
Kedatangan Brenda sangat mengejutkan. Sebisa mungkin dia meyakinkan bahwa ini adalah sebuah kesalahpahaman saja. Daniel tidak bermaksud untuk menyentuh Sarah kalau bukan karena bekas cappuccino itu.
"Jangan kelewatan batas, Daniel! Ini peringatan pertama dan terakhir. Jangan coba-coba membuatku semakin marah!" balas Brenda pelan.
Sepertinya Brenda sengaja membuat Sarah sadar diri. Terlihat tidak pantas, tetapi Brenda malah duduk di paha Daniel lalu mengecup bibir pria itu sekilas.
"Kita makan siang bersama, ya," pinta Brenda.
"Kurasa kita tidak akan pergi berdua saja, Brenda. Aku sudah mengajak Sarah untuk makan siang bersama. Itu pun kalau kamu tidak keberatan."
Daniel berbohong! Mungkin itu cara yang tepat untuk menjerat Sarah agar berlama-lama berada di dekatnya.
Alih-alih menerima, Sarah malah merasa seperti seorang pengganggu. Dia harus menolaknya.
"Kurasa tidak tepat kamu mengajakku saat Brenda memintamu untuk pergi berdua. Mungkin ada pembicaraan istimewa yang akan kalian lakukan. Jadi, aku tidak bisa menerimanya."
Rasanya risih sekali melihat pemandangan di depannya. Walaupun dulu Sarah pernah menjadi teman ranjang selama lima tahun bersama Daniel dalam wujud Catherine. Lalu, beberapa beberapa bulan sebelum perceraian itu rupanya Daniel bermesraan seperti ini di kantor. Itu hanya sebatas opini Sarah tanpa tahu kebenarannya, tetapi keyakinannya berkata demikian.
"Baguslah, Sarah. Akhirnya, kamu memahaminya juga. Kurasa kedatanganmu ke sini tidak tepat. Aku sengaja ingin memberikan kejutan untuk Daniel, tetapi aku yang terkejut. Kalau kamu ingin pergi sekarang, aku akan mengantarmu ke depan. Aku hanya tidak ingin kamu salah keluar dari gedung ini. Apalagi ini pertama kalinya kamu datang." Ucapan Brenda menyiratkan kecemburuan untuk Sarah.
Sementara bagi Sarah sendiri, itu adalah awal yang bagus. Ternyata Brenda tidak serumit yang dia kira. Mungkin tinggal memberikan sedikit bumbu untuk membuat hubungan mereka berubah. Bisa juga benar-benar berakhir kalau Sarah mau melakukannya dengan cepat.
Tidak seperti itu konsepnya! Sarah harus bermain lambat untuk memukul Daniel, Helena, dan Brenda bersamaan. Sarah tidak mengulur waktu, tetapi hanya mencari yang tepat saja.
"Terima kasih. Aku senang kalau kamu mengantarkan aku ke depan. Lagi pula, cangkir cappuccino-ku juga sudah kosong. Terima kasih, Daniel. Kamu sangat beruntung memiliki Brenda," puji Sarah.
Keduanya berjalan beriringan. Sebagai seorang kekasih, Brenda menyadari bahwa posisinya terdesak oleh Sarah. Dia cantik, menarik, dan berkelas. Satu kali memandangnya saja bisa membuat pria langsung jatuh cinta. Itu menurut pengamatan Brenda hari ini.
"Jangan coba-coba untuk merebut Daniel dariku!" kata Brenda.
__ADS_1
Sarah berhenti. Brenda pun melakukan hal yang sama.
"Kenapa berhenti?" tanya Brenda.
"Aku ke sini hanya untuk urusan bisnis dan pekerjaan. Mengapa kamu takut aku merebut Daniel darimu? Apakah Daniel adalah hasil rampasan? Ehm, maksudku caramu mendapatkan Daniel."
"Apa kamu bilang? Aku tidak merebut Daniel dari siapa pun. Istrinya saja yang bodoh tidak bisa memberikan kepuasan pada suaminya. Pantas kalau Daniel menceraikannya. Wanita itu benar-benar tidak berguna!"
Dalam kecemburuan Brenda, dia masih sempat mengungkit masa lalu Catherine. Andaikan saja Sarah tidak menyadari dirinya saat ini, mungkin akan melayangkan tamparan ke wajah Brenda.
"Sudahlah, Brenda. Kalau kamu memang tidak merebut Daniel dari istrinya, mengapa kamu takut padaku?" Sarah mencondongkan wajahnya tepat di depan mata Brenda. "Apakah aku terlihat seperti wanita yang kamu maksud?"
