CROMULENT

CROMULENT
Bab 39. Kebahagiaan Sarah


__ADS_3

Sebulan berlalu begitu cepat. Keberadaan Daniel dan orang tuanya entah hilang ke mana. Pria itu menepati janji untuk tidak menemui Sarah atau meminta lagi perusahaan yang sudah dimiliki mantan istrinya.


"Sayang, apakah kau masih kesal pada Daniel?" tanya Sarah ketika menyiapkan sarapan pagi di ruang makan.


Sebagai ibu rumah tangga, dia juga harus memedulikan Edward. Urusan perusahaan sudah diberikan kepada orang kepercayaan Edward atas permintaan Sarah. Dia ingin fokus mengurus Edward sebagai seorang istri yang patuh. Dia pun masih mengharapkan ucapan Daniel ketika terakhir kali mereka bertemu.


"Tidak juga. Kurasa dia memang pria yang bisa dipegang ucapannya."


"Ck, itu ketika dia sudah menjadi pria yang tidak mempunyai apa pun! Ketika berkuasa, dia merupakan pria yang sombong dan menyebalkan!" Bagaimanapun luka itu tidak akan sembuh dengan sendirinya. Butuh waktu sampai benar-benar bisa melupakan.


"Aku minta maaf sudah membuatmu kesal di pagi hari, Sayang. Jadi, apakah kau mau menemaniku ke kantor hari ini?"


Sarah menggeleng. Akhir-akhir ini tubuhnya terasa sangat aneh, padahal dia sudah tidak lagi bekerja di kantor. Dia merasa sering lelah tanpa sebab. Urusan dapur dan memasak pun masih jadi pekerjaan koki di mansion suaminya. Dia hanya menata makanan di meja makan dan sesekali menambahkan makanan kesukaan Edward.


"Aku sangat lelah dan ingin beristirahat seharian, Edward. Aku minta maaf."


"Apakah kau sakit?"


Sarah menggeleng. Usai meletakkan secangkir kopi di meja makan, Sarah sama sekali tidak berselera untuk menikmati makanan itu sendiri.


"Sayang, kau tidak makan?"


"Aku tidak berselera, Sayang. Kupikir aku memang benar-benar sakit. Lidahku pahit untuk menelan sesuatu."


"Lebih baik kita pergi ke rumah sakit sekarang. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, Sarah. Percayalah! Hari ini aku akan punya banyak waktu untukmu."


Edward segera menyelesaikan sarapan paginya dengan cepat. Dia harus segera mengantar Sarah ke rumah sakit. Setidaknya Edward segera tahu penyakit apa yang diderita oleh istrinya.


Sepanjang jalan, Sarah merasa takut. Dia takut kalau dokter akan mendiagnosis bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Terlebih hal itu disebabkan Sarah yang tidak berselera untuk makan.


"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


Edward menoleh sejenak. "Katakan!"

__ADS_1


"Kalau misalnya aku memiliki penyakit berbahaya lalu aku meninggal, apakah kau akan menikah lagi?"


Edward terdiam sejenak. Pertanyaan Sarah dianggap omong kosong baginya. Selama ini Edward sudah bersabar menunggu sampai mendapatkan wanita yang amat sangat dicintainya.


"Kau bicara omong kosong, Sayang! Aku yakin kalau kau baik-baik saja. Kalaupun kau mati, kau pikir aku mudah menggantimu dengan wanita lain, hah? Aku sudah bertahun-tahun menunggumu kembali sampai aku memilih untuk tidak menikah. Apakah masih kurang pembuktian yang kutunjukkan padamu? Kita juga sudah melewati kepahitan hidup dengan kehilangan wajah Catherine. Sekarang apalagi? Kau mau meninggalkanku dengan alasan konyolmu itu?"


Sarah menggeleng. Dia memang tidak tahu. Namun, setelah mendengarkan penuturan Edward. Pria itu benar-benar jatuh cinta padanya. Dia yang menjadi penopang hidup Sarah ketika dia jatuh dan tidak seorang pun peduli.


Ketika berjalan menyusuri koridor rumah sakit, Sarah sangat gemetar. Dia seperti bersiap menunggu hukuman dengan menanti diagnosis dokter.


Setelah sampai di sana lalu melakukan serangkaian check up kesehatan, Sarah dan Edward menunggu dokter untuk memberikan jawaban atas apa yang dia pikirkan sebelumnya.


