
"Kenapa Daniel? Apa karena mamamu tidak setuju dengan hubungan kita? Bukankah kamu berjanji padaku untuk mempertemukan aku dengannya?" Brenda frustasi. Dia sudah kehilangan pekerjaannya, tidak mungkin akan kehilangan Daniel juga.
Selama ini hidup Brenda bergantung dari transferan setiap bulan dari Daniel. Lalu, saat dia mengajak Daniel menikah, Brenda merasa tidak terlalu cepat juga. Dua tahun tentunya sudah cukup untuk menjalin hubungan.
"Aku berubah pikiran, Brenda. Kurasa aku tidak mencintaimu."
Oh my God, ini apalagi? Selama dua tahun, Brenda mendedikasikan hidupnya untuk Daniel. Hari ini dia mendapati kenyataan pahit atas penolakan kekasihnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Daniel?
Brenda merasa bahwa pagi ini Daniel sedang mabuk. Mungkin sisa anggur semalam dan efek belum sarapan pagi. Brenda memutuskan untuk duduk sejenak, walaupun terlihat tidak nyaman. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang lalu menunggu jawaban dari Daniel.
"Jadi, apa keputusanmu, Daniel?" tanya Brenda setelah mengheningkan cipta sesaat untuk mengenang betapa bodohnya hubungan yang terjalin.
Daniel rela mendepak wanita yang jelas sudah membuatnya hidup sempurna seperti ini. Lalu, dia memutuskan berhubungan dengan wanita yang pernah menjadi idamannya kala itu. Sekretaris pribadinya, bahkan Daniel tidak segan untuk mengajaknya menginap di hotel lalu bermandikan peluh bersama.
Kalau dikalkulasi, seharusnya orang yang paling dirugikan saat ini adalah Brenda. Dia sampai harus berpura-pura dipecat demi menutupi skandal yang sudah dibuat Daniel bersamanya. Namun, setelah kedatangan Sarah, wanita berwajah kristal itu, seakan membuat hubungan Daniel dan Brenda kacau.
"Apa ini gara-gara Sarah?" tanya Brenda lagi setelah tidak mendapatkan jawaban apa pun.
"Tidak ada hubungannya dengan Sarah atau siapa pun. Aku sudah bosan dengan hubungan kita, Brenda. Sebaiknya diakhiri saja!"
Seperti dihantam gelombang yang cukup ganas, pertahanan Brenda roboh seketika. Dia lemas dan terduduk di kursi.
Daniel sendiri tidak bisa jujur bahwa dirinya sudah berpaling pada Sarah. Walaupun wanita itu belum memberikan jawaban apa pun, bahkan hanya memberikan penolakan. Dia tetap akan berjuang. Terlebih Helena sudah menyukainya sejak awal pertemuan mereka. Itu merupakan poin plus untuk mendapatkan hati Daniel dan seluruh tubuhnya.
Brenda bangkit dari tempat duduknya. Dia mendekati Daniel yang saat ini sedang duduk di kursinya.
"Daniel, berdiri!" ucapnya pelan, tetapi yakin.
"Jangan ganggu aku! Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Lebih baik pergilah! Ingat, hubungan kita sudah berakhir!"
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Daniel. Lalu, berikutnya pipi kanannya juga. Brenda marah. Dia ingin membuat Daniel tersadar dari kenyataan.
"Cukup, Brenda! Keluar dari ruanganku!"
Tidak bisa dibiarkan. Selama dua tahun terakhir ini, Brenda adalah orang yang selalu mendampingi Daniel. Dalam beberapa situasi, Brenda-lah yang berperan penting di balik layar. Walaupun dia tidak bekerja, tetapi dedikasinya untuk perusahaan tetap ditunjukkan saat mereka bertemu.
Beberapa ide bisnis juga keluar dari mulut Brenda. Kalau sampai dia diperlakukan seperti ini, sama saja seperti Catherine di masa lalu. Dibuang setelah tidak diinginkan.
"Aku tidak mau!" tolak Brenda.
"Terserah kamu saja. Hubungan kita sudah berakhir dan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi."
"Oh, ya? Bagaimana dengan skandal kita? Bagaimana kalau aku umbar ke publik?"
Daniel pikir dia akan takut. Sama sekali tidak. Dia sudah mempersiapkan segalanya.
"Oke, kali ini aku mengalah, Daniel. Mungkin kamu lupa berhadapan dengan siapa? Kalau aku menemukan sumber masalahnya, misalnya Sarah adalah orang di balik semua ini, aku akan menghabisinya. Aku tidak peduli!"
