CROMULENT

CROMULENT
Bab 29. Edward Vs Daniel


__ADS_3

Pembalasan tetaplah harus dilakukan. Sebenarnya Edward hanya membuat Sarah meyakinkan tujuan awal untuk mengubah takdirnya seperti sekarang. Ingatannya tentang luka-luka yang dialami demi mendapatkan wajah yang paripurna, tentu tidak akan sebanding kalau belum melihat Daniel menderita.


"Pergilah dan ambil rumah itu!" perintah Edward.


Pagi ini urusan Edward adalah di kantornya sendiri. Sementara kantor ex milik Daniel sudah diserahkan kepada orang kepercayaannya. Tentu saja di luar perusahaan itu agar tidak ada yang bertindak curang.


Sarah sedang bersiap. Dia mengenakan pakaian yang mahal seperti seorang ratu dari sebuah kerajaan besar. Terlihat cantik dan sangat anggun.


"Terima kasih, Edward. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Chaterine. Jangan pernah lepaskan buruan saat sudah dalam genggaman. Perusahaanku aman karena tidak terlibat tindakan buruk seperti yang mereka tuduhkan. Butuh pembuktian dan aku sudah melakukannya. Kamu jangan khawatir!" jelas Edward.


Kali ini Sarah jauh lebih agresif. Dia memberikan kecupan manis pada bibir Edward lalu disambut dengan pelukan yang cukup mesra.


"Selesaikan dengan cepat! Setelah itu, kita akan menikah," sambung Edward.


Kali ini Sarah pergi ditemani beberapa bodyguard dan sopir pribadinya. Lalu, Edward juga menugaskan beberapa orang agar mempermudah pengambilan rumah yang sudah diambil paksa oleh Sarah.


Rombongan mobil Sarah telah memasuki area halaman rumah Daniel. Tidak ada penjagaan karena semua karyawan di rumah itu sudah mengundurkan diri.


Sarah harus berdiri di tengah-tengah para bodyguard. Demi keamanan wanita itu. Salah satu bodyguard tersebut yang menekan bel.


Cukup lama pintu baru dibuka. Tampak wajah Helena yang sedikit terlihat pucat dan terkejut dengan kedatangan Sarah.


"Mengapa kamu ke sini?" tanya Helena dengan nada suara yang menyebalkan.


"Aku akan mengambil hakku," jawab Sarah.


"Hak yang mana? Rumah ini yang kamu ambil paksa dari Daniel? Kamu jahat sekali, Sarah!" maki Helena.


Hening sesaat. Sarah merasa ada sesuatu yang berbeda. Daniel tidak tampak di sana. Ke mana perginya pria itu? Sungguh sesuatu yang membingungkan.


"Jauh lebih jahat mana antara putramu atau aku? Oh, ya, mengapa tidak kamu persilakan aku untuk masuk?"


"Daniel tidak ada di rumah."


"Aku tidak peduli!" Sarah menerobos masuk diikuti beberapa bodyguard.

__ADS_1


Kali ini, Sarah dan Helena berhadapan. Beberapa bodyguard di samping Sarah tampak sedang berjaga-jaga.


"Aku akan melaporkanmu pada polisi!" Ancaman ini spontan keluar dari mulut Helena.


"Silakan saja, Nyonya Helena. Oh, ya, tolong keluarkan barang-barang yang bukan milikku dari rumah ini!" perintah Sarah.


Para bodyguard segera bergerak mengeluarkan barang-barang. Walaupun mereka meletakkannya dengan sangat hati-hati, hal itu tetap saja membuat Helena histeris.


"Cukup, Sarah! Kamu boleh ambil perusahaan, tetapi tolong jangan ambil rumah ini!" ujar Helena mengiba.


Sarah seperti memberikan kode agar semua bodyguard yang bergerak mengeluarkan barang-barang itu berhenti. Benar saja hanya dengan telunjuk jarinya saja, dia bisa menguasai keadaan.


"Kalau begitu, kembalikan rumah orang tuaku seperti semula! Apa Anda bisa?" tanya Sarah.


Jelas saja itu sesuatu yang sulit. Setelah rumah itu dijual, pemilik baru merenovasi rumah itu sehingga berubah total.


Helena terdiam. Dia tidak mampu mengatakan pembelaan apa pun. Namun, dia berharap kalau Daniel pulang dengan cepat.


