Cintanya Guruku Padaku

Cintanya Guruku Padaku
rumah kakek


__ADS_3

“Mas, tolong.. Jangan begini. Ini masih pagi.” Ucapku memelas


“Tidak. Tidak akan aku lepaskan.” Sahutnya yang masih tetap saja menciumku


“Mas.. Aku lapar..” ucapku mengeluarkan jurus terakhir berharap dia mau menyudahi ciumannya itu


Setelah mendengar ucapanku, dia pun langsung berhenti..


“Yes.. Akhirnya berhasil juga.” Gumamku dalam hati


“Baiklah, kali ini kamu, aku lepaskan. Tapi jika lain kali kamu mengulangi kesalahan yang sama, maka... Siap-siap aja terima hukuman dariku dan saat itu, aku tidak akan mengampunimu lagi seperti sekarang. Kamu mengerti tidak?” tanyanya seperti sedang mengancamku


“Iya.. Iya.. Aku ngerti mas.” Sahutku sambil mengangguk-anggukkan kepala


“Ya sudah, ayo kita sarapan, setelah itu ke rumah kakek.” Ucap pak Sendy


“Ke rumah kakek? Kok bapak, eh salah, kok mas tidak kasih tahu aku sih kalau sekarang mau ke rumah kakek?” protesku


“Kenapa memang? Keberatan?” tanyanya


“Ya tidak sih.” Sahutku


“Ya sudah, ayo buruan sarapan setelah itu kita berangkat.” Ucap pak Sendy dan aku pun mengangguk


Seperti biasanya, pak Sendy yang selalu masak dan aku yang selalu mengambilkan dia makanannya


Setelah sarapan selesai, kami pun langsung berangkat menuju rumah kakek dan di dalam perjalanan, aku merasa tegang dan malu sekali. Bagaimana tidak tegang dan malu, kalau ingat cerita pak Sendy waktu itu, membuatku jadi ingin sekali sembunyi di bawah selimut.


“Bodoh.. Bodoh.. Bodoh..” gumamku yang tanpa sengaja sambil memukuli kepalaku


“Kamu kenapa, sayang?” tanya pak Sendy


“Oh, tidak ada apa-apa.” Sahutku


“Oh ya sudah kalau tidak ada apa-apa.” Ucapnya


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya kami pun sampai di rumah kakek.


“Woow.. Rumahnya unik sekali.😮” ucapku


“Kalian ini orang kaya ya, mas?” tanyaku

__ADS_1


“Tidak kok. Tidak kaya. Biasa saja.” Sahutnya santai


“Kalau tidak kaya, kenapa rumah kalian itu bagus-bagus banget.” Ucapku polos


“Haiz.. Ni anak. Sudahlah tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang kan kamu kan sudah jadi nyonya di rumah yang bagus itu.” Ucapnya


“Masa’ iya?!” celetukku


“Tia..!! Kamu mau aku hukum lagi ya?” tanya pak Sendy


“Iya.. Iya.. Maaf.” Ucapku


“Ya sudah, ayo masuk. Kakek sudah menunggu kita di dalam.” Ucap pak Sendy dan aku pun mengangguk


Kami pun akhirnya masuk ke dalam rumah yang sangat unik Itu. Saat kami berjalan masuk, tak henti-hentinya aku merasa takjub dengan arsitek rumahnya itu


Di saat aku sedang menganga alias melongo alias takjub dengan rumahnya itu, tiba-tiba..


“Hai mas sendi, sudah lama ya kita tidak ketemu.” Sapa seorang perempuan yang sepantaran denganku tapi dia agak lebih tua sedikit dariku


“Oh kamu, Fia. Apa kabar?” tanya pak Sendy


“Itu siapa, mas?” tanyaku berbisik


“Oh, dia ini Fia. Adik sepupu angkatku.” Jelasnya


“Oh..” sahutku yang sebenarnya bingung


Kalian Bingung tidak?! Jangankan kalian, aku sendiri juga bingung mau jelasinnya. Ya sudahlah...


“Ini siapa, mas?” tanya Fia


“Oh, ini Tia.” Ucap pak Sendy


“Oh, Tia ya?! Salam kenal ya, Tia.” Ucapnya


“Iya.” Sahutku


“O ya Fia, Kakek ada?” tanya pak Sendy


“Ada mas di dalam.” Ucap Fia

__ADS_1


Kami pun langsung masuk ke dalam dan menemui kakek. Bayanganku sih yang namanya disebut kakek itu, sudah tua renta. Berjalan pun pakai tongkat dan rambutnya pun sudah berwarna putih


Tapi ternyata...


“Hallo Sendy, akhirnya kamu datang juga.” Ucap kakek


“Iya kek, maaf. Aku baru sempat datang ke sini.” Ucap pak Sendy


“Iya tidak apa-apa, Sen. Kakek bisa ngerti kok.” Ucap Kakek


“Ini pasti istri kecil kamu itu kan, Sen?” tanya kakek


“Iya, kek. Ini dulu anak yang merengek minta aku nikahi itu.” Ucap pak sendy yang membuat aku malu setengah hidup eh salah..setengah mati


“Hai, Tia. Kamu sekarang cantik banget ya.” Ucap kakek memujiku


“Ah kakek bisa saja. Kakek juga masih terlihat tampan kok.” Ucapku jujur


“Wah... Wah.. Kamu ini pintar juga ya memuji orang.” Ucap kakek menggoda aku


“Hadih kakek. Aku jujur kok. Sempah deh terkewer-kewer.” Sahutku yang keceplosan pake bahasa tidak jelas


“Bwahahahaha....” tawa kakek pun lepas mendengar ucapanku itu


Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Fia datang


“Bahagia sekali. Kalian sedang ngobrol apa sih?” tanya Fia sambil membawakan minuman


“Eh Fia, kamu sudah kenal Tia belum?” tanya kakek


“Sudah. Tia ini temannya mas Sendy kan?” ucapnya sambil hendak menaruh gelas di atas meja


“Iya. Tapi Tia ini bukan sekedar teman biasa lho, Fia. Di ini teman hidupnya Sendy alias istri kesayangannya Sendy.” Ucap kakek


“Prang...” gelas pun terjatuh dari tangan Fia dan pecah


Entah apa yang sudah terjadi..


Tunggu kelanjutannya di next ya...


Bersambung.. Cihuy...😙

__ADS_1


__ADS_2