
Setelah semua selesai di katakan, kami bertiga pun keluar. Ternyata eh ternyata, si Fia masih ada di luar.
“Fia, kamu ngapain masih di sini?” tanya pak Sendy
“Aku kan ingin pulang bersama dengan kakak sepupuku ini. Masa’ tidak boleh?!” ucap Fia
Aku dan Rika pun sontak melihat ke arah pak Sendy
“Ok. Kalau kamu memang mau pulang bareng denganku. Aku tidak akan melarang.” Ucap pak Sendy
Setelah mengatakan itu, pak Sendy pun langsung berjalan ke tempat parkiran. Sementara aku hanya diam dan tidak mengikuti mereka
“Tia, kenapa kok diam saja? Kamu tidak ingin pulang? Nanti di tinggal lho sama suamimu.” Ucap pak Rio
“Tidak, pak. Aku tidak pulang bersama mereka. Biarkan saja mereka pulang terlebih dahulu.” Ucapku yang entah mengapa tiba-tiba saja mengatakan itu
“Ha?? Kamu kenapa, Tia? Jangan bilang kalau kamu sedang cemburu deh.” Ucap pak Rio
“Tidak kok, pak. Aku sama sekali tidak cemburu.” Sahutku
Rika yang memang sedang ada di situ dan mendengarkan obrolan kami pun akhirnya mengatakan sesuatu
“Pak Rio, sebenarnya ada sesuatu kejadian yang memaksa Tia seperti ini.” Ucap Rika
“Memangnya ada kejadian apa?” tanya pak Rio yang memang tidak tahu menahu masalah gosip yang sedang beredar
“Kemarin sudah ada gosip yang tersebar di sekolah ini mengenai hubungan pak Sendy dan Tia.” Ucap Rika
“Gosip?” tanya pak Rio
“Iya. Ada gosip yang mengatakan kalau Tia ini sudah memiliki suami dan suaminya itu adalah pak Sendy. Lalu gosip itu juga menjelaskan kalau Tia ini sekarang sudah tidak suci lagi.” Jelas Rika
“Masalah Tia dan Sendy itu suami istri kan memang kenyataan. Kenapa di bilang kalau itu tuh gosip sih?” ucap pak Rio yang entah polos atau bagaimana
“Ish, ni bapak. Kenapa bapak kok bisa oneng begini sih?” celetuk Rika
“Ha? Maksudnya?” tanya pak Rio
__ADS_1
“Walau pak Sendy dan Tia ini memang benar suami istri. Tapi kan siswa di sini tidak ada yang tahu. Nah kalau memang tidak ada yang tahu, sebutan yang cocok buat kabar ini adalah gosip. Bukan begitu bapak Rio?” Jelas Rika
“Oh iya ya. Benar juga ya. Kan siswa di sekolah ini tidak ada yang tahu tentang kebenaran hubungan mereka. Lalu siapa yang sudah menyebarkannya?” tanya pak Rio
“Yang menyebarkan kabar ini tuh tak lain dan tak bukan adalah Fia, saudara sepupu tirinya pak Sendy sendiri.” Ucap Rika
“Apa?” teriak pak Rio karena terlalu terkejutnya mendengar jawaban Rika
“Biasa saja kali, pak. Telinga sampai sakit dengar teriakan bapak tadi.” Protes Rika
“Iya.. Iya.. Maaf. Terus si Tia tidak mau pulang bersama mereka itu karena Tia tidak mau kalau ternyata gosip itu benar?” ucap pak Rio
“Yup.” Sahut Rika
“Oh, begitu. Ya sudah. Kalau begitu, kalian berdua biar aku saja yang antar pulang. Bagaimana?” ucap pak Rio menawarkan
“Hmm.. Baiklah, pak.” Sahutku pada akhirnya
****
Ke esokan harinya, rencana pun mulai di laksanakan. Fia di panggil ke ruang pak Wakil Kepala Sekolah. Sesampainya di ruangan itu, Fia di minta untuk membuktikan bahwa apa yang sudah dia laporkan itu benar.
