Cintanya Guruku Padaku

Cintanya Guruku Padaku
khawatir


__ADS_3

Aku pun terdiam sampai akhirnya pak Sendy mengatakan kalau dia akan menemui pak Rio.


Setelah menunggu beberapa saat, pak Sendy sudah membawakan tas dan juga buku-bukuku


“Ayo, Tia. Kita pulang sekarang.” Ajak pak Sendy dan aku pun mengangguk lalu mengikuti langkah pak Sendy


Kami pun langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamarku dan menguncinya.


“Tia.. Tia..!!” panggil pak Sendy dari balik pintu kamar


Karena terlalu merasakan rasa pusing di kepala, aku pun tertidur dan tidak menyahut panggilan pak Sendy


Pak Sendy yang tidak mendapatkan jawabanku pun akhirnya pergi.


***


Saat siang, pak Rio dan juga Rika datang ke rumah.


“Eh, kalian. Silahkan masuk.” Ucap pak Sendy mempersilahkan ke duanya untuk masuk


Lalu mereka pun masuk ke dalam. Saat masuk, Rika tengak tengok mencariku


“Pak Sendy, dimana Tia?” tanya Rika setelah dia tidak juga menemukanku


“Oh, Tia sepertinya sedang tidur di dalam kamarnya. Dari tadi kami sampai di rumah hingga sekarang, dia belumlah keluar.” Jelas pak Sendy


“Oh, begitu. Bapak sudah coba panggil?” tanya Rika


“Sudah. Tapi dia tidak menyahut.” Ucap pak Sendy


“Oh begitu.” Ucap Rika


“Hmm... Pak. Aku boleh coba ke kamarnya Tia, tidak?” tanya Rika


“Oh, boleh. Ayo aku antar.” Ucap pak Sendy


Tak sampai menunggu lama, mereka pun langsung mendatangi kamarku dan mengetuk kamarku


“Tia... Tia..!! Ini ada Rika. Kamu tidak ingin bertemu dengannya?” tanya pak Sendy dari luar sambil mengetuk pintu kamarku

__ADS_1


Aku yang ternyata sudah terbangun pun akhirnya membukakan pintu kamarku.


“Iya, mas.” Sahutku saat pintu sudah aku buka


“Kamu masih pusing?” tanya pak Sendy


“Sudah jauh lebih baik, mas.” Sahutku


“O ya, ini ada Rika. Kamu mau ngorol di kamar atau di luar?” tanya pak Sendy


“Aku masih ingin di kamar dulu, mas.” Sahutku


“O ya sudah kalau begitu. Aku menemani Rio dulu. Kamu mengobrolah dengan Rika.” Ucap pak Sendy dan aku pun mengangguk lalu pak Sendy pun pergi


“Ayo, Rik. Masuk sini.” Ucapku mempersilahkan Rika untuk masuk


Rika pun akhirnya masuk dan mengamati keadaan kamarku


“Tia, pak Sendy itu sepertinya sangat menyayangimu, ya?!” ucap Rika dan aku pun tersenyum


“Kok kamu cuma tersenyum begitu sih?” protes Rika


“Lha terus aku harus jawab apa, Rik?” tanyaku


“Oh.” Sahutku


“Lha kok sekarang jawabannya cuma ‘oh’ sih?” lagi-lagi protes Rika


“Hehehe... Ya begitulah, Rik.” Sahutku pada akhirnya


“Nah, gitu donk. Kan enak kalau dapat jawaban.” Ucap Rika dan aku pun hanya tersenyum


“O ya, Tia. Aku boleh tanya sesuatu ga?” ucap Rika


“Boleh. Mau tanya apa?” ucapku


“Kamu sebenarnya ada apa tadi pagi?” tanya Rika khawatir sekaligus kepo


“Hmm... Tidak ada apa-apa, Rik. Cuma sedikit mengkhawatirkan sesuatu.” Sahutku

__ADS_1


“Khawatir?! Mengkhawatirkan masalah apa?” tanya Rika lagi


“Hmm... Sebenarnya ini masalah siswa yang baru saja masuk itu.” Ucapku


“Anak baru?! Oh, si Fia itu?” ucap Rika dan aku pun mengangguk


“Ada apa memang dengan Fia?” tanya Rika


“Fia itu sebenarnya suka dengan pak Sendy.” Jelasku


“Sukan dengan pak Sendy?! Kamu tahu itu darimana?” tanya Rika yang lagi-lagi penasaran


“Aku tahu karena aku tahu sendiri dengan jelas beberapa hari yang lalu dan ternyata tebakanku ini memang di benarkan oleh kenyataan kalau dia sempat bicara jujur dengan pak Sendy.” Jelasku


“Terus pak Sendynya sendiri bagaimana?” tanya Rika


“Dia bilang ke aku kalau dia sama sekali tidak menganggap Fia itu seperti orang lain. Dia menganggap Fia itu seperti adiknya sendiri.” Jelasku


“Tunggu..Tunggu... Maksudnya adik itu apa ya?” tanya Rika yang baru sadar kalau ada kejanggalan dari penjelasanku tadi


“Hmm... Begini, Rik. Sebenarnya, Fia itu adalah adik sepupu angkatnya pak Sendy.” Sahutku


“Adik sepupu angkat?! Memangnya ada ya, adik sepupu angkat?” Tanya Rika


“Ada.” Sahutku singkat


“Lha kok bisa?” tanya Rika bingung


“Jadi, pamannya pak Sendy itu mengangkat anak dan anaknya itu adalah Fia.” Jelasku


“Oh, jadi begitu.” Ucap Rika dan aku pun mengangguk


“Terus, jadi intinya, kamu itu kepikiran terus masalah itu?” lanjutnya dan aku pun mengangguk


“Ya ampun, Tia. Kamu itu ya.” Ucap Rika tidak habis fikir dan aku pun hanya diam dan menunduk


“Ya sudah. Tidak perlu di pikirkan. Cukup percaya saja dengan pak Sendy dan juga dengan apa yang kau rasakan.” Ucap Rika memghiburku


“Iya, Rik. Terimakasih.” Ucapku

__ADS_1


“Ya sudah. Kalau begitu, kita keluar ya. Kita gabung sama mereka berdua. Ok?!” ajak Rika dan aku pun mengangguk


Bersambung....


__ADS_2