
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, akupun menghela nafas panjang..
“Haaah...😧” ucapku
“Kenapa lo Tia?” tanya Rika
“Suasana hati gue tiba-tiba aja jadi BT.” Ucapku
“BT kenapa sih lo?” ucap Rika
“Ga tahu. Pokoknya BT aja.” Sahutku
Lalu tiba-tiba...
“Lo yang namanya Tia kan?!” tanya Bima
“Iya, lo siapa?” tanyaku
“Gue Bima, temennya Haris.” Ucap Bima
“Oh..😒” sahutku
“Tia, Haris pingin ketemu sama lo tuh.” Ucap Bima
“Terus...” ucapku
“Lo ditunggu di kantin sekolah. Katanya ada yang mau dia omingin sama lo.” Ucap Bima
“Oh begitu. Emang di sini siapa yang butuh?” ucapku
“Ya dia sih.” Ucap Bima
“Ya udah, klo dia yang butuh, sekarang temuin gue di ruang BK.” Ucapku
“Ruang BK? Kenapa harus di sana?” tanya Bima bingung
“Kenapa harus di sana? Bener lo pingin tahu?😩” ucapku dan Bimapun mengangguk
“Ok.. Klo lo pingin tahu, lo bisa ikut temen lo ke ruang BK. Itupun klo lo ma siapa tadi namanya, Haris ya?! Berani datang.” Ucapku meragukan mereka berdua
__ADS_1
“Ya udah, gue sampein ke Harisnya dulu klo gitu.” Ucap Bima
“Hmm... Jangan lama-lama masalnya gue mau main. Gue tunggu setengah jam. Klo sampai setengah jam ga datang, gue tinggal.” Ucapku
“Ok.” Sahut Bima singkat lalu pergi
“Lo mau ngapain Tia?” tanya Rika
“Nanti lo juga bakal tau sendiri. Ya udah yuk. Kita ke ruang BK sekarang.” Ajakku dan Rikapun mengikutiku
****
Di ruang BK, aku melihat ada pak Rio dan juga pak Sendy
“Sen, istri lo datang tuh?!” ucap pak Rio
“Diem lo.” Sahut pak Sendy
“Mau berangkat sekarang?” tanya pak Sendy to the point
“Tunggu setengah jam lagi 😒.” Ucapku datar tapi dengan wajah agak jutek
Tidak sampai setengah jam, Bima pun berhasil mengajak Haris ke ruangan BK
“Lo berdua udah sampai?” tanyaku duduk di kursi yang biasa di duduki oleh pak Sendy
“ok.. Sekarang kita mulai.. Pak Sendy, pak Rio, tolong perhatikan dan juga dengar baik-baik.” Ucapku yang membuat mereka saling menatap satu sama lain karena bingung
“Lo yang namanya Haris?” tanyaku
“Iya.” Sahutnya
“Tadi kata Bima, ada yang mau lo sampaikan ke gue. Sekarang lo ngomong aja di sini.” Ucapku
“Tapi..” ucap Haris ragu
“Kenapa? Ga berani? Apa malu atau ga enak?” tanyaku dan harispun diam aja
“Ok.. Klo lo ga berani, biar gue aja yang ngomong. Dan lo cukup jawab ya atau tidak.” Ucapku
__ADS_1
“Apa benar, lo siang ini mau ngungkapin perasaan lo ke gue?” tanyaku
“Itu..” ucapan Haris langsung aku potong
“Cukup jawab ya atau tidak. Gue ga butuh jawaban lain.” Ucapku tegas membuat semua yang ada di ruangan itu menjadi diam termasuk pak Sendy dan juga pak Rio
“Iya.” Sahut Haris
“Terus lo pagi-pagi udah curhat masalah ini ke orang lain?” tanyaku asal nebak
“Iya.” Sahutnya lagi
“Dan lo tau, kenapa lo, gue suruh ke ruangan BK ini?” tanyaku
“Ga.” Sahutnya
“Ok.. Sekarang kalian yang ada di sini dengar baik-baik.” Ucapku yang membuat mereka semua tegang
“Sebelumnya gue ucapin terimakasih atas perasaan lo ke gue. tapi maaf, Gue ga suka cara lo yang seperti ini. Gara-gara lo, gue di marahin habis-habisan sama bapak ini (menunjuk ke arah pak Sendy). gara-gara lo, hari ini suasana hati gue jadi kacau, dan gara-gara lo juga, gue jadi bahan omongan teman-teman satu sekolah. Lo tau ga rasanya jadi bahan gosip?? Tau ga?!😡” ucapku emosi dan Harispun diam menunduk
“Gue marah, gue emosi kaya gini itu bukan menyalahkan perasaan lo ke gue. Tapi yang gue salahin itu cara lo. Sebagai cowo, seharusnya lo bisa berfikir dan bertindak pakai logika. Bukannya kaya sekarang. Pake perasaan. Jadinya malah kacau.” Ucapku
“Sekarang, lo mau komentar apa? Gue dengerin. Mumpung lagi ada di ruangan BK ini. Kita selesaikan ini baik-baik.” Ucapku tegas sementara pak Sendy dan pak Rio hanya melongo
.
.
.
.
.
Bersambung...
Kira-kira tanggapan Haris bagaimana ya setelah tau dia ditolak?
Lanjut...😉
__ADS_1
Jangan lupa like dan comentarnya ya...🙏