
Tidak ada hak untuk melarang, tetapi sebenarnya Sarah cemburu. Ini baru pertama kalinya Edward mengatakan ingin pergi ke klub malam dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat.
"Edward, kamu marah padaku?"
"Tidak, Sarah. Aku hanya ingin menenangkan diri. Lagi pula, urusan kita sebentar lagi selesai. Kamu jangan khawatir."
"Edward, tapi aku tidak suka kalau kamu sampai mabuk."
Bukan karena tidak menyukainya, tetapi selama ini Sarah belum pernah masuk ke tempat seperti itu. Pengalamannya saat menikah dengan Daniel dulu, pria itu pulang dalam kondisi mabuk. Ada bekas lipstik merah di kerah bajunya. Tentu saja itu bukan sebuah kebetulan. Setelah itu, kabar perselingkuhan suaminya merebak ke permukaan.
Bersamaan dengan itu, pemecatan sekretaris pribadinya secara sepihak. Catherine benar-benar tidak tahu bahwa ternyata itu adalah trik Daniel untuk menutupi skandal mereka dari semua orang, termasuk istrinya.
"Pergilah kalau memang kamu ingin. Aku ingin beristirahat!"
Sarah tidak lagi melihat wajah Edward. Dia segera meninggalkan kolam renang, mengambil bathrobe, masuk ke kamar mandi lalu membersihkan diri.
Sesak rasanya mendapatkan penolakan seperti itu. Dia cemburu, tetapi Edward seakan tidak peduli. Sarah masuk ke kamar mandi, bukan untuk merilekskan pikirannya. Dia malah menyalakan shower dan duduk berlama-lama di sana. Air matanya tumpah.
Kilatan kepedihan di masa lalu seolah membayangi begitu saja. Bagaimana Daniel pulang dalam kondisi mabuk, tetapi bayangan itu bukan Daniel, melainkan Edward.
Hatinya belum siap kalau harus menerima kenyataan sepahit itu. Selama ini dia sudah menggantungkan hidupnya kepada Edward. Seluruh hidup dan janji cintanya.
Edward menyesal, tetapi dia tidak bisa meninggalkan koleganya begitu saja. Dia kembali ke kamar lalu mengganti pakaiannya. Dia pergi tanpa pamit lagi dengan Sarah.
"Maafkan aku, Sarah. Aku akan menjauh dulu selama beberapa hari ini. Aku juga harus menyiapkan kejutan untuk Daniel nantinya. Beristirahatlah!" ucap Edward, tetapi dia hanya berada di depan pintu kamar Sarah.
Akibat terlalu lama berada di bawah guyuran shower, Sarah merasakan perbedaan pada dirinya. Gara-gara Edward, dia rela menyakiti dirinya sendiri. Sekarang dia menggigil, bahkan selimut yang digunakan saat ini tidak mampu meredam tubuhnya.
Sarah meringkuk di dalam selimut, tidak memakan apa pun, dan menutup matanya. Mulutnya terus saja mendesis. Kali ini dia sendirian tanpa Edward.
Edward pulang larut malam. Dia mampir sebentar ke meja makan untuk melihat makanan yang mungkin tersisa di sana. Dua piring yang disiapkan tidak tersentuh sama sekali. Ya, Edward lupa mengatakan kalau dia tidak akan makan di mansion. Namun, melihat piring sebelahnya masih belum tersentuh membuatnya curiga.
Dia memanggil salah satu maid yang kebetulan ditemuinya di dapur. Maid itu terkejut dan menunduk untuk memberikan hormat.
__ADS_1
"Selamat malam, Tuan!"
"Sarah tidak makan?"
"Salah satu maid sudah mengetuk kamarnya berulang kali, tidak ada respon, Tuan. Kami mengira kalau Nona Sarah ikut pergi dengan Anda."
Panik. Satu kata itu yang mewakili keseluruhan jawaban maid tersebut. Tanpa memedulikan lagi maid tersebut, Edward segera berlari menaiki beberapa anak tangga yang jumlahnya lebih dari dua puluhan itu.
Tanpa mengetuk pintu, Edward memutar handelnya lalu masuk ke sana. Lampu kamar yang begitu terang menunjukkan dengan jelas bahwa Sarah sedang meringkuk di dalam selimut dengan menampakkan wajahnya.
"Sarah!" Edward memekik.
