
Tak terasa bel masuk kelas pun sudah berbunyi...
“Mas, aku sudah kenyang. Aku balik ke kelas dulu ya.” Pamitku tapi pak Sendy masih tetap saja memperhatikan pak Rio
“Hallo...!!! Mas...!!! Aku ke kelas ya. Sudah masuk.” Ucapku dengan suara agak tinggi
“Eh iya. Ada apa, Tia?” tanyanya yang rupanya tidak begitu sadar dengan ucapanku barusan
“Pak Sendy, ini sudah waktunya aku masuk. Aku ke kelas dulu ya.” Ucapku mengulangi kata-kataku tadi
“Oh, iya... iya... Ya sudah sana masuk.” Sahutnya
Aku yang sudah pamit dengan pak Sendy pun akhirnya keluar dari ruangan dan mengajak Rika
“Rik, balik yuk.” Ajakku
“Balik? Sekarang?” ucap Rika
“Ya iyalah. Balik sekarang. Masa’ mau nginap di sini?!” ucapku
“Tidak apa-apa kok kalau mau nginap.” Celetuk pak Rio
“Hah?” ucapku singkat.
‘Pletak..’ kepala pak Rio di jitak oleh pak Sendy
“Aw, Sen. Kok kamu jitak aku sih?” protes pak Rio
“Lagian kamu itu, ya. Biarkan saja sih mereka mau ke kelas. Kan sudah bel masuk.” Ucap pak Sendy
“Memangnya sudah bel masuk, ya?” tanya pak Rio yang tidak sadar kalau ternyata sudah bel masuk
“Sudah ah. Ayo, Rik. Balik ke kelas.” Ajakku dan Rika pun mengangguk
“Rika, jangan lupa ya dengan apa yang tadi aku bilang.” Ucap pak Rio dengan suara kencang
“Woi, teriak-teriak. Seperti apa saja kamu ini?!” ucap pak Sendy
“Hehehe....” cengir pak Rio
“Eh iya, Sen. Weekend ini, kamu ada acara tidak?” tanya Pak Rio
__ADS_1
“Kenapa memangnya?” tanya pak Sendy
“Ikut aku, yuk.” Ajak pak Rio
“Ikut kemana?” tanya pak Sendy
“Pokoknya ikut saja. Kamu mau ya.” Pinta pak Rio dengan penuh harap
“Memangnya harus ya?” tanya pak Sendy dan pak Rio pun mengangguk
“Ya.. Ya.. Ya, Sen?! Plis...!!!” ucap pak Rio
“Hmm... Ya sudah deh.” Ucap pak Sendy pada akhirnya
Sementara itu kami pun sampai di kelas...
“Hai, Tia.” Ucap Rika
“Hmm... Ada apa, Rik?” tanyaku
“Weekend ini kamu sama pak Sendy ada acara tidak?” tanya Rika
“Hmm.. Sepertinya tidak ada. Memangnya ada apa?” tanyaku
“Ya sudah. Aku tanya pak Sendynya dulu, ya.” Ucapku
“Iya. Makasih ya, Tia.” Ucap Rika
“Iya.” Sahutku
****
Tak terasa sudah waktunya untuk pulang. Seperti yang di suruh oleh pak Sendy, aku pun menunggu di mobil.
“Ish, aku di suruh untuk tunggu di mobil, tapi mobil di kunci. Bagaimana aku bisa masuk ke dalam?” gerutuku
Akhirnya aku putuskan untuk menunggu di parkiran saja, tidak jauh dari mobil pak Sendy dan mencari tempat untuk duduk
Tak selang berapa lama, pak Sendy pun meneleponku
“Halo...” ucapnya dari sebrang telepon
__ADS_1
“Halo..” sahutku
“Kamu di mana, Tia?” tanya pak Sendy
“Aku di parkiran.” Sahutku lagi
“Di parkiran sebelah mana?” tanya pak Sendy
“Pokoknya di parkiran ya di parkiran.” Ucapku kesal
“Iya, aku tahu. Tapi parkiran sebelah mana?” tanya pak Sendy
“Tahu, ah.” Ucapku enggan menjelaskan secara rinci aku duduk di mana
“Tia, sayang. Kamu mau pulang, tidak?” tanya pak Sendy yang berusaha sabar dan aku pun diam tidak menjawab
“Tia? Kok tidak di jawab sih? Aku mau pulang nih. Kalau kamu tidak datang juga, aku tinggal ni, ya?!” ucap pak Sendy
“Ya sudah, sana. Pulang saja. Aku tidak apa-apa kok di tinggal sendirian.” Celetukku
“Tia..!!!” ucap pak Sendy dengan suara tinggi
“Biasa saja kali ngomongnya. Jangan pakai toa.” Celetukku
“Kamu..!!! Ya sudah, kalau itu mau kamu. Aku tinggal beneran.” Ucap pak Sendy
“Ya sudah, sana. Siapa takut?!” Ucapku
Pak Sendy yang mendengar ucapanku menjadi tersulut emosi dan akhirnya benar-benar meninggalkanku sendirian di parkiran
“Dasar, om-om. Di cari belum, sudah marahnya duluan.” Gerutuku sambil keluar dari gerbang hendak menunggu angkutan umum
Namun, ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba tanganku di tarik oleh seseorang.
“Hmm... Katanya mau pulang duluan?” celetukku yang tahu itu adalah pak Sendy
“Kamu, ya?! Senang sekali sih buat aku emosi?” protes pak Sendy ketika sudah berada dalam mobil
“Siapa juga yang senang buat mas emosi. Mas nya saja tuh yang mudah emosi. Aku sih biasa saja.” Sahutku
“Kamu ini, ya?! Benar-benar deh.” Ucap pak Sendy yang bingung harus bagaimana lagi menghadapi sikapku
__ADS_1
Bersambung...