
Sarah membalikkan badannya. Dia tersenyum kepada Brenda.
"Ada apa?"
"Aku cemburu padamu. Tuan Edward memperlakukanmu dengan sangat baik. Jangan sampai aku tergerak untuk merebut pria itu lagi," ujar Brenda seolah menakuti Sarah.
Sarah tersenyum lagi. "Silakan saja! Edward bukan Daniel."
Jelas saja sangat berbeda. Edward bisa menjaga diri dan tidak mudah tergoda oleh wanita lain. Sebelum bersama Catherine untuk yang kedua kalinya, Edward sering kali bersikap dingin pada para wanita yang mendekatinya. Sebenarnya banyak sekali lamaran yang datang, tetapi Edward selalu menolaknya.
Setelah berucap demikian, Sarah menuju ke tempat Edward bersama teman-temannya. Pria itu langsung merentangkan kedua tangannya berniat untuk memberikan pelukan pada calon istrinya.
"Wah, selamat atas pertunangan kalian," ujar rekan kerja Edward.
"Terima kasih."
Sarah terlihat biasa saja, tetapi pikirannya bercabang. Ucapan Brenda memang tidak berpengaruh di awal, tetapi rasa trauma yang dimiliki saat berhubungan dengan Daniel seolah muncul begitu saja.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Edward setelah menyadari bahwa Sarah terlihat tidak bersemangat.
"Aku lelah, Edward. Bisakah kita pulang sekarang?"
"Tentu. Kita pulang sekarang."
Setelah berpamitan dengan teman-teman Edward, Sarah digandeng menuju ke tempat parkir mobil. Sampai di sana, sebelum mereka berdua masuk, Sarah mencegah Edward.
"Edward, tunggu!"
"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggu?"
Sarah mengangguk pelan. "Iya."
"Ceritakan!"
"Apakah kamu tidak tertarik pada wanita lain?"
Edward tersenyum kemudian mengacak rambut Sarah. Selama bertahun-tahun dia sanggup menunggu kembalinya Sarah, tetapi mengapa sekarang Sarah meragukannya?
"Omong kosong apa ini, Sayang?"
__ADS_1
"Brenda mengancamku. Dia akan merebutmu dariku."
Edward menarik Sarah untuk mendekat. Lalu, memeluknya dengan sangat hangat.
"Kamu terlalu khawatir. Aku tidak akan tergoda oleh wanita sepertinya. Percayakan cinta kita bahwa aku tidak akan melakukan apa pun. Oke?"
Pada akhirnya, Sarah mau masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka kembali ke mansion.
Malam semakin larut, tetapi Sarah tidak mau tinggal di kamar sendirian. Dia meminta Edward untuk menemaninya malam ini.
"Jangan pergi dariku, Edward! Malam ini tolong temani aku di kamar ini."
"Tentu, tapi aku harus ke kamar dulu untuk mengganti jasku. Bagaimana?"
Sarah menggeleng. Dia menolak. Ketakutannya cukup beralasan karena Brenda tidak akan pernah bermain-main.
"Baiklah, Sarah. Kali ini kamu sangat manja sekali."
Edward terpaksa melepaskan jas, kemeja, dan menyisakan celana panjangnya saja. Sementara Sarah, dia mengganti gaunnya dengan pakaian tidur berbahan satin.
Edward sudah berada di ranjang. Selanjutnya disusul Sarah yang terbaring membelakangi Edward.
"Masih mencemaskan Brenda?"
Siapa yang paling menderita di sini? Sarah atau Brenda? Tentu saja Brenda merasa paling menderita, padahal Sarah-lah yang lebih dulu menderita. Dia membenci Catherine lalu berubah wujud dengan melakukan operasi plastik.
"Dia licik, Sayang."
"Apa bedanya denganmu? Kita sudah bekerja keras selama ini."
"Pokoknya aku takut, Edward. Ketakutanku seperti berulang pada kekalahanku menghadapi Daniel di masa lalu."
"Sudahlah. Lebih baik kamu tidur dan besok pagi kita harus mempersiapkan segalanya. Pernikahan kita semakin dekat." Edward kemudian memeluk Sarah dengan sangat erat.
Sementara itu, Brenda sempat tidak percaya dengan apa yang disampaikan Sarah saat bertemu di bar. Oleh karena itu, dia memutuskan datang ke rumah sakit pada malam hari untuk melihat kondisi Daniel. Tidak sulit untuk menemukan keberadaannya karena rumah sakit terdekat hanya ada satu.
