
“Kamu kenapa, Fia?” tanya pak Sendy
“Eh, anu.. Tidak apa-apa, mas. Maaf. Tadi taruhnya meleset. Jadi pecah deh.” Ucap Fia beralasan
“Beneran tidak apa-apa?” tanya pak Sendy
“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Fia sambil membereskan bekas pecahan gelas
Aku yang mungkin bisa dibilang sama-sama perempuan, jadi tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh Fia.
“Mungkin nanti, aku harus bicara pada mas Sendy tentang masalah ini.” Pikirku
Setelah selesai membereskan pecahan gelas, Fia pun pergi ke dapur untuk merapihkannya. Sementara itu, kami melanjutkan obrolan kami.
***
“Mas, boleh aku mengatakan sesuatu pada mas?” tanyaku saat ditinggal berdua saja dengan pak Sendy
“Boleh, mau ngomong apa?” tanya pak Sendy balik
“Begini mas, mas sadar tidak kalau sebenarnya mba Fia itu suka sama mas?” tanyaku
“Tidak mungkin, sayang.” Sahut pak Sendy tanpa berpikir dulu
“Tidak mungkin gimana maksud mas?” tanyaku
“Ya tidak mungkinlah.” Sahutnya yang tidak jelas buat aku
“Alasannya apa?” tanyaku lagi
__ADS_1
“Memangnya harus ya pakai alasan?” tanya pak Sendy
“Ya haruslah.” Sahutku
“Oh begitu. Hmm.. Apa ya?! Begini, alasannya itu adalah pertama, di hidup dan di hatiku ini, sudah tidak ada tempat lagi. Yang ke dua karena aku dari awal hanya menganggap Fia itu sebagai adik dan tidak lebih.” Ucap pak Sendy
“Itu kalau di lihat dari sudut pandang mas. Tapi kalau ternyata dia suka sama mas gimana?” tanyaku
“Hmm.. Itu... Kalau memang seperti itu, aku lebih baik menjaga jarak dengannya.” Ucap pak Sendy
Di saat pak Sendy sedang menjawab seperti itu, ternyata Fia mendengarnya. Di saat itu juga dia langsung lari masuk ke dalam kamar dan menagis sendiri.
“Mas, aku sudah lama mencintaimu. Jauh sebelum aku di angkat anak oleh pamanmu. Kenapa mas dari dulu hingga sekarang tidak juga bisa merasakan hal yang sama?” ucap Fia sambil tetap menangis
Saat sore hari, kami putuskan untuk pulang karena pak Sendy masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Sebelum kami pulang, kami berpamitan terlebih dahulu dengan kakek dan Fia. Namun Fia sepertinya tidak rela jika kami pulang. Oh lebih tepatnya, tidak rela jika pak Sendy pergi. Karena baginya, entah kapan lagi bisa bertemu dengan cintanya itu.
“Mas, mas beneran mau pulang sekarang?” tanyanya
“Oh begitu ya. Hmm... Kalau begitu, sebelum mas pulang, aku boleh bicara berdua saja tidak sama mas?” tanyanya
“Bicara berdua? Memangnya kamu mau bicara apa sama aku?” tanya pak Sendy
Belum juga di jawab oleh Fia, aku sudah menyuruh pak Sendy untuk menurutinya.
“Tapi, Tia..” ucap pak Sendy ragu
"Sudah tidak apa-apa, mas. Pergilah.” Ucapku
“Baiklah kalau begitu.” Sahut pak Sendy pasrah
__ADS_1
“Fia, kita mau bicara dimana?” tanya pak Sendy
“Di halaman samping saja mas.” Ucap Fia
“Baiklah kalau begitu. Ayo.” Ucap pak Sendy pada akhirnya
Lalu mereka berdua pun ke halaman samping. Sementara aku terlebih dahulu masuk dan menunggu di dalam mobil.
“Mas, maaf sebelumnya. Tapi ada hal yang dari lama ingin aku tanyakan sama mas.” Ucap Fia
“Mau tanya masalah apa?” tanya pak Sendy
“Begini mas, aku mau tanya, sebenarnya gimana sih perasaan mas ke aku.” Tanya Fia
“Rupanya benar ucapannya si Tia.” Gumam pak Sendy dalam hati
“Hmm.. Fia, dengarkan aku. Maaf, aku tuh dari dulu hanya menganggapmu seperti adikku sendiri. Tidak lebih.” Ucap pak Sendy
“Trus apa bagusnya Tia itu mas. Dia kan masih bocah. Kenapa mas malah pilih bocah dibandingkan aku yang sudah lama mengenal mas.” Protes Fia ga terima
“Fia, dengarkan aku, aku kenal kamu dengan aku kenal Tia itu, lebih lama aku kenal Tia. Aku udah kenal dia itu sudah lebih dari 7 tahun dan 7 tahun yang lalu itulah, aku menikah dengannya. Hanya saja, baru kemarin kami sah menurut humum.” Jelas pak Sendy
“Aku harap, kamu bisa mengerti masalah itu.” Ucap pak Sendy
“Jadi.. Waktu awal kita bertemu waktu itu, ternyata status mas yaitu sudah menikah.” Tanya Fia
“Ya. Benar sekali.” Sahut pak Sendy mantap
“Oleh sebab itu, aku harap kamu bisa mengerti masalah ini.” Ucap pak Sendy lagi
__ADS_1
“Kalau memang tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, lebih baik aku pergi. Kasihan Tia. Dia pasti sudah meungguku dari tadi.” Ucap pak Sendy yang langsung pergi meninggalkan Fia yang masih diam mematung.
Lanjut..👇