
Sarah hanya berpura-pura takjub melihat seisi rumah itu. Rumah yang pernah ditinggalkan beberapa tahun yang lalu. Tidak banyak berubah, tetapi semua foto tentang dirinya tidak ada sama sekali.
Hanya foto Helena dan Daniel saja yang masih terpampang di sana. Itu pun merupakan foto baru setelah Catherine keluar dari rumah itu.
"Mam, akhirnya kamu keluar juga. Sarah, ini Mama Helena. Mam, ini Sarah."
Daniel terlihat bangga memperkenalkan wanita cantik itu. Begitu juga dengan Helena yang bertemu untuk pertama kalinya.
Setelah berjuang untuk mendapatkan Izin Edward yang tidak mudah, Daniel harus memastikan bahwa semuanya aman untuk Sarah. Dia juga sudah berjanji untuk mengantarkan Sarah sebelum jam 9 malam. Itu sudah peraturannya.
Masih 2 jam lagi sebelum Daniel membawa Sarah pergi. Selama itu pula, dia harus memanfaatkan pendekatan sebaik mungkin. Bila Daniel berhasil. Bila tidak, nasibnya akan tetap sama harus berjuang lebih keras lagi.
Sejujurnya kehadiran Sarah pada malam ini mampu menghapus sedikit nama Brenda dari lubuk hatinya. Bisa dikatakan bahwa Daniel memang sosok yang labil sekaligus serakah.
"Hai, Sarah. Aku Helena."
"Senang bertemu denganmu, Tante." Tentu saja panggilan itu yang tepat untuk mantan mama mertuanya yang tidak peduli itu.
"Aku juga senang sekali." Pandangan matanya tertuju pada wajah Sarah yang begitu berkilau. Agaknya definisi sempurna memang seperti itu. Bayangan nakal Helena lagi-lagi menghantui.
Dia menginginkan cucu dari Sarah dan Daniel. Terkesan agak memaksa, tetapi kelak akan diutarakan pada Daniel setelah Sarah pergi. Dia tidak mungkin berbicara jujur di hadapan Sarah kali ini.
"Ck, apa yang ada di dalam pikiranmu, Helena? Kamu pasti sedang memikirkan masa depan cerah untukmu dan Daniel, bukan? Oh, jangan bayangkan itu terlalu tinggi! Ketika kenyataannya tidak seperti ekspektasi, bisa kupastikan kalau kalian akan menjadi gila," batin Sarah memandangi Daniel kemudian berpindah ke Helena. Hanya beberapa detik saja karena Sarah tidak ingin mengingat wajah mereka.
Wajah yang penuh dengan tipu daya, penjahat berkedok suami dan mama mertua, serta pencuri ulung.
"Sarah, kenapa diam? Ayo, ikuti aku. Kita langsung ke meja makan saja. Mungkin kamu sudah lapar."
Manis sekali mulut Helena dalam pendengaran Sarah. Padahal saat terakhir kalinya di sini, mulutnya sangat pedas. Tidak peduli pada nasib Catherine. Dia bahkan mengatai mandul pada wanita menyedihkan itu.
Tunggu! Mengingat kata mandul, Edward sebenarnya sudah mengantisipasi untuk meminta Sarah melakukan check up sebelum mereka menikah. Sementara ini, hubungan mereka akan terlihat seperti kakak dan adik. Sampai pada tujuan Sarah tercapai. Barulah mereka akan mengumumkan pada semua orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Duduk melihat begitu banyak makanan enak. Seperti inilah saat Catherine memiliki segalanya dulu. Sampai pada kejadian naas itu menimpa kedua orang tuanya.
Sebuah kecelakaan tunggal menghabisi nyawa mereka sampai tidak tersisa. Sebagai anak tunggal yang rapuh, Catherine mengiyakan saja permintaan Helena dan Daniel. Dia bahkan tidak tahu harus meminta tolong pada siapa saat itu.
__ADS_1
"Daniel, apakah Sarah seperti itu kalau di mansionnya? Maksud mama, apakah lebih banyak diam?"
Mendengarnya dibicarakan, Sarah segera ambil sikap. Edward benar bahwa dia tidak boleh terlena dengan masa lalunya. Dia bukan Catherine Eleanor sekarang, tetapi Sarah Victoria.
