
Daniel mengalami patah tulang kaki. Sudah bisa dipastikan bahwa dia tidak akan bisa berjalan dengan normal. Pastinya dia akan memerlukan alat bantu yang nantinya akan mempersulit ruang geraknya.
Helena semakin sedih mendengar kabar itu. Mereka pasti akan hidup susah setelah ini. Daniel akan menjadi pria yang bergantung pada perawatan orang lain.
"Aku harus menghubungi Brenda. Cuma dia yang bisa membantuku sekarang."
Beberapa kali mendial nomor wanita itu, sepertinya tidak mendapatkan respon. Apakah terjadi sesuatu dengannya? Helena tidak tahu kalau hubungan Daniel dan Brenda sudah berakhir.
Sementara itu, persiapan pernikahan Sarah dan Edward semakin dipercepat. Mereka tidak ingin menundanya lagi. Inilah yang mereka inginkan. Hidup bersama hingga akhir hayat.
Walaupun pada akhirnya Sarah tidak bisa memberikan keturunan, tetapi itu bukan menjadi masalah yang serius.
Kabar pernikahan itu pun menyebar karena Edward sudah mengumumkan pada wartawan. Sekalian dia mengumumkan bahwa perusahaan yang dulunya menjadi milik Daniel, kini sudah sah dimiliki oleh Sarah atau Catherine.
"Jadi, bagaimana Anda berkenalan dengan Nyonya Sarah?" tanya salah satu wartawan.
"Sebelumnya kami adalah sepasang kekasih. Namun, Sarah telah dijodohkan dengan pria lain. Kami memang belum putus, tetapi Sarah meninggalkan aku tanpa pesan."
"Wow, definisi cinta pertama!" seru salah seorang wartawan.
"Lalu, bagaimana Anda bisa menemukan Nyonya Sarah?"
Edward sebenarnya tidak ingin menceritakan masa lalu Sarah di depan awak media, tetapi mau bagaimana lagi. Itu hanya masa lalu yang harus ditinggalkan Sarah. Selain itu, agar semua orang tahu bahwa keputusan Sarah untuk mengubah wajahnya karena ingin membalas dendam pada mantan suaminya.
Tidak heran banyak yang menyudutkan Daniel bahwa dia merupakan sosok pria yang jahat. Selain itu, mereka akhirnya tahu bobroknya kelakuan Daniel kemudian mengelu-elukan Sarah.
Mereka juga sudah mendukung sepenuhnya keputusan Sarah untuk menikah dengan Edward. Rasa sakit yang dia terima selama ini akan disembuhkan oleh pria yang amat sangat mencintainya.
Usai konferensi pers seorang diri, pada malam harinya Edward mengajak Sarah untuk makan malam di sebuah restoran. Malam ini Edward akan melamar Sarah secara resmi.
"Memangnya kita mau ke mana, Edward?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Makan malam di luar. Kenapa? Apa kamu malas karena seharian ini berada di kantor?"
Sarah menggeleng. Mana mungkin dia menolak ajakan pria tampan di hadapannya itu. Atas dasar suka sama suka membuat Sarah bersiap dengan cepat.
Mereka sudah berada di sebuah restoran mewah. Edward sengaja memesan ruangan VVIP supaya privasi mereka tetap terjaga.
"Edward, kejutan apalagi ini?"
Meja makan mereka dihiasi beberapa bunga mawar merah. Selain itu, ada lilin yang menyala membuat suasana semakin romantis.
"Aku mau melamarmu, Sarah. Pernikahan kita sudah ditentukan, tetapi lamaran secara resmi di antara kita belum pernah terjadi, bukan? Pertunanganmu dengan Daniel yang gagal itu juga hanya permainan. Bukan resmi pertunangan kita."
Sarah tersenyum. Tangan Edward langsung mengambil tangan kiri Sarah dan menyematkan cincin di sana. Cincin yang tempo hari mereka beli bersamaan dengan Daniel.
"Terima kasih, Edward. Aku bersedia menerimamu."
Kini giliran Sarah yang memasang cincin pertunangan di jari Edward. Setelah itu, Edward memberikan kecupan bibir sebentar lalu kembali ke tempat duduknya.
"Apa rencanamu setelah ini? Apakah kamu akan fokus mengurus perusahaanmu?"