"Aku gemetar, Sayang!" ujar Sarah pelan.


Edward menggenggam tangan wanita itu dengan penuh percaya diri. Kebersamaan mereka tidak akan membuat Sarah putus asa untuk yang kedua kalinya. Edward adalah napas Sarah, begitu juga sebaliknya. Andaikan dokter memvonis Sarah memiliki penyakit yang berbahaya, Edward akan mencarikan pengobatan yang terbaik demi kesembuhan sang istri.


"Kita bersama, Sayang. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu atau meninggalkanmu."


Perbincangan itu terhenti ketika dokter membawa hasil tes kesehatan Sarah. Suasana ruangan itu mendadak hening sampai suara dokter memecah keheningan itu.


"Dokter, istriku gugup pada hasil akhirnya." Edward tersenyum.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nyonya. Hasilnya bagus dan tidak ada penyakit yang berbahaya."


Sarah dan Edward bernapas lega.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Dokter? Kalau aku tidak sakit, lalu apa?" tanya Sarah.


"Anda hamil, Nyonya!"


Seketika membuat Sarah dan Edward membeku di hadapan dokter. Sarah teringat akan ucapan Daniel terakhir kali mereka bertemu. Rupanya benar bahwa dialah yang bermasalah, bukan Catherine.


"Sayang!" Edward semakin menggenggam tangan sang istri.

__ADS_1


"Benarkah, Dokter?" Sarah sempat tidak percaya.


"Tentu saja. Mari kita lakukan USG!"


Perawat memindahkan Sarah ke ruangan lain. Di sanalah tes itu berlangsung. Dokter mengatakan bahwa kandungannya sudah berusia sekitar tujuh minggu. Rasanya masih seperti mimpi.


Setelah yakin bahwa Sarah benar-benar hamil, Edward segera membawa wanita itu ke suatu tempat dan menghadiahi kecupan yang tiada henti.


"Sayang, aku tidak menyangka bahwa kau akan melahirkan penerus untuk keluargaku! Aku sangat bahagia!" ucap Edward.


Sarah berkaca-kaca. "Aku pikir Daniel bercanda, Sayang."


"Maksudmu? Apakah kau masih berhubungan dengan Daniel?" Tentu saja Edward cemburu.


"Tidak, Sayang. Apakah kau ingat terakhir kali makan siang bersama? Sebelum itu, Daniel sempat mengatakan padaku bahwa dialah yang bermasalah. Aku sempat ragu dan takut untuk membuktikan semua itu. Aku takut mengecewakanmu, Sayang. Makanya aku tetap diam sampai aku benar-benar menunjukkan bukti bahwa ucapan Daniel bukanlah bualan semata."


Edward mendengar dengan seksama. Tentu saja Sarah memiliki ketakutan khusus akan hal itu. Hinaan mantan mertua pasti selalu membayangi kehidupannya.


"Aku sempat cemburu, Sayang. Aku tidak menyangka kalau Daniel mau jujur padamu."


"Maafkan aku sempat membuat kalian ribut. Aku hanya takut kalau kekecewaan akan kudapatkan berulang kali."


Edward berulang kali mengecup punggung tangan sang istri. Dia sangat bahagia bahwa keyakinannya selama ini benar. Dia yakin kalau Sarah bisa memberikan keturunan untuknya.


"Tidak masalah, Sayang. Jaga kandunganmu dengan baik. Kita selalu bersama sampai kapan pun."


"Sayang, terima kasih karena kau selalu menerimaku dengan sepenuh hati. Aku sangat bahagia memilikimu dan calon anak kita. Aku merasa kesakitanku di masa lalu terbayar dengan kebahagiaan yang luar biasa ini."


Sarah menangis haru di pelukan Edward. Pria itu sangat lembut, selalu memperlakukan Sarah begitu baik, dan perhatian serta kasih sayangnya begitu luar biasa.


"Hei, jangan menangis!" Edward mengusap air mata Sarah yang menganak sungai di pipinya.


"Ini bukan tangis kesedihan, Sayang. Aku bahagia hidup bersamamu. Semoga kau selalu mencintaiku hingga akhir hayat. Aku mencintaimu, Edward!"

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Catherine! Sampai kapan pun kita akan selalu bersama."


...*TAMAT*...


__ADS_2