“Fia, kelihatannya kamu kebingungan ya mencari cara untuk membuktikan kebenaran masalah ini?” tanya pak Wakil Kepala Sekolah dan Fia pun terdiam
“Ya sudah kalau memang kami bingung cara membuktikannya. Bapak akan kasih kamu ide. Bagaimana?” ucap pak Wakil kepala sekolah
“Ha? Ide apa itu, pak?” tanya Fia
“Gimana kalau pulang sekolah nanti kamu tiba-tiba datang ke rumah pak Sendy dan menyergap mereka dengan membawa saksi 2 orang guru dan 2 orang teman kamu. Tapi kalau apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka orang tuamu akan mendapatkan surat teguran dari kami. Bagaimana? Kamu berani ambil resikonya?” ucap Pak Wakil Kepala Sekolah
Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya Fia pun menyetujui ide pak Wakil Kepala Sekolah ini
***
Suasana kegiatan belajar mengajar pun berjalan seperti biasanya. Hingga jam pulang sekolah pun tiba.
Seperti yang sudah di rencanakan di awal, aku pun pulang ke rumahku sendiri di temani oleh Rika. Sementara pak Sendy pun pulang ke rumahnya. Sementara Fia tidak begitu memperhatikan dengan siapa pak Sendy pulang. Dia hanya fokus kepada rencananya agar dapat berjalan lancar.
__ADS_1
Setelah beberapa saat sampai di rumah, pak Sendy kedatangan beberapa orang tamu yang ternyata Fia bersama dengan 2 orang guru dan 2 orang siswa.
“Kalian? Ada apa ya kalian ini datang ke rumahku?” ucap pak Sendy pura-pura terkejut
“Tia mana, mas?” tanya Fia to the poin
“Tia? Untuk apa kamu tanya Tia? Terus kenapa juga kamu tanya Tia ke aku?” ucap pak Sendy
“Halah, mas tidak usah bohong deh. Tia pasti sembunyi kan, di dalam?” tanya Fia
“Kamu ini bicara apa sih, Fia? Mana ada Tia di rumah ini? Kamu jangan bicara sembarangan deh.” Ucap pak Sendy
“Mas, siapa juga yang ngomong sembarangan. Bukannya dia itu istrinya mas?” tanya Fia
“Kamu ini aneh deh. Kamu itu ngomong apa sih dari tadi? Aku kok bingung dengan apa yang kamu omongin.” Ucap pak Sendy
“Halah, mas. Tidak usah banyak mengelak deh. Aku lebih baik langsung cari ke dalam saja mencarinya. Percuma tanya sama mas. Yang ada mas hanya menutup-nutupinya saja.” Ucap Fia yang langsung masuk mencari keberadaanku di ikuti oleh beberapa orang yang tadi dia ajak
Setelah mencari ke dalam beberapa saat, Fia pun keluar dengan wajah yang memucat.
“Gimana, Fia? Apakah kamu sudah menemukan orang yang kamu cari?” tanya pak Sendy
“Mas, mas kemanakan Tia? Kenapa dia tidak ada di rumah ini?” tanya Fia
“Aku tidak kemana-manakan Tia. Masalah dia ada di mana sekarang, ya mana aku tahu. Memang aku ini siapanya?” ucap pak Sendy
“Fia, jadi selama ini apa yang kamu katakan itu bohong ya?” tanya salah satu siswa
“Iya, Fia. Kamu bohong ya?! Kamu kok setega itu sih memfitnah teman dan guru kamu sendiri?!” ucap teman yang satunya lagi
“Sudah.. Sudah... Lebih baik kita bicarakan masalah ini ke pak Wakil Kepala Sekolah, besok. Sekarang lebih baik kita pulang. Tidak enak di sini terus. Takut mengganggu waktu istirahat pak Sendy.” Ucap salah satu guru yang tadi datang bersama Rika
Mendengar ucapan salah satu guru tersebut, Fia hanya bisa diam karena dia tidak tahu bahwa akan jadi seperti ini dan dia pun tidak ingin membayangkan hukuman apa yang sedang menantinya
“Ya sudah, pak. Kami pamit dulu. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat bapak.” Ucapa guru yang satunya lagi
“Tidak apa-apa, pak.” Sahut pak Sendy sambil tersenyum
__ADS_1
Lalu mereka pun pergi meninggalkan pak Sendy.
Lanjut..👉