CROMULENT

CROMULENT
Bab 12. Saling Mencintai


__ADS_3

Dunia Daniel seakan hancur dalam sekejap. Bagaimana dia telah memutuskan hubungan dengan Brenda secara sepihak? Ditambah lagi dengan omelan mamanya yang terus berdengung di telinganya beberapa menit yang lalu. Belum lagi tentang kisah Sarah yang ternyata memiliki selera cukup tinggi dibandingkan wanita pada umumnya. Daniel kalah sebelum berperang.


Kalau sudah seperti ini, sulit sekali mendekati wanita wajah malaikat yang sudah terlanjur menjadi dambaan kehidupannya. Dia berharap setelah Catherine dan Brenda, Sarah-lah yang akan mengisi hari-harinya.


"Kenapa hidup serumit ini?" Daniel menggumam.


Helena baru saja berhenti mengomel beberapa menit yang lalu ketika dia merasa kehausan. Imbasnya pada office boy yang harus mengantarkan minuman dengan cepat ke ruangan Daniel.


Harapan Helena juga pupus untuk memiliki menantu seperti Sarah. Sangat sulit diraih, tetapi mungkin bisa menggunakan cara kotor. Terlintas sedikit rencana di benaknya yang sedang buntu itu.


"Kurasa mama punya ide, Daniel."


Daniel mendongak menatap Helena. Senyuman tersungging di bibirnya lalu mendekat dan duduk di hadapan Daniel.


"Apa yang Mama rencanakan?"


"One night stand!"


"Tidak! Aku bisa dihabisi Edward, Mam. Perusahaan, nyawaku, kehidupanku lebih penting dari apa pun. Aku tidak mau!"


Edward bisa murka kepadanya. Tidak lagi dimasukkan ke dalam penjara, tetapi Edward akan menembaknya dengan peluru 'Jacketed Hollow Point'. Daniel akan mati pada akhirnya. Itu pun jika Edward memberikan pengampunan padanya. Namun, kalau ingin membuat Daniel tersiksa, akan banyak cara yang dilakukan pria itu demi adiknya.


"Dasar bodoh! Bermainlah dengan cantik, Daniel! Kamu bisa memperdaya Catherine, harusnya Sarah akan jauh lebih mudah."


"Mam, Catherine sendiri. Sementara Sarah, Edward adalah orang berpengaruh di negara kita. Aku tidak mau ambil risiko. Lebih baik aku memilih mendekatinya dengan caraku sendiri. Aku juga akan meminta maaf padanya karena Mama tidak bisa memenuhi keinginannya. Mungkin itu jauh lebih baik daripada aku tidak punya kesempatan lagi."

__ADS_1


"Ah, terserah kamu. Mama jadi malu padanya. Ternyata dia jauh lebih mewah dari yang kubayangkan." Helena berpindah tempat ke sofa.


Dua pertarungan yang berbeda. Di saat Daniel berusaha keras untuk mendekati Sarah, lain halnya dengan Sarah yang baru saja memenangkan permainan dengan Brenda.


Ya, dia menuduh Brenda menjadi penyebab hancurnya hubungan Daniel dan Catherine. Selain itu, Sarah juga menakut-nakuti Brenda bahwa mungkin saja mantan istri Daniel telah tiada. Dia pun akan memperlakukan sama kepadanya. Sarah sengaja menggertaknya saja bahwa Daniel tidak sebaik yang dia kira. Itu hanya versi apa yang dia lihat saja.


"Hei, kenapa tersenyum begitu?" tanya Edward saat Sarah baru saja meletakkan beberapa paper bag dari restoran langganan mereka.


"Hubungan Brenda berakhir dan aku berhasil memberikan sedikit bumbu mengerikan supaya dia menjauh dari Daniel."


"Wah, benarkah? Satu tikus sudah terhempas. Berapa tikus lagi yang ingin kamu hancurkan, Sayang?"


"Masih dua lagi, Edward. Kurasa Helena kena mental sekarang."


Sarah menceritakan semua kejadian di toko itu. Kalaupun dia mau, Sarah pasti menghubungi kakaknya untuk meminta membelikan kalung mewah itu. Ternyata Helena masih sama miskinnya seperti dulu.


"Kamu tidak ingin mengakhirinya sekarang? Kita bisa menikah dan hidup dengan tenang, Sarah."