"Oh, maaf, Tante. Aku terlalu mengagumi rumah ini. Interiornya benar-benar mengesankan. Beberapa makanan ini juga tampak menggoda sehingga membuat aku bingung harus mengambil yang mana dulu." Sarah tersenyum.
Helena menyodorkan beberapa jenis makanan. Lalu, dia pun menjelaskannya. Beberapa lagi, Sarah tampak tertarik dan meminta Helena untuk mengambilkannya.
"Terima kasih, Tante. Piring makanku sudah penuh. Kurasa ini cukup." Sarah menunjukkan piringnya dengan mengangkat sedikit saja.
Daniel adalah orang yang paling bahagia. Dia bisa mempertemukan Helena dengan Sarah. Tampaknya akan sangat mudah mendapatkan restu darinya, tetapi Daniel harus meminta izin dulu pada Edward.
Makan malam itu sangat luar biasa sekali. Interaksi yang terjadi antara Helena dan Sarah begitu natural. Helena juga berjanji akan mengajak Sarah pergi dan membelikan beberapa perhiasan untuknya sebagai hadiah.
"Aku senang bertemu Tante. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama."
"Tentu, Sarah. Tante akan membelikanmu beberapa hadiah. Kamu bisa memilihnya sendiri nanti."
"Terima kasih."
Namun, bukan itu tujuannya. Perlahan, tetapi pasti. Sarah harus membuat segalanya hancur tidak tersisa.
"Terima kasih," ucap Daniel.
"Untuk apa? Aku tidak memberikan apa pun padamu?"
"Sudah bisa memahami mamaku. Dia pasti sangat senang, Sarah."
"Aku juga."
Kalau boleh berteriak, rasanya Daniel terbang ke angkasa. Dia akan meneriakkan terima kasih Sarah dengan begitu lantang.
Tanggapan lembut Sarah semakin membuat Daniel menggila. Dia sama sekali mengabaikan Brenda, bahkan semua telepon dan pesan masuk darinya benar-benar diabaikan.
"Boleh aku bertanya?"
__ADS_1
Jika bukan untuk memisahkan Daniel dan Brenda, Sarah enggan sekali berbicara dengan pengecut seperti Daniel. Dia cuma bisa memanfaatkan orang lain tanpa memikirkan sebab akibatnya.
"Tentu."
"Sejauh apa hubunganmu dengan Brenda? Saat aku datang ke kantormu, aku merasa kalian begitu dekat. Itu ... membuatku sedikit cemburu."
Well, mungkin telinga Daniel agak sedikit mengalami masalah. Tidak mungkin pendengarannya itu menangkap lain maksud Sarah barusan. Apakah dia memiliki perasaan pada Daniel? Andaikan itu benar, rasanya Daniel ingin memeluknya lalu meminta Sarah pada Edward untuk dinikahi saat ini juga.
"Kami hanya bersenang-senang."
"Oh, ya? Tanpa komitmen? Maaf, sebenarnya pertanyaanku ini sudah pernah kamu dengar, tetapi aku tidak tahu saja. Mengapa aku ingin tahu tentang hubungan kalian?"
Daniel diam sejenak. Jemarinya seakan paham sehingga mengetuk-ngetuk beberapa kali pada setir mobilnya.
"Kami bisa kapan saja mengakhiri hubungan saat salah satu dari kami menemukan orang yang tepat."
Tidak salah lagi kalau pikiran Daniel saat ini tertuju pada Sarah. Ini momen langka dan perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Apakah kamu menyukai orang lain?"
Pertanyaan itu membuat Daniel menepikan mobilnya. Dia tidak mau irama jantung yang sejalan dengan pikirannya mendadak hilang kendali.
"Tentu. Apakah kamu mau tahu siapa orangnya?"
"Boleh kalau kamu ingin membaginya denganku."
Daniel terlihat menunduk sejenak. Dia mengambil napas panjang lalu menghembuskannya. Seperti terlihat ragu untuk mengatakannya, tetapi kemudian dia menoleh ke arah Sarah.
"Kamu."
Sarah menunjukkan ekspresi terkejutnya.
"Itu tidak mungkin, Daniel. Kita baru bertemu beberapa kali, tetapi kamu sudah memiliki perasaan. Jangan bercanda!"
"Cinta pada pandangan pertama itu mungkin, Sarah. Aku mengakuinya. Aku minta maaf kalau kamu merasa keberatan dengan ucapanku barusan. Kamu boleh menganggapnya tidak terjadi sesuatu."
__ADS_1