuma anak sekolah yang tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis seorang suami. Jadi, lebih baik kamu sadar diri.” Ucap ketus Fia dan membuat aku sangat terkejut
“Walau aku ini hanya anak sekolah biasa, tapi aku percaya pada mas Sendy.” Sahutku
“Hello.. Tia. Bangun woy.. Jadi orang jangan naif deh. Aku ingatkan kamu, ya. Mas Sendy itu pria normal dan sebagai pria normal, tentunya dia juga menginginkan kepuasan bioligis dari istrinya. Pikirkan itu baik-baik.” Ucap Fia yang kemudian mempercepat langkahnya dan meninggalkan aku sendiri
“Apa memang benar ya, seperti itu?!” ucapku lirih sambil berjalan lambat
Dan di saat yang bersamaan...
“Hai.. Jalan kok sambil melamun saja. Nanti ke sandung lho.” Ucap Haris
“Eh kamu, Ris. Kamu juga baru datang?” tanyaku basa basi
“Iya nih. Aku tadi bangun kesiangan.” Sahut Haris
“Kesiangan? Kok bisa?” tanyaku
“Iya. Semalam aku tidurnya malam karena ada acara bagus di TV.” Jelas Haris
“Acara bagus? Memangnya ada acara bagus apaan, sampai kamu bela-belain tidur malam?” tanyaku bingung
“Semalam aku tonton acara kesukaanku, bola.” Jelasnya
__ADS_1
“Ha?? Bola?? Jadi kamu suka bola?” tanyaku
“Iya. Dari kecil, aku suka sekali nonton bola. Apalagi kalau lagi piala dunia. Hmm... Hampir tiap malam aku tidak tidur.” Jelas Haris
“Oh.. Memang ya, kalau orang sudah suka pasti bakalan di bela-belain. Termasuk juga tidak tidur semalaman.” Ucapku
“Yup.” Sahutnya membenarkan
“Btw, kenapa kamu sendiri jam segini baru datang juga?” tanya Haris heran
“Hmm... Tadi sebenarnya aku berangkat bersama Fia. Tapi karena suatu sebab, dia jadi jalan duluan.” Jelasku
“Fia? Siapa itu Fia?” tanya Haris yang memang tidak tahu siapa itu Fia. Secara mereka tidak sekelas
“Hmm... Fia itu anak murid baru di kelasku.” Jelasku
Tak terasa setelah beberapa saat berjalan, kami pun sudah masuk di dalam sekolah dan kami pun berpisah karena kelas kami berbeda
Sesampainya di dalam kelas, aku pun langsung melihat ke arah Fia yang sedang bersenda gurau dengan teman-teman di kelas. Dia terlihat sangat supel sekali dalam berteman. Rutinitas itu berlangsung beberapa hari, hingga suatu saat aku mendengar sesuatu hal yang tidak mengenakkan.
Pagi itu...
“Eh, Tia. Kamu itu ternyata kakak iparnya Fia, ya?! Trus kamu itu ternyata masih SMU saja sudah berani-berani menikah. Jangan-jangan kamu hamil duluan, ya?” tanya salah satu teman di kelas
“Hei.. Hei... Kalian ini. Kalian ini dengar dari siapa sih kabar seperti itu? Belum juga tahu percis masalahnya, sudah main menyimpulkan saja.” Ucap Rika sewot ketika mendengar ucapan mereka karena memang hanya dia yang tahu semua
“Rik, kamu jangan mau berteman dengan Tia ini. Karena dia itu sudah tidak suci lagi.” Celetuk teman yang lainnya
__ADS_1
“Kalian ini, ya?! Kalian itu dengar dari mana sih masalah seperti ini?” tanya Rika gemas dengan teman-teman sekelasnya
“Kami tahu itu semua dari Fia.” Sahut mereka
Saat itu, entah mengapa, Fia sama sekali tidak terlihat di kelas. Tapi tasnya ada di dalam kelas.
“Jadi Fia yang bilang itu semua sama kalian?” tanya Rika memastikan. Sementara aku masih sangat terkejut dengan apa yang ku dengar
“Iya. Dialah yang memberitahu itu semua pada kami.” Jawab salah satu teman di kelas
Mendengar jawaban itu, aku pun langsung berpikir kalau ternyata apa yang aku khawatirkan itu terjadi juga.
“Eh, dengar ya kalian semua!! Kalian ini sudah termakan gosip. Asal kalian tahu, Tia ini perempuan baik-baik dan aku pun sudah bertemu orang tuanya. Kalau kalian masih berpikir jika Tia ini sudah tidak suci, berarti kalian ini bodoh.” Ucap Rika tegas karena tidak terima kalau aku di pojokkan seperti itu
Mendengar ucapan Rika itu, akhirnya mereka pun diam dan tidak melanjutkan ucapan mereka lagi
Sementara aku masih diam termangu memikirkan apa yang di katakan oleh teman-teman sekelas.
“Tia, apa kamu baik-baik saja?” tanya Rika khawatir yang melihatku terdiam
“Oh. Iya, aku tidak apa-apa.” Sahutku dengan senyum yang aku paksakan.
“Apa benar seperti itu?” tanya Rika
“Iya, Rik. Aku tidak apa-apa.” Ucapku
“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau memang kamu butuh seseorang, kamu bisa cerita padaku. Aku akan siap kapan saja kamu butuhkan.” Ucap Rika dan aku pun mengangguk
__ADS_1
Bersambung...