"Tidak, sebelum aku melihat Daniel mengemis permohonan maaf kepadaku. Dia sudah mengambil semua milik orang tuaku sampai tidak tersisa. Dia juga sudah merendahkan aku."


"Ya, baiklah. Kamu harus tetap hati-hati. Jangan sampai dia bisa mengambil kesempatan untuk menyentuhmu apalagi sampai membuatmu terluka. Aku bisa langsung menghabisinya saat ini juga."


Sarah mengangguk. Dia memang bukan Catherine yang dulu. Dia yang selalu mengalah demi orang lain, tetapi jiwa Catherine seakan menghilang bersama dengan munculnya wajah baru Sarah Victoria.


"Sayang, kamu mau makan sekarang atau tunggu beberapa jam lagi?"

__ADS_1


"Tunggu saja. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi."


Cinta yang diberikan Edward begitu besar. Terkadang Sarah menyesal telah meninggalkan pria itu dan memilih mengikuti perjodohan orang tuanya di masa lalu. Dia bahkan tidak ingin bertemu dengan Edward dan lebih memilih untuk fokus pada keluarganya. Andaikan Sarah tahu lebih awal bahwa kelakuan Daniel sangat merugikan, mungkin dia akan memilih memiliki hubungan dengan Edward. Walaupun posisinya masih bersuamikan Daniel. Namun, Catherine saat itu mengira kalau Edward sudah menikah. Kenyataannya malah belum sama sekali dan mengharapkan kesempatan kedua untuk datang.


"Edward, apakah kamu sangat sibuk? Bolehkah aku berbicara sebentar?"


Edward menghentikan pekerjaannya. Dia memandang Sarah lalu tersenyum.


"Katakan saja!"


"Aku ingin mengunjungi makam orang tuaku. Sudah lama aku tidak ke sana. Bagaimana menurutmu?"


Edward agak ragu. Dia sebenarnya ingin menyetujuinya, tetapi mengingat ada hal privasi yang tidak seharusnya orang lain tahu. Mungkin saja kalau Sarah datang ke sana cukup aman, tetapi bagaimana kalau kedatangannya mengundang kecurigaan keluarga Daniel? Walaupun itu tidak mungkin terjadi, tetapi Edward hanya mengantisipasinya saja.


"Kurasa ini bukan waktu yang tepat, Sayang. Maafkan aku. Bukan berarti aku menghalangimu untuk datang, tetapi pikirkan soal Daniel. Cepat atau lambat, dia pasti menyesal telah kehilangan Catherine. Dia pasti berusaha keras untuk menemukannya."


"Mengapa bisa begitu?" Sarah heran.


"Sama seperti yang kulakukan dulu, Sarah. Aku kehilanganmu dan berusaha mencari keberadaanmu. Aku menyesalinya, Sarah. Aku buntu sehingga memutuskan untuk fokus pada bisnisku. Ternyata tidak sia-sia aku bekerja keras. Aku berharap kesempatan kedua dan sekarang aku mendapatkannya. Kurasa Daniel akan memiliki pemikiran sama sepertiku. Para pria putus asa!" Edward terkekeh-kekeh.


Catherine bersembunyi setelah pernikahannya dengan Daniel. Tidak ada acara istimewa karena pernikahan itu dilangsungkan secara tertutup. Selain itu, Catherine memang sudah berjanji untuk tidak muncul di hadapan Edward. Takut menyakitinya lagi.


"Aku minta maaf, Edward. Aku sungguh tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya ... tidak ingin melukai orang tuaku. Kamu tahu itu, kan? Posisiku dalam dilema."


"Lupakan saja, Sayang. Nikmatilah hidupmu sekarang. Buat saja Daniel dan Helena menyesal. Setelah itu, mari kita menikah! Entah, terasa lucu sekali aku sudah mengulang permintaan ini ribuan kali. Harusnya aku sadar diri bahwa kamu tidak akan ke mana pun. Kamu ada bersamaku." Edward menunjukkan rasa cintanya melalui kasih sayang, kepedulian, harta, dan tentunya selalu membuat Sarah nyaman berada di dekatnya.

__ADS_1


"Aku yang terus menundanya, Sayang. Maafkan aku, ya. Aku harus cepat menyelesaikan misiku dan kita hidup menjauh dari mereka. Kita pergi ke belahan dunia mana pun asalkan berdua. Aku mencintaimu, Edward. Sangat mencintaimu!"


"Aku juga mencintaimu, Sayang. Cepatlah kembali dan kita akan menikah."


__ADS_2