Mendengar nama Sarah, seketika bulu kuduknya meremang. Bagaimana kalau Brenda tahu bahwa Daniel menyukainya? Apakah dia akan membuat kehidupan Sarah menjadi berantakan?
Seperti yang sudah dijanjikan, Helena mengajak Sarah untuk pergi ke sebuah tempat yang menyediakan perhiasan mewah, berlian, dan beberapa aksesoris berkelas lainnya. Mungkin Helena malu karena bertemu dengan Sarah yang berasal dari kalangan atas.
"Sarah!" sapa Helena saat tahu wanita itu baru turun dari mobilnya.
Ya, Sarah tidak sendirian. Dia memang diantarkan sopir, tetapi di dalam mobil itu juga ada Edward. Tanpa sepengetahuan Sarah, Edward sudah menyiapkan beberapa Bodyguard untuk menjaganya dari jauh. Sebenarnya Edward tidak percaya dengan kemampuan Sarah untuk membela diri, tetapi Edward hanya berjaga-jaga saja kalau sampai ada orang lain yang menyakitinya.
"Hai, Tante! Apa kabar? Maaf, aku sedikit terlambat. Kakakku ingin berangkat bersama," ucap Sarah.
"Tuan Edward?"
__ADS_1
"Ya, tetapi dia cuma menurunkan aku saja. Dia ingin agar sopir Tante mengantarku pulang nanti. Bagaimana, Tante? Apa Tante tidak keberatan?"
Helena terdiam. Sudah lama dia penasaran dengan kehidupan Sarah dan Edward. Kakak beradik dari keluarga kaya raya yang beberapa kali masuk ke media elektronik, cetak, dan sejenisnya. Intinya, Edward benar-benar bersinar dibandingkan putranya sendiri. Kabar mansion yang mereka tempati pun tidak kalah menariknya. Artinya, Helena penasaran dan ingin mampir ke sana.
"Tentu. Kalau boleh, apakah tante diizinkan mampir ke mansion Sarah?"
Sarah terdiam. "Nah, mulai silau dengan harta orang lain, bukan? Ternyata kamu tidak pernah berubah, Helena. Tunggu saja! Sebentar lagi kamu akan menyesalinya mengajakku kemari," batin Sarah.
"Sarah, kenapa diam? Tante tidak boleh, ya, mampir ke mansion."
"Tentu saja, Tante. Silakan mampir." Terlihat senyum mengembang di bibir Sarah.
Mereka segera masuk. Banyak pilihan perhiasan yang mahal di sana. Awalnya Sarah ingin membeli cincin, tetapi rasanya tidak sebanding dengan sakit hati Catherine di masa lalu. Lebih baik dia mengambil satu kalung yang harganya fantastis. Setidaknya sampai Helena tidak mampu membayar.
"Tante, bolehkah aku memilih kalung itu?"
Pilihan Sarah jatuh pada kalung yang bernama 'the heart of kingdom ruby' yang harganya sangat fantastis. Jika Sarah memintanya pada Edward, tentu pria itu akan langsung membelikannya. Namun, setelah Sarah menunjuk kalung itu, Helena terdiam.
"Tante? Anda baik-baik saja?"
Helena masih diam. Menurutnya selera Sarah memang berkelas, tetapi tidak cukup untuk membayarnya dengan debit card yang dia miliki saat ini.
"Maaf, Sarah. Bisakah kamu pilih yang lainnya saja?"
"Oh, ya, ampun! Kenapa, Tante? Apakah ini harganya terlalu mahal? Kalau memang Tante tidak bisa membayarnya, tidak masalah. Aku akan menelepon kakakku. Kurasa black card-nya tidak diberikan padaku," ucap Sarah sengaja menyombongkan diri. Setahu Sarah, Daniel memang pebisnis, tetapi dia tidak sampai memiliki black card yang hanya bisa dimiliki pengusaha terkaya di negaranya. Jadi, level bisnis Daniel masih menengah, belum high class.
"Tidak, bukan begitu. Tante akan mencoba menghubungi Daniel. Siapa tahu dia bisa membelikannya untukmu," ucap Helena.
Posisi terjepit pun masih belum mau menyatakan kalah. Silakan saja menghubungi Daniel. Dia pasti akan semakin marah, bahkan harga kalung itu bisa membeli setengah dari perusahaan dan seluruh kesombongannya.
__ADS_1