Dia segera mendekati lalu memegangi kening Sarah. Hanya untuk mengecek kondisi tubuhnya yang ternyata menggigil itu.
"Sarah, kamu kedinginan, Sayang. Bagaimana ini terjadi? Tolong jangan buat aku takut!"
Edward berlari ke kamar mandi. Dia harus membuat tubuh Sarah kembali hangat. Dinyalakan kran air hangat yang mengisi bathub itu hampir setengahnya. Sebelum benar-benar terisi, Edward kembali lagi ke kamar untuk membopong Sarah lalu dibawa ke kamar mandi.
Edward masuk terlebih dahulu ke bathub dengan posisi membopong Sarah. Walaupun agak kesulitan, tetapi dia tetap mencobanya. Setelah keduanya berada di dalam bathtub, Edward menurunkan Sarah. Lalu, dia memutar posisi Sarah untuk membelakanginya. Setelah itu, perlahan-lahan Edward membawa Sarah untuk berendam di dalam air hangat tersebut.
"Aku baik."
"Jangan bohong! Kamu tidak biasa seperti ini. Kurasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Ceritakan saja! Oh, atau setelah kondisimu membaik, aku akan meminta maid mengantarkan makanan ke kamarmu. Bagaimana?"
"Aku tidak lapar!" tolak Sarah pelan.
Percuma juga berdebat dengan Sarah. Edward membiarkan suasana kembali tenang. Setelah tubuh Sarah kembali hangat, dia akan membawa wanitanya ke ruang ganti.
"Kurasa kamu sudah membaik. Aku akan membawamu keluar sekarang."
"Boleh aku bertanya padamu?"
"Katakan saja!"
__ADS_1
"Kenapa kamu menghindariku? Apakah kamu tidak menginginkan aku?" Sarah merasa penolakan Edward sore tadi membuatnya memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya.
"Bukannya tidak menginginkamu, Sarah. Aku mencintaimu selama ini. Aku hanya tidak ingin melakukannya sebelum kita menikah. Cukup dengan situasi seperti ini saja aku bahagia ... maksudku, bukan bahagia karena kamu sakit. Namun, aku bahagia selalu ada di dekatmu."
"Benarkah? Lalu, selama 10 tahun terakhir ini kamu bersama siapa?"
Edward merasa kalau Sarah sudah mulai cemburu berlebihan. Dia hanya pergi ke klub malam menemui beberapa kolega. Dia juga tidak mabuk karena berjanji pada dirinya sendiri demi Catherine.
"Sendiri, sebelum akhirnya kamu kembali. Sudahlah, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Mungkin kamu masih trauma dengan kelakuan Daniel, tetapi aku bukan pria seperti itu."
Sarah menarik satu tangan Edward. Dia menggenggamnya dengan kedua tangannya. Kondisinya sudah membaik.
"Terima kasih, Edward. Aku akan mengganti pakaianku."
"Ya. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu."
Setelah Sarah pergi, Edward menyusulnya. Namun, bukan ke ruang ganti. Dia pergi ke kamar mandi sebelah untuk mengguyur tubuhnya. Dia melepaskan seluruh pakaiannya lalu mengambil bathrobe tergantung di sana.
Buru-buru dia pergi ke kamar untuk mengganti baju. Dia turun ke dapur untuk membuat satu mangkuk sup dan susu coklat panas.
"Rasanya agak aneh karena aku hampir tidak pernah masuk dapur!" gerutu Edward. Bukan karena dia malas untuk melayani Sarah, tetapi usahanya yang tidak maksimal sangat memalukan.
"Biar aku saja, Kak. Sedang membuat apa?" tanya Sarah yang rupanya sudah muncul di belakangnya.
"Sup ... ah, lupakan saja! Lebih baik kamu makan yang lainnya saja. Toh ini adalah masakan yang gagal."
"Sup udang? Wow, ini luar biasa! Aku akan mencobanya." Sarah mencicipi dulu kuah sup itu. Merasa ada yang kurang, dia menambahkan sedikit bumbu supaya rasanya enak dan pas. "Kakak mau?"
"Ambilkan sedikit saja untukku!"
Sarah menyiapkan sup di mangkuk kecil lalu mengambil segelas susu coklat panas yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Aku minum dulu." Sarah mengangkat susu coklat yang tidak terlalu panas itu.
__ADS_1
"Semoga rasanya tidak mengecewakan. Oh, ya, bagaimana kabar Daniel?" tanya Edward.