
Daniel agak sedikit terkejut, tetapi dia mencoba tetap tenang. Hubungan yang terjalin antara Sarah dan Edward adalah hubungan saudara. Daniel hampir saja cemburu, tetapi setelah menyadari bahwa Sarah akan hidup bersama seumur hidupnya, dia pun segera memupus rasa itu.
"Ah, aku terlalu berlebihan. Sebentar lagi Sarah akan menjadi milikku. Edward hanya menunjukkan perhatiannya pada Sarah. Mengapa aku harus cemburu? Mungkin itu caranya menunjukkan kasih sayangnya," batin Daniel.
Sebenarnya yang terjadi adalah Daniel sekilas melihat Edward memeluk Sarah, bahkan lebih terlihat seperti sepasang kekasih daripada kakak beradik. Daniel segera menepis rasa itu. Kurang banyak bukti apa yang mereka tunjukkan?
Perkenalan perdana Sarah Victoria sebagai adik dari Edward Harrison yang telah hilang beberapa tahun lalu. Setelah itu, ditemukan dan kembali pada kakaknya. Jelas saja Edward sangat bahagia setelah pencarian yang cukup panjang.
Lalu, bukti bahwa Edward mengikhlaskan hubungan Sarah dan Daniel. Sebentar lagi mereka bertunangan. Bukti perjanjian pranikah yang sangat menguntungkan bagi Daniel dan Sarah. Lalu, apalagi sekarang? Masih kurang yakin bahwa mereka adalah kakak beradik?
Bukti nyata yang terlihat sangat jelas adalah wajah Edward dan Sarah memiliki kemiripan. Mungkin dulu orang tua mereka merasa memiliki anak kembar.
"Daniel?" Edward menepuk pundak pria itu.
"Oh, Tuan Edward. Maaf, aku sedikit melamun. Mungkin karena beberapa pekerjaan kantor yang sengaja kutinggalkan hari ini."
"Panggil Edward saja. Kurasa kita seumuran," balas Edward mempertegas ucapannya.
"Ah, iya, Edward. Apakah semuanya sudah selesai?"
"Ya. Sarah sudah membawa gaunnya ke mobil. Kurasa kita perlu makan siang sebelum kamu kembali. Oh, ya, aku juga sudah menjemput Nyonya Helena. Dia kuminta datang ke restoran X. Aku sudah reservasi tempat di sana."
Nah, masih kurang apalagi? Edward memperhatikan orang tuanya juga. Andaikan Daniel bertemu lebih awal dengan Sarah. Rasanya ingin mengulang kejadian seperti ini.
Edward dan Daniel berjalan beriringan menuju ke mobil. Ternyata Sarah sudah duduk di dekat sopir. Sementara itu, Daniel dan Edward terpaksa duduk di belakang. Mobil Daniel sengaja ditinggalkan di kantor Edward dan pria itu sudah berjanji akan mengantarnya ke rumah melalui orang suruhannya.
Helena yang sudah sampai malah celingukan menunggu kedatangan Edward dan juga Daniel, putranya. Undangan makan siang mendadak, tetapi tidak bisa ditolak. Apalagi kalau bukan ajakan dari Edward. Helena sudah dipersilakan masuk ke ruangan VVIP yang sudah direservasi beberapa jam lalu.
Mendengar suara langkah kaki, Helena semakin yakin kalau itu mereka. Benar saja, mereka langsung masuk. Sarah sempat memberikan salam singkat pada Helena. Seperti yang dilakukan dulu saat orang tuanya menjodohkan dengan Daniel, tetapi dengan cara yang sedikit berbeda.
__ADS_1
"Maaf, Tante menunggu agak lama, ya? Kakakku harus menyelesaikan pembayaran gaun pertunangan kami," ucap Sarah.
Sebenarnya bukan hanya Sarah dan Daniel saja yang fitting baju, tetapi juga Edward. Dia ikut-ikutan hanya untuk mencocokkan gaun kedua pilihan Sarah.
"Iya, Nyonya. Kami minta maaf," sahut Edward.
"Tidak masalah. Aku juga baru saja sampai. Bagaimana, Daniel? Apakah sudah mendapatkan bajunya?" tanya Helena.
Daniel mengangguk. Dia menarik satu kursi agar Sarah duduk. Itu sudah dilakukan berulang kali karena rasa cintanya pada Sarah.
"Ya, Mam. Semuanya sudah beres. Kami juga sudah mampir ke toko perhiasan," jelas Daniel.
