
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Harispun mulai buka suara
“Tia, gue minta maaf sama lo. Gue ga tahu, klo lo bakalan jadi bahan gosip kaya begini. Gue bener-bener ga tahu. Gue tadi pagi sebenarnya hanya bingung gimana caranya bisa deket sama lo. Akhirnya gue curhat ke temen gue yang udah punya pacar. Tapi gue ga nyangka bakal jadi kaya begini.” Jelas Haris yang menyesali apa yang udah terjadi
“Tia, gue harap lo mau maafin gue dan juga ngasih gue kesempatan sekali lagi.” Ucap Haris dan aku sempat sekilas melihat muka pak Sendy menjadi merah padam
"Hadeuh..😧." gumamku
“Ok. Gue kasih kesempatan lo. Tapi hanya sebagai teman bukan yang lebih.” Ucapku
“Kenapa? Apa ada orang lain yang lo suka?” tanya Haris kecewa
“Ada.” Sahutku ngasal
“Siapa?” tanya Haris kepo
“Rika..!!” sahutku ngasal
“Apa? Gue?! Ih amit-amit deh. Gue normal kali Tia. Lo, gue tolak.” Ucap Rika
“Haizz.. Maksud gue itu, di banding pacar, gue saat ini tuh lebih butuh teman. Begitu.” Sahutku
“Oh... Kirain..” celetuk Rika lega dan pak Sendy untuk pertama kalinya tersenyum
“Ya udah, klo gitu, dengan menjadi teman bisa dekat sama lo, gue mau.” Ucap Haris pada akhirnya
“Gue juga mau.” Celetuk Bima dan akupun tersenyum
“Ya udah, berhubung udah ga ada masalah lagi, gimana klo kita makan baso di luar?!” ucap Pak Rio
“Boleh, tapi bapak yang bayarin kita semua ya..” ucap Rika
__ADS_1
“Kok bisa jadi aku yang bayar?” gerutu pak Rio
“Lha iya, kan tadi bapak yang ajak. Ya ga, Tia?” ucap Rika dan akupun mengangguk
“Ya udah.. Ya udah.. Ayo.” Ucap pak Rio pada akhirnya
“Mulut.. Mulut.. Kenapa sih lo harus jadi sumber masalah?!” gerutu pak Rio dalam hati sambil memukul mulutnya sendiri
***
Setelah acara traktirannya selesai, kamipun di antar pulang ke rumah kami masing-masing dan yang terakhir hanya tinggal aku dan pak Rio di mobilnya pak Sendy
“Sen, lo ngapain balik ke sekolah lagi?” tanya pak Rio
“Kan mobil lo ada di sekolah.” Sahut pak Sendy
“Ah lo ma gitu.” Ucap pak Rio
“Tega..” ucap pak Rio sambil geleng-geleng dan akupun tersenyum
“Tia, pindah ke depan.” Perintah pak Sendy dan akupun langsung menurutinya
Di sepanjang jalan, kami hanya diam. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut kami
Dan sesampainya kami di rumah, akupun lansung masuk ke dalam kamarku
“Tia, kamu ga boleh deket sama cowo lain. Ingat itu?!” teriak pak Sendy saat aku hendak masuk ke dalam kamar dan akupun hanya diam tidak menjawab apa-apa karena bingung dengan apa yang dimaksud oleh pak Sendy
***
Di dalam kamar, setelah aku mandi dan ganti baju, aku berbaring di atas tempat tidurku dan menatap langit-langit kamar
__ADS_1
“Ayah, bunda, kalian sampai kapan ada di sana? Kenapa kalian tidak mencoba menghubungiku terlebih dahulu?😢” gumamku sambil meneteskan air mata karena terlalu rindu mereka
Dan di saat yang bersamaan..
“Tia, kamu lagi ngapain di dalam?” tanya pak Sendy dari luar kamarku
“Iya ada apa pak?” tanyaku saat membuka kan pintu kamar
“Kamu menangis?” tanya pak Sendy yang ternyata memperhatikan aku.
“Aku rindu orang tuaku pak. Kapan kira-kira mereka akan pulang?” ucapku
“Cobalah untuk menghubungi mereka.” Ucap pak Sendy yang terdengar lebih lembut
“Tapi pak?” ucapku
“Pakailah HP yang aku kasih tadi pagi. Ga apa-apa. Pulsanya unlimited kok. Kamu boleh pakai sepuas kamu.” Ucap pak Sendy
“Terimakasih pak.” Ucapku dan akupun langsung mencari-cari HP yang tadi pagi diberikan pak Sendy padaku
.
.
.
.
.
Lanjut...👉
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya...🙏