Terlihat seorang wanita tua yang tidak lain adalah mama Daniel terlelap di depan ruang tunggu. Wanita itu terlihat tidak berdaya, padahal dulunya dia sangat berkuasa.
"Tante!" Brenda menggoyang tubuh wanita itu.
__ADS_1
Helena perlahan membuka mata. Dia mengira kalau itu adalah perawat, tetapi saat tahu itu adalah Brenda, Helena bernapas lega.
"Akhirnya, kamu datang juga, Brenda! Aku berusaha menghubungimu, tetapi–"
"Awalnya aku tidak peduli, Tante. Setelah aku bertemu dengan Sarah, aku memutuskan untuk datang ke sini." Brenda sepertinya muak mendengar basa-basi Helena yang pada akhirnya akan menyudutkan itu.
"Tidak masalah, Brenda. Terima kasih karena kamu sudah mau datang. Ngomong-ngomong, apakah kamu putus dengan Daniel? Aku pikir kalau kalian masih menjalin hubungan, tentunya kamu tidak akan mengabaikan panggilanku."
Nah, benar, bukan? Helena mengusiknya dengan mengira bahwa mereka masih berhubungan. Nyatanya Brenda tidak mau memiliki hubungan dengan pria yang sama sekali tidak bisa memiliki anak itu. Jadi, selama ini yang bermasalah adalah Daniel, bukan dirinya.
"Daniel mengalami patah tulang kaki dan dokter sedang–"
"Jangan katakan apa pun, Tante!" Lagi-lagi Brenda memotong ucapan Helena. "Hubungan kami sudah berakhir dan asalkan Tante tahu bahwa Daniel-lah yang selama ini bermasalah!"
Helena yang awalnya mengantuk mendadak harus membuka matanya lebar-lebar. Tidak hanya itu, pendengarannya seakan menangkap informasi lain. Apa yang dimaksud Brenda barusan?
"Ini soal apa, Brenda?"
Setelah Daniel mengambil hasil check up kondisi kesehatannya, Brenda semakin penasaran. Dia pun mengambilnya, tetapi di hari yang lain. Dokter awalnya menolak permintaan Brenda yang ingin tahu hasil akhir pemeriksaan Daniel, tetapi setelah menjelaskan duduk perkara dengan berbohong menjadi istrinya, dokter akhirnya mengatakan bahwa Daniel bermasalah.
"Sudahlah, Tante, kupikir Anda juga sudah tahu bahwa Daniel adalah penderita oligospermia. Apa dia tidak bicara apa pun pada Tante?"
Helena memekik tertahan. Dia tidak sanggup lagi menjalani hari-hari yang menyesakkan dada. Harusnya dia tahu sejak awal. Lebih tepatnya sebelum Daniel memutuskan untuk mendekati wanita lain. Kalau sudah seperti ini, semuanya akan berakhir sia-sia.
"Tidak ada yang kamu bicarakan, Brenda. Mungkin saja Daniel tidak ingin membuatku semakin sedih."
"Ck, itu sungguh keterlaluan! Anda akan terus memandang rendah para wanita yang berhubungan dengan Daniel. Anda pasti sudah mengira mereka yang tidak sehat termasuk diriku. Kenyataannya Daniel yang bermasalah. Jadi, aku ke sini hanya untuk melihatmu saja. Setelah itu, jangan lagi kamu meminta Daniel untuk mencariku. Dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal atas perilakunya di masa lalu!"
Helena terdiam. Dia tidak sanggup membalas semua ucapan Brenda padanya. Wanita itu langsung pergi setelah puas mengungkapkan semuanya.
Lagi-lagi dada Helena mengalami sesak. Perawat yang kebetulan lewat di dekatnya segera menolong untuk membawanya ke ruang emergency.
Daniel belum pulih. Ditambah lagi Helena yang mendadak mengalami serangan jantung. Maka orang pertama yang dihubungi pihak rumah sakit adalah Sarah yang memang meninggalkan nomor teleponnya di sana.
Ketika sedang berbincang dengan Edward, ponselnya berdering. Ada panggilan dari nomor rumah sakit.
"Siapa, Sayang?" tanya Edward.
"Telepon dari rumah sakit. Bolehkah aku mengangkatnya?" Tentu saja Sarah harus meminta persetujuan dari Edward, calon suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja!"
Sarah mengangkat panggilan tersebut. Dia terpaku saat mendengar suara di balik telepon yang mengabarkan kabar kurang baik padanya.