Seketika Brenda membeku. Dibandingkan wajahnya, wajah Sarah sangat halus. Dia seperti berasal dari susunan kristal. Cantik dan berkilau. Pantas saja kalau Daniel akan tergila-gila padanya. Sebagai seorang wanita saja, Brenda mengagumi kecantikan Sarah.
Akhirnya, pembicaraan itu berakhir. Benar saja karena Brenda mengantarkan Sarah sampai di depan resepsionis. Tidak ada pembicaraan lagi sampai Sarah benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Tidak ada maksud apa-apa, Brenda. Kamu saja yang terlalu berlebihan. Dia hanya datang ke sini untuk urusan pekerjaan lalu meminum kopi. Kamu tahu sendirilah bagaimana Sarah–"
"Kamu tak seharusnya melakukan itu. Cukup sodorkan tisu saja kepadanya. Itu sudah cukup."
Stok tisunya habis. Dia lupa meminta pada office boy untuk menyiapkannya. Untuk mendukung alibinya, Daniel menyodorkan kotak tisu yang kosong.
"Aku minta maaf. Ini kosong, Sayang. Tolong jangan berlebihan. Kita sudah bersama selama dua tahun. Apalagi yang bisa kuharapkan dari wanita lain? Aku juga rela meninggalkan istriku demi kamu."
Ucapan inilah yang membuat Brenda berhenti merajuk. Dia kembali tenang.
Seperti halnya Sarah dan Edward yang diliputi cinta kasih. Entah, sejak kapan mereka saling mengungkapkan perasaannya. Pertemuannya kali ini tidak terlihat canggung lagi.
Sarah menghambur ke pelukan Edward setelah melakukan pekerjaannya hari ini. Baru beberapa persen saja dari semua rencana yang mereka buat.
__ADS_1
"Bagaimana, Sarah? Apa dia menyakitimu?"
"Tidak, Edward. Dia hanya menghapus bekas kopi di sudut bibirku. Dia sama sekali tidak pernah melakukan itu di masa lalu, bahkan dia langsung mundur saat suara Brenda mengejutkannya."
Edward membelai rambut Sarah. Tentunya ini dilakukan di belakang semua orang. Di depan mereka, Sarah dan Edward adalah kakak beradik. Namun, tidak dengan saat berduaan seperti ini. Hubungan mereka jelas lebih dari itu.
"Kamu menikmatinya?" Ada gurat kecemburuan dari wajah Edward yang tidak diketahui Sarah.
"Kamu pikir aku peduli, Edward? Tidak sama sekali. Aku hanya tidak sabar ingin segera masuk dan bertemu dengan Helena. Kurasa dia pasti menyesal telah menerima Brenda."
"Mungkin saja. Apakah karena uang?"
"Kurasa, tetapi biarkan saja. Oh, ya, apakah kamu sudah makan siang? Kalau belum, aku akan mengambilkan untukmu. Atau kamu mau makan di luar saja?"
Edward melepaskan pelukannya. Dia kembali memandangi wajah Sarah.
"Telepon office boy saja! Minta dia membeli makanan untuk kita. Aku tidak mau semua orang di luaran sana mengagumi kecantikanmu sekarang. Kamu tahu kenapa? Aku cemburu, Sarah!"
Ucapan itu seperti sebuah lelucon. Sering kali mengucapkan kata cinta, cemburu, dan apa pun itu. Terkadang Edward sangat tidak realistis karena takut kehilangan Sarah untuk kedua kalinya.
"Ck, jangan terlalu berlebihan. Aku sudah terikat denganmu. Aku tidak mungkin bisa seperti ini tanpamu, Edward."
"Aku harap misi balas dendammu segera selesai. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama. Jangan sampai lengah saat berhadapan dengan Daniel. Bisa kupatahkan tulang hidungnya kalau sampai dia kurang ajar kepadamu."
Sarah tertawa. Ternyata Edward jauh lebih sensitif dari sebelumnya.
"Tunggu! Kamu mengkhawatirkan Sarah atau Catherine?"
Sebenarnya Edward kesal kalau Sarah sudah membahas masa lalu. Selama 15 bulan ini dia menahan diri untuk bisa hidup berdampingan dengan Sarah. Sosok yang selalu terlihat sempurna di hadapan semua orang, bahkan tidak satu orang pun tahu kalau dia adalah palsu.
__ADS_1