Cintanya Guruku Padaku

Cintanya Guruku Padaku
perasaan ini


__ADS_3

“Stsstst... Biasa saja kali responnya.” Ucapku ke Rika


“Gimana aku bisa biasa saja?! Kamunya kasih kabar mengejutkan begini. Terus kamu gimana ceritanya bisa jadi suami istri sama pak Sendy?” tanya Rika bingung


“Jangankan kamu yang bingung kaya begini, aku sendiri juga bingung banget sekarang. Ini tuh terlalu mendadak buat aku.” Ucapku


“Oh begitu. Jadi BT nya kamu hari ini tuh gara-gara ini?” tanya Rika memastikan


“Ya itu sih salah satunya. Tapi jujur, yang paling aku bingungkan sekarang itu tentang perasaanku sendiri.” Jelasku


“Maksudmu?” tanya Rika


“Aku tuh kalau lagi bersama pak Sendy, hawanya kesal terus tapi ada rasa kasihan dan juga kadang-kadang deg-degan. Trus, kalau ingat dia posesifnya minta ampun ke aku, aku kok jadi merasa ilfill. Tapi, kalau lagi berjauhan begini, aku herannya kepikiran dia terus. Aku jadi bingung sendiri.” Ucapku lirih


“Tia, aku sebagai teman sih tidak bisa kasih jawaban apa-apa buat kamu. Tapi aku sarankan buat kamu agar bisa lebih membuka dirimu sendiri untuk terima perasaannya pak Sendy. Sekarang aku minta kamu untuk berpikir, simple saja, coba kamu bayangkan, seandainya tiba-tiba pak Sendy cuek sama kamu, seandainya tiba-tiba pak Sendy pergi dari hidupmu dan jalan dengan perempuan lain, kira-kira bagaimana perasaanmu jika semua itu terjadi.” Ucap Rika dan aku pun termenung dan mencoba membayangkannya


Untuk beberapa saat aku hanya bisa diam, tapi setelah itu, aku menjadi tahu, sebenarnya gimana sih perasaanku ini.


“Eh Rik, aku pergi dulu kalau begitu. Thanks ya. Sampaikan ke mereka berdua, maaf, aku duluan.” Ucapku


“Eh kamu mau kemana, Tia?” teriak Rika


“Aku mau langsung ketemu pak Sendy buat pastikan lagi perasaanku ini benar atau ga.” Sahutku sambil tetap berjalan pergi

__ADS_1


Tak selang berapa lama, Haris dan Beni pun datang.


“Rika, Tia mana? Tadi bukannya dia ada disini?” tanya Haris


“Iya. Tadinya sih dia ada di sini. Tapi tiba-tiba dia ingat sesuatu dan akhirnya harus pulang duluan.” Ucap Rika


“Ya kok gitu sih?! Padahal kita di sini kan buat menghibur dia yang lagi BT. Tapi kenapa sekarang kok malah dia yang pergi duluan.” Ucap Beni kecewa


“Iya. Lagipula tadinya gue ingin mengajak dia naik ke Bianglala itu. Kan romantis.” Ucap Haris sambil menunjuk ke arah bianglala


“Iya katanya tadi dia bilang maaf buat kalian sebelum dia pergi.” Ucap Rika


“O begitu. Ya sudah deh.” Ucap Haris yang tidak kalah kecewa dari Beni


‘tok.. tok.. tok..’ pintu kaca mobil tempat duduk pak Sendy aku ketuk dan dia pun langsung membukanya dan turun


Dengan sangat cepat, aku langsung memeluk tubuh pak Sendy sambil menangis


“Tia, kamu kenapa?” tanyanya khawatir


“Pak, aku minta maaf. Aku minta maaf benget sama bapak. Karena sikapku ini, membuat bapak jadi merasa sedih.” Ucapku yang masih tetap memeluk erat tubuh pak Sendy


“Tidak apa-apa, sayang. Aku bisa mengerti kok kenapa kamu seperti ini.” Ucapnya sambil mengelus-elus rambutku

__ADS_1


Setelah beberapa saat, aku pun akhirnya bisa menjadi lebih tenang.


“Tia, lalu apakah sekarang aku boleh tanya tentang perasaan kamu ke aku?” ucap pak Sendy dan aku pun mengangguk


“Terus, sekarang apa kamu sudah dapat jawabannya?” tanya pak Sendy dan aku pun mengangguk


“Apa?” tanyanya lagi aku pun masih saja mengangguk


“Tia, jangan mengangguk terus begitu donk. Aku tidak mengerti maksud kamu.” Ucap Pak Sendy


“Pak, kita mulai dari awal lagi ya. Biarkan aku pelan-pelan bisa merasakan kasih sayang bapak untuk aku. Aku mohon.” Ucapku


“Baiklah.” Sahutnya sambil tersenyum dan lagi-lagi mengelus rambutku


“Tapi eit tunggu dulu. Kenapa kamu dari tadi panggil aku dengan sebutan bapak sih?!” protesnya


“Hehehe... Aku lupa pak eh mas.😛” Ucapku sambil tersenyum


“Ya sudah.. Ya sudah.. Ayo kita pulang.” Ajaknya dan aku pun mengangguk sambil tersenyum


“Ternyata lega juga ya kalau kita bisa dan mau jujur pada diri kita sendiri.” Gumamku dalam hati sebelum masuk ke dalam mobil


Bersambung lagi ya...😙

__ADS_1


__ADS_2