Selagi mereka mengobrol, beberapa makanan mulai disuguhkan. Tentunya makanan yang dominan disukai Helena dan Daniel.
"Makanan ini kesukaan kami berdua. Tuan Edward tahu dari mana?" Selidik Helena.
Sebenarnya yang terjadi adalah Sarah sudah tahu dan sengaja memberikan makanan kesukaan mereka. Setidaknya agar mereka tersanjung dengan usaha Sarah. Apalagi yang tidak Sarah hafal selama lima tahun hidup bersama mereka?
"Ah, Sarah, kamu memang menantu idaman," puji Helena.
"Terima kasih, Tante. Sebaiknya kita makan dulu. Kurasa ada yang lupa belum kalian urus. Undangan pertunangan dari pihak kalian. Oh, ya, jangan lupa undang Brenda juga. Aku takut dia salah paham padaku. Aku dan Daniel ... kami menjalin hubungan setelah mereka putus. Benarkan, Daniel?" tanya Sarah.
Kali ini giliran Edward yang terlihat cemburu. Sepertinya Sarah sengaja melakukan itu untuk menambah rasa cemburu Edward semakin meningkat.
"Awas saja kamu, Sarah! Sampai di mansion, aku tidak akan mengampunimu!" batin Edward.
"Nah, iya, benar. Brenda harus tahu. Nanti mama akan buat list undangannya. Bagaimana, Daniel?"
"Ya, Mam. Aku akan mengirimkan ke email Tuan, maksudku ke Edward." Membiasakan memanggil nama, terasa sedikit sulit. Mungkin setelah Daniel bertunangan, mereka akan lebih sering bertemu.
__ADS_1
"Tentu. Aku menunggunya." Edward selalu memberikan privilese pada Daniel.
Mata Sarah sesekali melirik ke arah Edward. Pria itu terlihat tenang dan berwibawa. Padahal di hadapannya saat ini ada Helena dan Daniel. Tetap saja tenang seperti tidak terjadi sesuatu.
Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Sarah, tangan Edward menggenggam satu tangan Sarah yang terdekat. Sarah agak terkejut, tetapi kemudian menikmatinya.
"Oh, ya, Daniel. Setelah ini kami langsung pulang. Kalian mau diantar atau bagaimana? Semua persiapan pertunangan hampir selesai. Sarah sudah membantuku dan aku hanya tinggal menunggu list tamu undangan dari kalian saja. Apakah ada sesuatu yang diperlukan?" tanya Edward masih menggenggam erat tangan Sarah.
"Kurasa tidak ada lagi. Iya, kan, Mam?" Daniel berusaha meminta persetujuan Helena.
"Ehm, apakah akan ada wartawan saat pertunangan itu berlangsung?" Ya, Helena mulai gila popularitas. Makanya dia memberanikan diri menanyakan itu.
Edward melirik Sarah. Sepertinya Sarah tahu apa yang harus dilakukan. Membalas perlakuan Helena dengan lembut dan menyakitkan.
"Tentu, Tante. Mungkin Tante agak lupa mengenai siapa kakakku. Tuan Edward Harrison, pengusaha kaya dan sukses. Beberapa kali Tante dan aku mendapatkan pelayanan istimewa, bukan? Tentunya akan banyak wartawan dan dari berbagai media yang akan meliput pertunangan kami," jelas Sarah. Kami yang dimaksud Sarah adalah pertunangan Edward dan Catherine.
"Wow, terima kasih penjelasannya, Sarah! Aku sudah tidak sabar menantikan hari itu. Semoga pertunangannya lancar dan tidak ada kendala apa pun. Daniel, ayo, kita pulang!"
Edward secepatnya melepaskan genggaman tangan itu. Dia berdiri untuk berjabat tangan sebentar sebagai wujud menghormat pada calon besannya.
"Terima kasih. Nyonya sudah menyempatkan datang kemari walaupun dengan undangan mendadak. Oh, ya, jangan lupa kirim daftar undangannya, Daniel!" pesan Edward.
"Iya, Edward. Sarah, kami pulang dulu," pamit Daniel.
"Ya, hati-hati di jalan!"
Sarah dan Edward kembali duduk. Keduanya berpandangan sejenak lalu tertawa bersama. Harinya cukup melelahkan. Melakukan drama sampai hari H pertunangan itu terjadi.
"Kurasa kita adalah sutradara yang handal!" ucap Sarah.
__ADS_1