Ya, hari ini Daniel pergi ke rumah sakit bersama Brenda. Selain mengambil laporan kesehatan Helena, dia juga memeriksakan kondisi kesehatannya bersama Brenda.


Setelah para bodyguard itu berhenti, Sarah melanjutkan perintahnya untuk membereskan sampai semuanya bersih. Hanya menyisakan sesuatu yang dibutuhkan saja.


"Kuharap Nyonya Helena dan putranya mengingat semua kejadian di masa lalu. Setidaknya cara mengelabui menantunya yang polos!" tegas Sarah sebelum menggunakan kembali kacamata hitamnya lalu masuk ke dalam mobil.


Barang-barang milik Helena berada di luar. Dia duduk menunggu kedatangan Daniel. Jelas ini akan sulit karena Sarah mengambil seluruh kuncinya.


"Dasar brengsek!" seru Helena karena kesal.


Setelah menunggu beberapa lama, Daniel datang bersama Brenda. Mereka melihat rumah tampak berantakan karena perabotannya berada di luar.


"Ada apa ini, Mam?" tanya Daniel.


"Sarah datang lalu mengeluarkan semua barang-barang ini."


"Oh my God. Dia benar-benar kurang ajar! Aku akan datang ke mansionnya!" Daniel sangat berapi-api.


"Daniel, tenangkan dirimu dulu! Pikirkan ke mana kita akan membawa barang sebanyak ini? Apartemenku tidak akan mampu menampungnya," jelas Brenda.

__ADS_1


"Biarkan saja di sini. Sementara bawa mamaku ke apartemenmu dulu. Sampai aku menemukan tempat tinggal yang baru. Aku akan pergi sekarang."


Daniel kembali ke mobil. Dia mengendarai dengan kecepatan penuh. Sampai di depan gerbang mansion Edward, dia membunyikan klakson dengan kencang sehingga membuat suasana bising sekali.


"Di mana Edward?" teriak Daniel.


"Maaf, Tuan Edward sedang tidak bisa diganggu," jawab penjaga.


Namun, Daniel ingin menabrakkan mobilnya ke arah pintu gerbang sehingga para penjaga segera membukanya.


Daniel turun dari mobil lalu berjalan begitu cepat sampai ke ruang tamu mansion itu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Edward dan Sarah.


"Edward! Sarah! Keluar!" Suara teriakan itu membuat para maid takut untuk mendekat.


Saat ini Edward berada di kamarnya. Sementara Sarah belum kembali. Mendengar suara itu, Edward segera turun.


"Mengapa Anda berteriak seperti itu di rumah orang?" tanya Edward pelan. Dia menuruni beberapa anak tangga sampai berhadapan dengan Daniel.


"Di mana wanita murahan itu?" tanya Daniel sarkas.


Edward tersenyum. "Dia tidak murahan. Justru dia menjaga dirinya dengan baik. Anda pasti tidak akan percaya itu. Oh, ya, bicara soal Sarah, dia belum pulang. Tunggu saja sebentar lagi!"


"Omong kosong! Tidak mungkin Anda memberikan segala kemewahan ini tanpa imbalan apa pun."


Jelas saja semua tidak ada yang gratis di muka bumi ini. Terutama masalah yang sangat serius. Mengenai Sarah, tentunya Edward merogoh kocek yang luar biasa. Maka dari itu, Daniel bisa menyimpulkan kalau Sarah dan Edward sudah terlibat hubungan sejauh dirinya dengan Brenda.


"Oh, mungkin saja Anda sudah mencicipi tubuh wanita tidak sempurna itu?" lanjut Daniel terus mengolok-olok mantan istrinya.


Tanpa sepengetahuan Daniel, Sarah memang baru saja masuk. Wanita itu pergi ke pengacara Edward untuk menyerahkan kunci rumah yang menjadi barang sitaannya.


"Kurasa pikiran Anda terlalu picik, Tuan Daniel!" seru Sarah.


Daniel menoleh. "Wow, pasangan kekasih yang berbohong atas nama kakak beradik!"


"Kami tidak berbohong. Kenyataannya Sarah Victoria adalah adik Edward Harrison. Namun, Catherine Eleanor adalah mantan istrimu yang pernah disia-siakan. Kalau Anda lupa, akan kuingatkan kembali."


"Kau!" Daniel mengangkat tangannya berniat untuk menampar Sarah, tetapi tangan Edward keburu menangkapnya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu caranya, Tuan. Anda akan menyakitinya lebih dalam lagi," tegur Edward.


__ADS_2