"Bagaimana kalau perusahaan Daniel kamu ambil alih? Ya, setidaknya kamu gabung saja dengan perusahaanmu. Mungkin itu akan lebih gampang dan aku bisa menjadi istri yang tinggal di mansion suaminya."
Melakukan merger perusahaan butuh waktu. Edward tidak mau usahanya kali ini bercampur dengan dendam dari orang lain. Walaupun Edward tahu keuntungan merger perusahaan itu akan membuat miliknya semakin berkembang pesat.
"Jual saja perusahaan itu, Sarah! Aku tidak mau menanggung risiko di kemudian hari. Aku hanya ingin perusahaanku terbentuk atas jerih payahku sendiri, bukan dari tambahan perusahaan orang lain."
"Akan aku pikirkan, Edward."
Mereka segera menikmati makan malam dalam kebahagiaan yang luar biasa. Setelah dari restoran, mereka berencana untuk pergi ke bar karena Edward akan bertemu dengan beberapa orang teman.
"Jadi, duluan mana rencanamu dengan ajakan bertemu rekan bisnismu itu?" tanya Sarah saat mereka berada di mobil.
__ADS_1
"Makan malam ini adalah rencana paling akhir, tetapi karena aku perlu memprioritaskan kamu, makanya ini menjadi rencana pertama yang harus aku lakukan. Jadi, apakah kamu menyukainya?"
Tentu saja Sarah sangat menyukai kejutan seperti ini. Ditambah lagi dia akan pergi ke bar. Dia ingin menikmati suasana bar yang selama ini tidak pernah disentuhnya sama sekali.
Saat berniat masuk, Sarah justru mendapati Brenda baru saja keluar dari sana. Bukannya tahu dari jarak jauh, tetapi keduanya berpapasan.
"Brenda?" panggil Sarah.
"Oh, rupanya Anda. Aku bingung mau panggil Nona Sarah atau Nyonya Catherine?" tanya Brenda.
"Terserah kamu, Brenda. Lagi pula, kami adalah orang yang sama. Oh, ya, kenapa kamu ada di sini?" tanya Sarah.
Edward sudah memilih masuk lebih dulu. Sementara Sarah, dia memang ingin berbincang dengan Brenda selagi mereka bertemu.
"Aku baru saja bertemu teman. Kenapa? Justru Andalah yang terlihat aneh. Tidak biasa datang ke bar kalau bukan dengan Tuan Edward. Aku benar, bukan?"
"Ya, Brenda, kamu benar! Calon suamiku itu ingin memperkenalkan aku dunia luar yang sama sekali tidak pernah diperkenalkan oleh mantan suamiku. Bicara soal mantan, kupikir Anda sudah tahu kabar terbarunya."
Brenda mengerutkan keningnya. "Kurasa tidak perlu membahas pria itu. Hubungan kami sudah berakhir. Aku sama sepertimu, Sarah. Aku akan melepaskan pria miskin seperti Daniel untuk mengejar pria kaya lainnya."
"Wow, sayang sekali! Kupikir Anda tulus mencintai mantan suamiku. Sayang sekali, nasibnya memang harus berakhir tragis."
"Apa maksudmu? Kamu sengaja menyindirku?" Nada bicara Brenda meninggi.
"Tidak, bukan begitu. Daniel kecelakaan. Kupikir kamu tahu kabar itu?"
Brenda sudah tidak berhubungan dengan Daniel ataupun keluarganya. Jadi, kalaupun pria itu mengalami hal buruk, dia sudah tidak peduli lagi. Tidak ada yang bisa diharapkan dari pria yang sudah tidak memiliki apa pun itu.
"Aku tidak peduli, Sarah. Kami sudah tidak asa hubungannya lagi. Jadi, tolong jangan sangkut pautkan aku dengannya."
"Ya, baiklah." Sarah menepuk pundak Brenda. "Kalau begitu, aku masuk dulu. Kurasa Edward sudah menungguku terlalu lama."
__ADS_1
Brenda cemburu pada Sarah. Dia selalu mendapatkan pria yang luar biasa. Setelah Daniel, Edward malah meratukan Sarah. Terlihat dari perhatian, penampilan Sarah, dan segalanya yang berhubungan dengan Edward selalu terlihat sempurna di mata setiap orang.
"Tunggu, Sarah!" panggil Brenda.